1

5 0 0
                                        

Entah apa yang dirasakan Awan di atas kota Gwangju ini? Beberapa pekan terakhir ini mereka selalu menangis di pagi buta dan menangis lagi ketika malam hampir bertamu. Seperti pagi ini. Ini sudah menunjukkan jam 9 pagi, tapi isakan lirih sang hujan masih terasa. Membuat siapa pun yang mendengar isakan itu ikut merasakan hawa dingin dan menusuk tulang.

"Aku benci kamu" terdengar bisikan yang lirih dari balik selimut yang tebal di sebuah apartemen di salah satu Kota Metropolitan Gwangju. Siapa di balik selimut tebal itu?

Oh..... seorang Bibi-bibi muda dengan raut muka yang hangat menghampiri Sofa panjang berwarna Maroon itu. Jika disentuh dari kejauhan Sofa itu tampak empuk dan sangat nyaman. Kehangatan terlihat jelas di setiap sudut Sofa Maroon itu.

"Tuan Muda......." berlahan BiBi itu menggoyang kan tubuh di balik selimut yang sangat tebal dengan lembut.

"Tuan Muda, tidak bekerja pagi ini?" sambung nya

Tampak raut muka yang muncul di ujung selimut hangat itu. Rambut hitam yang berantakan kekanan dan ke kiri mengisyaratkan dia ingin tidur lagi barang setengah jam.

"ini sudah hampir jam 10 pagi tuan muda"

Tanpa menyaut bibir wanita paruh baya itu, Soe Ahn Joon yang lebih sering di sapa Ajung membenarkan duduknya dan mengusap-usap tengkuknya yang terasa masih ingin menempel saja di sofa.

"............" sejenak Ajung menundukkan kepalanya dan memijit matanya dengan pelan.

"Halmo......i" sayup terdengar Ajung memanggil neneknya. Matanya kini terbuka dan menyapu ruangan apartemennya. Masih seperti malam kemarin. Tumpukan kertas diatas meja masih berantakan bersanding dengan piring kosong dan ampas kopi yang mengering di bibir gelas. Setelah mendapati hasratnya untuk bangun. Ajung menjungkaikan senyuman di bibirnya. Ya! Bagaimana bisa ia mendengar suara neneknya yang seolah membangunkan nya. Ia bukankah tinggal sendirian di apartemen kecil ini?

"aaaah...... benar masih hujan.... aku benci hujan!" raut mukanya berubah menjadi sewot ketika ia menyibakkan kain horden Biru Dongker dengan tekstur seperti kapas miliknya.

Entah apa salah hujan yang dilakukan? Sehingga kapan pun dan dimanapun ia berada, keberadaan nya selalu berhasil membuat suasana hati ajung rusak dan tidak suka. Dan juga ini bukan kali pertamanya Ajung mendengar sentuhan dan suara neneknya sewaktu pagi datang. Hanya ketika hari terlalu berat untuk ia lalui dan rasakan, perasaan delusi ini akan menghampiri Ajung ketika bangun tidur.

"zzzzt........zzzzt.........zzzzzt" getaran HP Ajung diatas piring membuat sendok kotor disampingnya membuat suara fals yang mengganggu.

"emmmmm" Ajuung menempelkan ponselnya

"Presdir, apakah anda sudah bangun? Saya dalam perjalanan ke Apartemen Presdir, dan saya bawa masakan istri cantikku untuk presdirku tersayang" terdengar suara yang meledak-ledak dengan intonasi penekanan yang kuat di setiap awal kalimatnya.

"udah tak kasih tau kan.... jangan panggil dengan sebutan itu Paman. Aku tidak ada niat makan. Jangan datang, aku mau bolos kerja" Sraaaak tanpa menunggu persetujuan dari lawan nya, Ajung membanting ponselnya di atas selimut tak mempedulikannya, kini Ajung menyibukkan diri dengan gelas serta piring kotor yang ada di hadapannya.

∽∽∽∽∽∽∽

"Astaga Soe Anh Joon..... dasar anak berandalan " Gerutu Oh Min Seok orang kepercayaan Ajung. Tepatnya ia sering Ajung jadikan tim Audit, Sekretaris bahkan sopir pengganti untuknya.

Oh Min Seok yang sering Ajung sapa Paman ini sudah bekerja dengan nya sejak usaha Tote Bag miliknya didirikan. Bisa dibilang Oh Min Seok adalah orang pertama yang mempercayai dan tidak menertawakan idenya kala itu.

MaroonWhere stories live. Discover now