Karena mencintai sudah jelas harus merasakan sakit dan juga yang harus diterima adalah merelakan jika yang di cinta harus pergi dan meninggalkan luka tersendiri. Bukan berdiam diri dan ujungnya berjuang sendirian. -R
***
"Lo ngerasa enggak sih kalau Nasha itu udah berubah?"
Suara yang terdengar menindas tiba-tiba membangunkan gadis itu dari lamunannya. Pertanyaan lelaki itu mungkin biasa saja bagi orang yang berlalu lalang dan secara tidak sengaja mendengarnya.
Namun tidak untuk Nurun, ia merasakan hawa panas mengental di sisinya membuatnya berulang kali menarik napas sedalam mungkin, mencoba mengenyahkan dalam pikiran kalau tidak ada yang berubah sedikitpun, sahabatnya Nasha masih tetap sama seperti dulu, walau dalam hati ia sedikit meragukan.
"Maksud lo, berubah apanya sih Jan?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Janu, Nurun malah balik bertanya.
Diliriknya Janu yang memejamkan matanya, sejenak kedua bola mata itu terbuka perlahan, tanpa bisa di hindari pandangan mereka bertemu yang lantas membuat Nurun segera mengalihkan tatapannya, ia merasa terintimidasi.
"Jangan pura-pura lo enggak tau. Gue sendiri aja ngerasa kalau Nasha itu udah berubah, bukan dia yang kayak dulu."
Janu menaikkan nada suaranya, ia sedikit kesal pada Nurun, kenapa untuk mengakui Nasha berubah itu sulit sekali untuk gadis ini membuat janu menggeram tertahan.
"Semua orang berhak berubah Jan, kita enggak bisa ngelarangnya. Nasha bukan berubah tapi ..."
Sebelum Nurun menyelesaikan perkataannya, Suara Janu yang tegas kembali terdengar membuatnya berhenti berbicara.
"Dia yang mendadak ngediemin lo? Itu yang maksud lo bukan berubah!"
"Bukan gitu Jan. Nasha ngediemin gue karena dia kira gue ... "
"Dia emang udah berubah. Lo jauhin dia. Gue khawatir lo kenapa-napa." Sela Janu.
"Dengerin gue dulu Jan. Gue belum selesai bicara." Kata Nurun dengan sedikit membentak.
Janu terdiam, menunggu Nurun melanjutkan perkataannya.
"Nasha suka sama lo. Dia cemburu ngeliat lo deket sama gue."
Janu sempat tersentak, namun tak berlangsung lama, ia menampilkan wajah datarnya lagi, "Maksud lo apaan sih, Run. Gue enggak ngerti." elak Janu.
"Jangan pura-pura lo enggak tau Jan. Nasha bahkan sudah bilang bukan kalau dia suka sama lo?" Ujar Nurun.
Lagi-lagi Janu dibuat kaget, tapi ia tetap mempertahankan ekspresi seolah tak peduli.
"Ngomong apa sih lo. Gue enggak suka sama dia." Kata Janu, tanpa menatap manik mata Nurun.
"Nasha sahabat gue. Pesan gue cuman satu jangan buat dia sakit
hati."
"Gue enggak terima pesanan. Gue nerima cinta lo aja udah cukup."
Janu melirik Nurun melalui sudut matanya, namun tak disangkanya Nurun tidak menunjukan reaksi apapun. Membuat hati Janu mencelos sakit.
Janu tau dari dulu Nurun hanya menganggapnya teman, teman dan teman. Tidak lebih, hanya itu.
Dan tidak bisa di pungkiri hati Janu berharap lebih.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Paling
Ficção AdolescenteBaca aja. Nggak tau harus buat sinopsis apa. Karena belum selesai.
