Chapter #01 Belenggu

31 13 0
                                        

Dia masih tidur...

Pria berusia dua puluh lima tahun yang terbaring di atas karpet itu bernama Aray.

Sudah empat hari ia sama sekali tidak keluar sejengkalpun dari dalam apartemennya yang gelap gulita.

Bahkan saat ini, senin pukul dua siang.
Dimana semua orang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing sedangkan yang dia lakukan hanya? Tidak ada.

Dia masih tidur...

Tring... Triiing...

Seseorang menekan bel pintu.

Perlahan-lahan Aray membuka matanya.
Ia tahu betul tanda apa itu.

Tanda jam makan siang.

Aray masih berada di antara mimpi dan kenyataan. Ia berjalan dengan malas untuk membukakan pintu.

Kreeek...

"Wah, maaf mengganggu. Ini makan siang anda tuan", petugas berpakaian ala cheff restoran yang berdiri di ambang pintu, menyerahkan sebuah kotak makanan yang sepertinya berisi pizza.

"Terima kasih", Aray langsung menutup lagi pintu apartemennya.

Ia meletakan kotak pizza di atas meja kemudian duduk di sofa.

Ditatapnya kotak pizza itu dengan wajah tanpa semangat.

Mungkin ia sudah bosan memakan pizza selama satu minggu ini.

Apa boleh buat, ini karena dia tidak menyukai menu lain yang disediakan oleh satu-satunya restoran yang berada di gedung apartemen ini.

Aray membuka lemari es.

Diraihnya sebotol coca cola.

Ia menempelkan botol dingin itu di keningnya.

Sensasi dingin menjalar merasuki sel-sel kepala bagian atas.

Hhhh...
Aray mendesah.

Ia segera membuka kotak pizza di hadapannya.

Keju...

Hari ini pizza keju rupanya.

Ia menggigit sepotong pizza keju di tangannya, mengunyah perlahan-lahan.

Tangannya meraba-raba ke samping, berusaha menemukan remot TV.

Dalam keadaan ruangan yang sangat gelap, ia kesulitan menemukannya.

Duk...

Berhasil, ternyata remot itu bersembunyi di antara buku-buku yang berserakan.

Aray menyalakan TV.

"Kasus kecelakaan terjadi sekitar pukul tiga waktu Indonesia Bagian Timur. Korban meninggal dun...",

Pat...

Aray menekan lagi tombol power pada remot. TV kembali padam.

Siaran berita tadi secara mengejutkan memulihkan seluruh ingatannya yang sudah tiga tahun ini berusaha ia lupakan.

"Aaargh!",
Brak...!

Aray melemparkan remot TV hingga hancur menghantam dinding.

Ia menjambak rambutnya.
Memejamkan mata sekuat tenaga.
Mencoba mengembalikan kesadaran.

Ia bangkit.
Berjalan menuju jendela.

Sreeek...

Ia mengintip keluar jendela dengan menyibakkan gorden.

Cahaya matahari menembus masuk dari celah kecil itu.

Aray merasa silau.
Ia menutupi matanya menggunakan telapak tangan.

TORMENTEDStories to obsess over. Discover now