RAINBOW

35 7 2
                                        

Rain menganyuh sepeda bonceng yang baru dibelinya tadi malam. Tiba rain di depan sebuah rumah yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu, hanya warna dan tanaman dirumah itu yang berubah.

Rain melirik-lirik kedalam rumah itu, melihat kearah jam di tangannya rain tau dalam hitungan detik bowie akan keluar dengan rambut di ikat kuda, dan kaca mata bulat bertengger di wajah cantiknya.

Rain tau ini takkan mudah, tapi demi menyenangkan sahabatnya itu semuanya tak masalah. Bahkan untuk mengayuh sepeda yang entah kapan terakhir ia merasakan sensasi bersepeda.

Seperti dugaan rain, tepat di detik kesepuluh bowie keluar dengan sesuai perkiraan rain.

"Gimana, udah keren nggak?"

Bowie mengangguk "tapi harus cepat ya?" ucapnya

Rain membungkuk seperti seorang pangeran yang mempersilakan putri nya untuk menaiki kereta kencana.

"Of course my princess"

Bowie menggelengkan kepalanya keheranan dengan segala sikap rain.

Rain dan bowie melintas meter demi meter jalan dengan tangan bowie yang melingkar nyaman di pinggang rain.

Berdekatan seperti ini sudah biasa bagi rain dan bowie. Mereka telah berteman sejak kecil.

Rain si pangeran sekolah lahir dengan keluarga yang penuh kehangatan. sedangkan bowie si upik abu yang lahir dari seorang wanita kuat, bowie hanya tinggal bersama ibunya, bowie tak pernah tau bagaimana sosok lelaki yang biasa dipanggil ayah oleh orang lain.

Bagi bowie rain adalah hujan yang mampu meredamkan suasana saat panas yang membakarnya. Menciptakan suasan dingin yang menyejukan.

"Gue turun disini" ucap bowie menepuk nepuk bahu rain. Tidak bagaimana pun bowie tak ingin lagi hal sama terulang.

Terlalu berisiko jika dirinya beriringan dengan seorang pangeran. Cukup saja dengan kejadian beberapa waktu lalu bowie menemukan baju olahraganya di bak sampah, bukunya sobek, dan ban belakang sepedanya hilang.

"Yaelah, bentar lagi kita nyampe. Kalo lo jalan kaki nanti kaki lo lecet, trus lo ngak bisa lagi makai sepatu kaca dan-"

Ucapan rain terhenti karena bowie sudah lebih dulu membekap mulut lelaki itu.

"Gue tau lo bakal ngomel-ngomel" potong bowie.

Rain protes, tentu saja. Bagaimana pun ia tak mungkin meninggalkan bowie di 50 meter jarak sekolah. Rain tau mengapa bowie seperti ini, ini semua karena dirinya. Jadi prioritas rain sekarang adalah tak meninggalkan bowie sendiri.

Bowie melangkah meninggalkan rain,menyusuri pinggiran jalan menuju sekolah. Melihat itu rain pun segera menyusul rain dengan tak menaiki sepeda, meninggalkan nya di pinggir jalan.

"Bow" panggil rain sambil berlari menyusul bowie.

Bowie mempercepat langkahnya. Ia tak ingin berbarengan dengan rain. Itu adalah area terlarang yang harusnya tak ia lampaui di lingkungan sekolah.

Tak hanya hati yang akan terluka semakin dalam tapi juga badannya. Bagaimana pun garis hidup sesorang slalu nampak terlihat.

"Bowie" rain menarik tangan bowie membuat gadis itu menghadapnya.

"Lo gila!!!" Teriak bowie kapada rain.

"Ya gue gila, dan gue ngak perduli. Gue bakal slalu di samping lo
bow, gue mau jaga lo"

Ada kehangatan yang merasuki relung hati bowie. serasa melayang ia, ketika orang yang kau cintai mengatakan hal yang terdengar meyakiankan.

"Sayang" sebuah suara lembut mengtrupsi mereka, bowie melihat kearah tangan rain terlepas darinya.

Again

Bowie melihat Rain yang tersenyum manis ke pada gadis itu. Gadis yang telah mengisi hati rain beberapa bulan belakangan.

Gadis itu karina, gadis cantik yang lembut, pintar dan tentunya cocok untuk rain. yang tentunya tak sebanding dengannya. ia mencinta rain, dan itu saja cukup baginya. Ia takkan  berharap lebih.

Bowie tersenyum kepada karina. Gadis itu tau kedekat rain dan bowie. Tapi gadis itu berbeda dengan yang lain dia begitu sabar dan slalu berpikir positive, tak heran dia menjadi gadis paling dipuja di sekolah. Lalu bagian mana lagi antara rain dan karina yang tak cocok?

"Kamu juga baru datang?" Tanya rain sambil meraih tangan karina.

Karina tersenyum "as you see" .

Dan beginilah. Rain slalu membuat bowie melayang dan selanjutnya menghempaskan gadis itu setelahnya.

"Gue duluan" ucap bowie yang tak ingin menjadi lalar di antara rain dan karina.

Bowie melangkah meninggal kan rain dan karina di belakangnya.

Berteman dengan luka adalah hal yang lumrah bagi bowie, karena resiko terburuk dari mencintai adalah terluka.

RAINBOWWhere stories live. Discover now