PART 1 - PERTEMUAN YANG SEHARUSNYA TAK PERNAH TERJADI

436 23 0
                                        

"Pengumuman kepada seluruh penumpang JK 599 tujuan Surabaya - Jakarta untuk segera masuk ke dalam pesawat, pengumuman sekali lagi untuk seluruh penumpang JK 599 tujuan Surabaya- Jakarta untuk masuk ke dalam pesawat." Terdengar suara pengumuman yang berasal dari bagian maskapai pesawat yang akan aku naiki.

Aku masih duduk di tempat yang sama, menggunakan earphone yang menyumpal kedua telingaku tapi tak terdengar suara apapun dari kedua earphone itu, bukan karna rusak tapi memang tak ada musik yang pas untuk situasiku sekarang. Aku tahu pengumuman itu dikhususkan untuk diriku, tapi rasanya kakiku berat untuk berdiri. Yap, dua bulan yang lalu orang tua aku memutuskan untuk pindah ke Jakarta yang otomatis keputusan mereka itu lah yang membuat aku duduk sendiri di depan kaca besar yang menghadap sebuah lapangan yang terparkirkan pesawat-pesawat yang besar, menunggu penumpangnya untuk di ajak terbang ke atas angkasa nya. Kedua orang tuaku dan adikku sudah terlebih dahulu pindah 1 bulan yang lalu, dan sekarang adalah giliran aku untuk pindah mengikuti mereka. Alasan aku terlambat untuk pindah 1 bulan yang lalu karena aku harus mengurus berkas kelulusanku, tepat dimana aku lulus dari bangku smp, orang tuaku sudah mendaftarkanku di sekolah menengah atas di Jakarta yang menurut mereka itu adalah sekolah terbaik, tapi bagi aku itu tak cukup baik. Dimana aku harus pindah dan jauh dari teman-teman dekatku di Surabaya. Dan yang paling aku benci adalah adaptasi dan ini adaptasi total mulai dari gaya bahasa, cara berteman dan segalanya.

"Permisi, kak dengan Ny. Aliska swaya kaputri ?" seorang wanita menggunakan seragam kru maskapai penerbangan menanyaiku sambil menempuk bahuku.

Dengan refleks aku melepaskan earphone yang tak bersuara itu dari sebelah telingaku, "Iya benar, ada apa ya?" Tanya aku bertanya seolah tak mengerti mengapa alasan wanita ini sampai menghampiriku.

"Mohon maaf kak, sepertinya kakak tidak mendengar pengumuman, bahwa pesawat yang akan anda tumpangi akan segera take off, jadi untuk segera kakak naik ke dalam pesawat." ujarnya dengan wajah tersenyum kepadaku.

Dengan tampang tak bersalahku hanya berkata "Oh benarkah? maafkan saya mba, sedari tadi saya tidak mendengar. Sebelumnya saya kira ada keterlambatan, ternyata sudah mau berangkat saja."

"Oh begitu ya kak, maaf atas kurangnya informasi dari kami, dan kakak adalah penumpang di bawah umur ya, kalau begitu saya bantu untuk naik ke atas pesawat, mari kak." ujar nya sambil mengarahkan tangannya ke pintu menuju pesawat.

Dengan berat hati, aku berdirikan tubuhku dari kursi yang tak ingin aku tinggali, karna dengan aku berdiri keputusan orang tuaku untuk mengajak aku pindah benar-benar terlaksana, dan itu yang membuatku tak suka. Aku hanya mengakat tas ranselku dan mulai berjalan mengikuti wanita yang memakai seragam kru pesawat yang menegurku tadi.

"Kakak mau berlibur atau bagaimana sendirian ke Jakarta?" Tanya tiba-tiba wanita berseragam kru pesawat di saat perjalanku menuju pesawat.

Kenapa lagi harus tanya, membuatku sedih saja , bila mengingatku ke Jakarta bukan untuk berlibur tetapi untuk meninggalkan kota Surabaya yang penuh kenangan ini. "saya mau pindah." jawabku dengan singkat.

"Oh mau pindah, kenapa sendirian? Emang enggak takut sendirian naik pesawat?" Timpalnya lagi.

Belum sempat aku menjawab wanita berseragam kru ini, ia sudah berbicara lagi "Nggak lah ya, nggak takut kan udah gede gini pasti berani ya." ujarnya dengan nada pastinya.

Aku hanya menganggukan kepalaku saja , membenarkan jawaban akan wanita berseragam kru itu. Sesampainya di ambang pintu pesawat ada satu pramugari dan satu pramugara yang menyambutku, "Selamat pagi, boleh saya lihat nomer kursinya?" Tanya pramugari yang terlihat amat cantik.

Aku hanya menunjukkan tiket yang aku pegang sedari tadi, tertulis seat 4F, baik mari kak saya antar.

"Semoga perjalanan kakak menyenangkan." ujar wanita berseragam kru yang mengantarkan aku sampai ke depan pintu pesawat, aku hanya mengangguk ke arahnya. Dan setelah itu mengikuti pramugari yang akan mengatarkanku. Sesampainya aku di kursi, ada yang mengisi kursi yang seharusnya menjadi tempat dudukku selama perjalanan ini akan berlangsung, karna saat aku check in, aku meminta untuk duduk di deket jendela. Tapi nyatanya ada seorang anak laki-laki yang sepertinya umurnya jauh lebih muda dariku menduduki kursi yang seharusnya menjadi milikku.

kompasWhere stories live. Discover now