"Lihat apaan lu! Bukannya minta maaf malah masang wajah mesum seperti itu! Dasar gak sopan! Gak pernah liat cewek ya? Hah!" Dilema mempererat cengkeramannya dan menariknya lebih dekat.
Bebarapa waktu lalu aku masih bersantai membaca buku disamping...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
3 sisi
VARES
Pernahkah kau berfikir untuk mengucapkan sumpah serapah pada seseorang, meski orang yang kau sumpahi itu adalah seorang wanita. Bukan berarti aku tak menghargai seorang perempuan, hanya saja yang satu ini merupakan salah satu manusia yang membuatmu jatuh dari lantai dua kelantai satu dengan cara berguling lewat tangga.
Ditambah lagi aku menjadi landasan pendaratannya, aku sebenarnya bisa memafkannya jika saja dia langsung meminta maaf . . .
"Lu gak punya mata ya?!" seru gadis berambut panjang itu pada lelaki didepannya.
Sayangnya, dia malah menyalahkanku.
"HEH!" bentaknya sekali lagi padaku, kali ini ia berdiri menyingkir dari atas tubuhku. Kalau saja gadis mungil satu ini tak menggunakan kata-kata kasar mungkin ia akan lebih terlihat manis. Sambil mengacuhkan suara godzillanya aku mencoba berdiri, sedikit menggernyit pelan ketika merasakan rasa sakit menjalar ke pergelangan tangan kiriku.
"Kalau ditanya itu jawab! Nggak punya mulut apa?" kali ini gadis itu menarik kerah baju lawan bicaranya yang jangkung supaya sejajar dengannya.
Selain mulutnya yang kasar, tingkah lakunya pun tak jauh beda sampai-sampai aku bingung harus marah atau terkejut akibat respon yang tak terduga ini. Ditambah lagi dengan tinggi badanku gadis tersebut terlihat semakin mungil dan lucu.
"Lu itu udah nggak punya mata, gak punya mulut dan sekarang gak punya telinga, ya?" aku mendengus kesal sambil menatapnya jengkel bercampur geli mendengar kalimatnya. Bayangkan saja kalau aku tak memiliki ke tiga hal yang disebut gadis itu, pasti penampilanku membuatnya takkan mengeluarkan kalimat kasar seperti sekarang. Sekilas kulihat papan nama kecil yang disematkan pada bajunya, Dilema Sarasvati.
'Nama yang unik' pikirku sambil memiringkan kepala.
"Lihat apaan lu! Bukannya minta maaf malah masang wajah mesum seperti itu! Dasar gak sopan! Gak pernah liat cewek ya? Hah!" Dilema mempererat cengkeramannya dan menariknya lebih dekat, sekarang wajahnya denganku berjarak kurang dari sepuluh senti. Wajahnya terlihat jelas dengan jarak ini, gadis bernama Dilema itu sangat mungil dan cantik. Kesampingkan saja masalah dimana dia membuatku tiduran dilantai marmer perpustakaan, aku tahu dia memang tak sengaja. Meskipun, dia memang salah membawa tiga kardus besar berisi buku sendirian kemudian tanpa sengaja menubrukku.
Sekarang aku malah tak tahu harus berkata apa setelah melihat wajahnya. Aku ragu apa aku harus marah?
"Ayo minta maaf!" suara menggelegar itu kembali mampir ke telingaku,
Setelah dipikir ulang kurasa aku memang harus marah padanya.
Kubuka mulutku kemudian kukatupkan lagi saat seseorang menarik Dilema dari hadapanku ketika gadis itu mulai mengoceh panjang lebar menyuruhku minta maaf, siapapun dia aku merasa terselamatkan.