CHAPTER 1: PAKU PENGHIANATAN

58 0 0
                                        

Malam itu Hand Phone Kirana berdering sekitar pukul 10 malam, sesaat setelah dia mulai terlelap di atas kasurnya. Telpon itu ternyata dari kekasihnya. Rizal, begitu dia menyebutnya. Laki-laki yang berusia sama dengannya, berambut hitam dan lurus, tingginya 170 cm.

Kirana sedikit kaget karena tidak biasa di jam itu Rizal menelpon. Apalagi Kirana baru saja pamit untuk tidur terlebih dahulu lewat pesan singkat.

"halo, ada apa sayang? Tanya Kirana dengan suara lirih.

"Kirana, aku pengen bicara sesuatu sama kamu". jawab Rizal.

"begini, aku pengen kita putus, aku tidak bisa lagi meneruskan hubungan kita ini. Kita sering bertengkar hanya karena alasan sepele. Aku rasa kita memang tidak cocok. Apalagi aku sudah punya orang lain yang mengisi hatiku. Aku minta maaf sama kamu. terimakasih sudah menemaniku selama empat tahun ini. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku." Begitulah kalimat tegas dari Rizal. Tanpa kata lagi Rizal langsung mematikan telponnya.

Kirana hanya terdiam, terkejut, bingung, perasaannya campur aduk tak karuan. Dia mulai merasakan sakit di bagian dadanya. Serasa ada bom waktu yang tiba-tiba meledak di dalam hatinya. Nafasnya pun terengah engah. Dia sungguh tak percaya tanpa alasan yang jelas Rizal meninggalkannya begitu saja. Air matanya pun mengalir tak henti dari kelopak matanya yang indah.

Baginya Rizal adalah laki-laki yang baik, sosok yang dia percaya tidak akan pernah menancapkan paku tajam ke hatinya, apalagi sampai hati meninggalkannya. Namun kenyataannya berbeda, laki-laki yang dia begitu kagumi dan kasihi, laki-laki yang bersamanya hampir empat tahun dengan tega menancapkan paku tajam, menusuk hatinya, membuat luka-luka tak berdarah, namun sakitnya begitu parah. Hatinya remuk, terlalu dalam sakit yang dia rasakan, seakan-akan hampir membunuhnya secara perlahan.

Pagi sudah tiba, cahaya mentari mulai membias di dinding-dinding kamarnya. Kirana bangun dari tempat tidur, di kamar kecil di pojok depan bagian rumahnya. Matanya masih sembam, berkantung karena tangis yang tak henti semalaman. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi kepadanya, tak percaya, namun itu nyata, kekasih setianya menghianatinya dengan memendam perasaan kepada orang lain dengan diam-diam. Kirana kemudian duduk di dapurnya, matanya menatap cucian yang menumpuk dengan tatapan kosong. Fikirannya masih kepada kejadian semalam. Matanya pun mulai berkaca-kaca.

"Kirana", suara perempuan memanggilnya. Perempuan berusia 46 tahun itu adalah ibunya.

"iya bu", jawab Kirana sambil mengucek kelopak matanya yang berair dan beranjak dari duduknya.

"ada apa bu?" tanya Kirana

"belikan ibu bawang merah dan bawang putih di warung depan!" suruh Ibu, sambil memberikan uang kepada Kirana.

Ibunya melihat mata Kirana sembam. Ia berfikir pasti terjadi sesuatu kepada Kirana. Sebelum sempat bertanya mengapa, Kirana sudah keburu pergi.

"baik bu" jawab Kirana.

Kirana berjalan merunduk, menutupi matanya yang sembam, berharap tidak ada orang yang curiga bahwa dia telah menangis semalaman.

"bu Lek, beli bawang merah dua ribu, bawang putih dua ribu". Ucap Kirana kepada pemilik warung.

"nggeh nduk". Jawab pemilik warung.

"Lek" adalah sebuah panggilan seseorang kepada yang lebih tua, semacam paman atau bibi, dan "nduk" adalah panggian kepada yang lebih muda perempuan pada orang Jawa. Kirana adalah perempuan yang tinggal di lingkungan masyarakat Jawa.

Bawang merah dan bawang putih sudah Kirana genggam, dan ia bergegas kembali kerumah.

"ini bu". Kirana memberikan bawang putih dan bawang merah itu kepada Ibunya.

CANDRA KIRANAStories to obsess over. Discover now