Coretan keramik

125 9 2
                                        

Nathalia Fernanda Zeidan biasa dipanggil Thalia merupakan gadis perempuan berbadan mungil namun berumur 16 tahun. Badan mungilnya kadang dibuat olok-olok teman-temannya saat SMP, tapi kadang dibuat gemas oleh teman berbadan besar.

Thalia tinggal bersama satu kakaknya, karena kakak pertamanya kuliah di Jepang. Kakak pertama itu bernama Natasya Frenanda Zeidan. Kakak keduanya Nathan Fernando Zeidan yang masih sekolah kelas XII.

Orang tua Thalia sibuk dengan urusan masing-masing. Kerja adalah hobi mereka. Thalia sempat mendapat kasih sayang saat umurnya 9 tahun. Walaupun sudah lama sifat manja Thalia terhadap keluarga nya belum luntur. Terlebih lagi dengan kakaknya.

Bip bip...bip bip...
Thalia langsung matikan alarm tersebut.

"Hoaaamm!!" Thalia menguap lebar. Tangan Thalia mencari kuncirannya lalu mengikat rambut hitam kecoklatannya. Kakinya berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah itu ia mengambi air wudhu untuk melakukan shalat Shubuh.

Setelah siap Thalia turun ke bawah untuk menyiapkan makanan. Menu nya selalu nasi goreng. Karena hanya itu yang Thalia bisa.

"Thalia, makan apa hari ini?" Tanya Nathan. "Nasi goreng spesial!" Jawab Thalia ceria. "Ini sama aja kayak kemaren." Ucap Nathan datar. "Iih si abang masih mending aku bisa masak nasi goreng, daripada telor mulu? Bisulan terus mau?!" Dumel Thalia. "Iya sayang iya, maaf ya." Ucap Nathan.

"Oh ya Bang hari ini ada acara gak?" Tanya Thalia. "Gak tau, emang kenapa?" Tanya Nathan balik.

"Kalo gak ada anterin aku ke toko buku ya." Jawab Thalia. "Subhanallah dek, keajaiban sekali kamu ke toko buku." Keget Nathan.

"Ya allah bang, segitunya banget dah." Runtuk Thalia. "Lagian tumben-tumbenan kamu ngajakin abang ke toko buku, mau beli buku apaan?" Tanya Nathan.

"Abang pasti seneng dah, pasti abang selalu di rumah." Jawab Thalia. "Apaan dah?" Tanya Nathan.

"Ntar juga tau." Jawab Thalia. "Yaudah yuk berangkat." Lanjutnya.

Di sekolah.
"Duluan ya bang!" Teriak Thalia berlari menuju temannya berjalan di depan.

"Woyy!" Sapa Thalia.

"Astaga! Ngagetin aja lu." Kagetnya.

"Hehehe, oh ya Han kemaren guru piket nyariin elu." Ucap Thalia.

"Guru piket? Bu Eti?! Mampus! Nilai ulangan Kimia gua berarti anjlok." Paniknya.

"Sabar ya Han." Ucap Thalia.

"Lagian lu mah pelit, gak ngasih tau gua. Temen macam apa lu?!" Kesalnya.

"Bukannya gak mau ngasih tau, tapi itu gak baik. Gua? Temen lu? Mang iya?" Balas Thalia.

"Iiih ngeselin banget si lu Thal!!" Gemasnya. Dia temannya Thalia namanya Jihan.

Saat melewati koridor kelas suara bising sudah terdengar dari dalam kelas Thalia. "Anjir tuh suara sampe tangga." Kaget Jihan. Padahal kelas Thalia paling ujung di X-6

"Waah gak bisa dibiarin nih, pasti Vino yang nyari gara-gara." Kesal Thalia.

Saat Thalia sudah membuka pintu kelas, semua mata tertuju pada nya. Kacau banget. Kursi guru dibuat main dorong-dorongan. Kipas gantung dekat ventilasi ditaro meja guru buat yang lagi tidur. Sapu sudah kemana-mana. Ada adegan cowok nganuin itu cowok. Anak cewek selfie dibalik gorden. Dan Vino bener-bener dia nyoret-nyoret semua keramik putih pakai spidol.

"Woi tutup kuping semua!!" Ucap salah satu temannya.

"KALIAN SEMUA!! BERDIRI DIDEPAN! CEPET!!" Teriak Thalia. Semua menurut berdiri di depan papan tulis.

ThaliaWhere stories live. Discover now