Prologue

41 21 18
                                        


Tanganku di genggam dan ia membawaku pergi ke arah koridor yang lebih sepi. Aku yang hanya tinggi sebahunya pun harus mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya.

"Kau kenapa ?" tanyaku.

Ia tak mengatakan apapun malah menatapku dalam. Manik abu-abunya begitu indah.

"Kandouzi-senpai ?" panggilku, sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.

"Minori...aku ingin mengatakan sesuatu karena hari ini adalah hari kelulusanku. Terima kasih juga kau sudah datang dan banyak sekali foto yang kau ambil dan-"

"Kandouzi-senpai, bicaralah dengan memakai koma, jangan terburu-buru seperti itu." aku memotong ucapannya karena dia berbicara terlalu terburu-buru.

"Oh baiklah. To the point saja, aku tak suka banyak bicara."

"Ya...itu memang sifatmu."

"Aku mencintaimu."

Deg

Aku membulatkan mataku karena terkejut, tak percaya akan perkataannya. Kandouzi-senpai yang populer di sekolah, Kandouzi-senpai yang dingin terhadap perempuan, Kandouzi-senpai yang begitu di sukai banyak siswi di sekolah karena wajahnya yang over tampan sekaligus prestasinya. Aku tak percaya ia mengatakan itu pada gadis lugu dan tak cantik sepertiku.

Aku ingin mengatakan sesuatu tapi entah kenapa bibir ini tetap rapat. Jantungku yang berdebar-debar tak sesuai dengan detakan jantung manusia normal.

"Katakan sesuatu," ucapnya menatapku dalam.

Lagi-lagi bibir ini tak bisa bicara. Kau tau? Ini juga yang aku inginkan. Dan impian ini sudah ada di depan mata. Tapi entah kenapa aku tak bisa mengatakan satu katapun.

"Aku tau itu...aku tau kita masih kecil. Kau pasti tertawa dalam hati 'kan? karena anak kecil sepertiku bisa mengatakan itu."

Bukan itu senpai, batinku

"Aku hanya ingin mengatakan itu. Aku benar-benar jujur, Minori. Kau tau? di masa SMA jadwal ku akan padat. Aku hanya bisa libur hari minggu, tapi itu pun tak tentu. Setidaknya aku lega sudah mengatakan ini meski di dalam hati aku benar-benar takut akan penolakan. Tapi...tidak apa-apa." setelah mengatakan itu ia merogoh kantung seragamnya dan mengeluarkan benda berwarna biru. Jepit? Untuk apa? pikirku.

Ia menyapu poni ke atas setelah itu menjepit poniku dengan jepit pemberiannya. Ia tersenyum tipis." kau lebih cantik begini." pujinya, yang menurutku dia sedang meledek.

"Kalau begitu kau pulang saja. Aku masih ada urusan. Semoga saja kita bertemu saat aku mengambil ijazah nanti." Ia tersenyum tipis lalu pergi menyusul teman-temannya.

Ia berbalik badan." Aku akan menunggu jawabanmu. kapanpun itu." setelah mengucapkan itu Kandouzi benar-benar pergi.

Saat sudah tak melihat punggungnya lagi. Aku masih mematung di tempat.

Bodoh! Bodoh! Bukankah ini yang kau impikan? aku menyukainya, aku kagum padanya.

Aku berjalan gontai untuk pulang. Saat sampai di rumah aku segera berendam di bathtub dan menenggelamkan wajahku ke dalam air.

*
*
*

Holaa !!!
Ini karya pertama saya di wattpad.
Jujur...percaya diri itu susah

Maafkan kalo ada typo maklum saya masih pemula

Gaje banget sumpah !!!
Ya emang gaje ini cerita hahaha

Follow IG saya
Follow me: rizka_murasaki
(Kalo ada yang mau sih XD)

Salam dari author istrinya Harris j
Selingkuhannya Manu Rios

Terima kasih...

.
.
ini habis saya edit lagi.
Karena kemaren belum sempet saya koreksi but...kebelet pengen publish hahaha

LONG JOURNEYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang