One

67 9 10
                                        

Hanya sebuah harapan yang bisa ku lakukan mengingat dirimu yang seakan jauh untuk digapai walau kamu berada dekat disekitarku.

~

Tanesya gadis yang kerap disapa
Nesya itu tengah asik menyaksikan latihan tim basket SMA Angkasa.

Bukan, bukan permainan mereka yang Nesya fokuskan tapi ia lebih berfokus pada salah satu pemainnya dengan nomor punggung 10.

Ya, dia Mark. Siswa yang paling dipuja di SMA Angkasa ini. Bukan hanya ketampanannya saja yang mereka kagumi dari sosok Mark namun kegeniusannya dalam berbagai bidangpun juga menjadi point utama untuknya.

Sudah lebih dari setengah jam Nesya menahan debarannya di pojok tribune sana menyaksikan segala yang dilakukan Mark. Mulai dari caranya bermain, bertos ria dengan timnya disaat mereka memasukan point, apalagi kaos basketnya yang mulai basah akan keringat itu sangat membuat debaran didalam Nesya semakin bertambah ritme.

Rasanya ingin sekali dirinya memberi minuman yang sekarang berada ditangannya melihat air botol minum yang Mark tenggak habis seketika karena tadi diminta oleh Leo kawannya yang kebetulan juga adalah tim basket SMA Angkasa.

Baru saja selangkah ia turun dari tangga tribune namun suara sapaan yang terdengar seperti teriakan seorang siswi menghentikan langkahnya.

"MARK!!" sapanya sambil mengalungkan lengannya di leher Mark dari belakang.

"Nih," Giska memberikan sebotol air mineral kepada Mark yang langsung diterima Mark dengan senang hati.

Nesya tertawa hambar. Dirinya dengan Giska? Haha sangat lah beda malah jauh.

Giska yang cantik, putih mulus, tinggi, imut, apalagi jika ia tersenyum sungguh sangat mempesona berbanding balik dengan dirinya yang kucel ini.

Oh come on, Giska bukanlah saingan yang sebanding dengan mu Nesya!

Nesya mundur secara perlahan mungkin dikesempatan lain ia bisa dapat secara langsung mengungkapkan perasaannya pada Mark nanti. Iya nanti, tapi sampai kapan?

"Hei." tepakan ringan terasa dipundak Nesya saat ia membalikan tubuhnya siap melangkah keluar dari lapangan indoor itu.

"Hello," Leo melambaikan tangannya didepan wajah Nesya yang sedang tertunduk tak kunjung membalikan tubuhnya.

"Airnya buat gue dong," pinta Leo melihat air mineral yang sedari tadi berada digenggaman Nesya.

Nesya memberikan air mineral –yang niatnya akan ia berikan pada Mark– ke Leo masih Menundukan kepalanya, seakan ia tak mau memperlihatkan wajahnya pada cowok dihadapannya itu.

"P-permisih." ucap Nesya meninggalkan Leo yang masih dibuat bingung akan tingkah Nesya, yang menurutnya agak aneh.

"Bagus. Punya Do'i rahasia-rahasiaan ya," seru Mark dari bawah.

Leo mengernyit dahi sambil turun ke bawah dari atas tangga tribune.

"Ketemu dimana?" tanya mark merangkul Leo sambil menaik turunkan alisnya.

"Maksud lo?"

"Yaelah pura-pura bego. Itu tadi cewek lo kan? Kenalin dong."

"Cewek gue apaan! Gue juga kagak tau siapa tuh cewek," elak Leo. Memang dia tidak tau siapa gadis itu karena gadis itu selalu menundukan kepalanya sehingga wajahnya terhalang oleh poni miliknya.

"Gue kira juga itu cewek lo,"

"Maksud lo?" tanya Mark tak mengerti sama sekali apa yang diucapkan sahabatnya ini.

"Iya, dari tadi itu dia merhatiin mulu lo mulu, ya gue pikir mungkin dia cewek baru lo." jelas Leo menggendikan bahunya.

"Haha ngaco lo. Lo kan juga tau siapa cewek yang gue suka selama ini." kekeh mark.

"Mark ayo," seru Giska sambil mengusap seragamnya yang basah karena tadi kecipratan air di dalam toilet.

"E-eh Leo." ucap Giska tiba-tiba gugup saat menadari kehadiran Leo dihadapannya.

"Ya udah gue balik dulu ya Le, kasian ntar tuan putri dicariin mama nya." Mark menepuk pundak Leo.

Giska memberi senyum gugupnya pada Leo yang hanya dibalas dengan wajah datar Leo.

"Gis ayo." teriak Mark diambang pintu.

Sekali lagi Giska tersenyum, lalu melangkahkan kakinya mengejar Mark yang sudah lebih dulu keluar lapangan.

Senyum kecut terukir dibibir Leo melihat kebersamaan mereka yang menututnya sangat......

~

ImpossibleWhere stories live. Discover now