Udara pagi menyerbu tubuhku dan membuat rambut pendek yang terkesan acak-acakan menari-nari ringan di atas kepalaku. Seperti biasanya, aku selalu melukis di beranda rumah. Sebuah tempat di mana segala bentuk imajinasi dalam otakku tertorehkan melalui kanvas putih. Rasanya menakjubkan. Seperti sedang menciptakan duniaku sendiri melalui karya dua dimensi.
Namun kali ini berbeda. Yang kulukis bukanlah sebuah dunia, atau pemandangan, atau kerumunan orang di suatu tempat-melainkan sosok yang berkelindan dalam benak dan hatiku. Muncul dari masa lalu, namun masih terbayang hingga kini.
Sebelum lamunanku pergi semakin jauh, seseorang membuatku terlonjak kaget ketika tangannya menepuk bahuku dengan ringan.
Seorang gadis yang sebelumnya sempat membuatku tersentak itu lalu meletakkan secangkir teh manis di atas meja di sampingku. Dengan rambut lurus sebahu yang terurai rapi, gadis itu tersenyum manis kepadaku. Dia adalah adikku-Vina.
"Hahaha..., kakak kaget, ya?" Vina tertawa kecil lalu duduk di sampingku dan bersandar di sandaran kursi dengan senyuman yang masih melekat pada wajahnya.
"Enggak juga. Makasi tehnya." Aku hanya tersenyum ke arahnya setelah mengatakan sesuatu yang berisi sedikit kebohongan di dalamnya. Lalu, aku memutuskan untuk kembali melukis.
Hening sejenak. Desis udara pagi dan siulan burung-burung yang bertengger di ranting pepohonan mengisi keheningan yang tengah aku rasakan.
"Kakak...," tiba-tiba Vina memanggilku dengan suara yang terdengar sedikit bergetar. Aku langsung menoleh untuk melihat ekspresi wajahnya. Adikku yang sedang menjalani masa-masa SMA itu terlihat murung.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku nyesel, kak. Ini masalahku sama Rendy." Lagi-lagi, Vina membicarakan masalah dengan pacarnya padaku.
"Oh, begitu. Emangnya ada apa antara kamu dan Rendy?" tanyaku, bersikap seolah peduli. Vina terlihat semakin murung dan hanyut dalam pikirannya sendiri. "Dia marah sama ku gara-gara dia ngerasa aku terlalu posesif."
Hening kembali. Aku tidak tahu harus memberikan solusi dan respon seperti apa-karena aku tidak pernah punya pengalaman seperti itu. Berpacaran saja aku tak pernah.
Namun, setidaknya aku pernah merasakan apa itu cinta.
Vina menghela napas panjang dan berkata, "Aku benar-benar nyesel!" Lalu ia melanjutkan dengan bertanya, "Kakak pasti enggak pernah ngerasa nyesel, kan? Makanya kakak diam aja."
Aku tertegun. Bayang-bayang masa lalu tiba-tiba menyerbu pikiranku. Tanganku tiba-tiba berhenti dan tidak bergerak sama sekali. Tatapan mataku kosong dan aku terlihat seperti seseorang yang mendadak berubah menjadi patung.
"Menyesal?" tanyaku dengan nada datar.
Aku menyadari Vina terlihat sedikit bingung begitu melihat raut wajahku yang berubah drastis. Aku pun mengoleskan kuasku pada cat warna biru dan mencoba melanjutkan kegiatan melukisku dengan suasana hati yang tenang.
Namun, mau bagaimanapun, gerak-gerikku yang terlihat gelisah dan aneh tampak jelas di mata Vina. "Kakak kenapa?" tanya Vina. Aku menggeleng dan tersenyum. Kurasa aku harus menceritakan suatu hal kepadanya. Terkadang, menceritakan sesuatu pada orang lain akan terasa lebih baik daripada menyimpannya terus-menerus.
"Kakak pernah merasa menyesal. Bahkan, penyesalan ini lebih besar dari penyesalanmu. Kamu belum waktunya buat nyesel, karena masih bisa memperbaiki masalahmu sama Rendy-sedangkan kakak sama sekali enggak bisa diperbaikin."
Vina memiringkan kepalanya.
"Maksud kakak?"
Aku menoleh dan menatap Vina sembari tersenyum. Saat ini, aku akan menceritakan masa lalu yang membuatku benar-benar terbelenggu dalam sebuah penyesalan.
DU LIEST GERADE
It's Too Late (Short Story)
JugendliteraturAku ingin mendengar bisikan lembut itu sekali lagi, di dekat telingaku. Sebuah bisikan yang mampu membuat jantungku berhenti berdetak untuk beberapa detik, lalu merasa sensasi seperti terbang setelahnya. Sebuah bisikan ajaib yang membuatku ingin pe...
