Kita selalu bersama. Berangkat ke sekolah bersama-sama. Dan pulang sekolah bersama. Kita memang selalu berjalan bersama. Namun tidak seiring. Aku selalu dibelakangmu.
Kita bertemu di persimpangan jalan itu saat berangkat, dan berpisah saat pulang sekolah di persimpangan jalan tersebut. Tetapi aku, berada dibelakangmu.
Kamu sangat terkenal, sedangkan aku bukan apa-apa. Terkadang, aku berharap, aku berada di sebuah film atau dongeng. Yang dengan tiba-tiba datang seorang pangeran menyatakan cintanya padaku. Dan kamu yang aku harapkan. Namun aku hanya bisa menatapmu dari belakang.
Aku selalu dibelakangmu. Terus dan selalu saja begitu. Kita tidak pernah berjalan berdampingan. Dan tidak akan pernah sebelum aku mencobanya.
Mencoba untuk menyapamu.
"Hai Karel, namaku Amelia. Aku selalu menatapmu dari belakang. Mulai sekarang, Boleh kita berkenalan? Selamat hari valentine!" ucapku sambil menyodorkan sebuah kado kepada ... tidak ada. Ini hanya latihan.
Aku menggeleng. Tidak, itu cukup buruk untuk sebuah perkenalan.
"Hai, namaku Amelia. Boleh kita berkenalan? Selamat hari Valentine!" ucapku kedua kalinya sambil menyodorkan kadonya. Berlatih menyiapkan mental.
"Oke, sekali lagi."
"Hai Karel, namaku Amelia. Selamat hari valentine!" ucapku ketiga kalinya dalam sesi latihan ini. Aku menghela napas. Dan menarik kembali kado yang akan ku berikan.
"Mungkin lain kali saja."
Aku hendak meninggalkan persimpangan jalan ini. Hingga tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat, seperti terburu-buru. Sosok itu pun berdiri dihadapanku. Ia terengah-engah. Menengok ke belakang seolah menghindari sesuatu.
Karel.
Aku mulai menarik nafas. Dan menyiapkan keberanianku untuk menyapanya. Saat aku hampir bergerak mendekatinya, beberapa gadis tiba-tiba muncul dan memeganginya erat.
"Hei Karel, kenapa pergi? Kami hanya ingin memberikan ini!"
Semua gadis itu pun memberikan kado mereka dan terus menaruhnya hingga bertumpuk-tumpuk. Aku kasihan melihat Karel sebenarnya. Namun aku pun tidak bisa berbuat sesuatu. Sepertinya, hadiahku sudah tidak penting baginya.
Saat semua gadis pergi, aku mendekat dan memberanikan diri untuk menawarkan bantuan. Namun tidak bisa. Seorang gadis terlebih dahulu memberikan bantuannya untukmu.
"Aku akan membantumu," ucap gadis tersebut. Kamu hanya tersenyum lebar. Dia pun mengambil beberapa hadiahmu untuk dibawa. Namun sepertinya kamu pria yang jahil.
"Bawakan semua saja, nih!" perintahmu diikuti kekehan setelahnya. Gadis itu bersungut-sungut.
Kalian sangat akrab, tahu. Aku disini. Tidakkah kamu sadar kehadiranku?
Kamu membuka tasmu dan mengambil sesuatu. Bunga Anggrek. Bahkan setelah semuanya, kamu ingin memberikan bunga kesukaanku kepadanya? Namun tidak, kamu lalu berjongkok dan menaruh bunga itu di persimpangan jalan ini.
"Untukmu yang ada disana, selamat hari Valentine ..."
Kamu menghela nafas. Lalu berdiri dan membantu gadis tadi untuk membawa hadiahmu. Aku tidak menyangka. Jadi semua ini ... untukku?
"Kamu sedang apa barusan?" tanya gadis itu sembari berjalan beriringan bersamamu. Hal yang selalu aku harapkan. Kalian pun hanya melewatkanku begitu saja.
"Aku dulu menyukai seorang gadis. Tetapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Kita selalu bertemu dan berpisah di persimpangan ini. Saat hari valentine tahun lalu, aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Tetapi ia meninggal karena kecelakaan. Disini," ucapmu lalu menunduk. Gadis itu mengelus punggungmu untuk memberikan kekuatan.
"Ia membawa sebuah kado saat itu. Dan ternyata untukku. Menyedihkan memang, aku baru mengetahui perasaannya ketika ia sudah tiada. Aku ... menyesal," Lanjutmu. Gadis itu menatapmu iba. Kamu pun langsung mengukirkan senyum dan berjalan menggandengnya.
"Mau bagaimana? Itu semua sudah terjadi. Walaupun aku tidak bisa melupakannya, aku kan sudah punya kamu sekarang," ucapmu setelahnya. Gadis itu pun tersenyum. Kalian pun berjalan menuju persimpangan, namun berjalan ke arah yang sama. Kalian tidak terpisahkan.
Aku menyesal. Di satu sisi ruang hatiku merasakan penyesalan. Namun di sisi lain, aku merasa bahagia. Kamu benar. Mau bagaimana lagi? Kita memang sudah di takdirkan untuk berpisah di sini.
Dan, di sini pula tempatku.
Di persimpangan jalan ini.
***
-End
Pesan moral : katakan cintamu sebelum waktumu habis(?)
Okayy yeayy emang cerita ini abal sekali karna bikinnya jaman baheula pas smp wkwk oh iya ini pernah di share di -ehm, facebook :v ya sudahlah ya itu kan dulu pas masih jamannya main fb >,< jadi kalo pernah baca cerita ini mungkin ya ada yg ngeshare kali wkwk tapi cerita ini 100% saya yang nulis yak!
Jangan lupa tinggalkab vote dan komentar, sankyuu :*
Salam pengagum rahasia, Altair
YOU ARE READING
Persimpangan Jalan
Short StoryDi persimpangan jalan ini, kita bertemu. Di persimpangan jalan ini pula, kita berpisah. Dan di persimpangan jalan ini juga, aku menyadari satu hal. Bahwa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
