Title: sorry
Cast: oh sehun, kris, chanyeol, Lay, kai etc
Genre: family, hurt
Rating: G
Chapter 1
Seorang remaja laki-laki berdiri di depab cermin yang terpampang di dinding kamarnya. Kulit putih bersih, mata coklat yang berbinar, hidung yang mancung, dan tingginya sekitar 170 cm dapat membuatnya menjadi model.
Tidak banyak orang yang dapat melihat ketampanannya itu, dibalik kacamata tebal itu, dan baju tertutup membuat orang berpikir bahwa ia adalah seorang namja kutu buku yang jelek dan cupu.
Memang ia adalah kutu buku yang suka berkutat dengan buku-buku. Ia bernama Oh Sehun. Sehun mengambil jalur beasiswa di salah satu sekolah yang terkenal. Itu dikarenakan keluarganya yang telah tiada semuanya. Sang ibu sudah meninggal dunia saat ia berumur 5 tahun dan sang ayah... ia menggangapnya sudah mati.
Ia telah bersiap-siap untuk pergi mengantar korab sebelum pergi ke sekolah. Meski hanya hidup sebatang kara, tapi Sehun tidak mengeluh dengan kehidupannya.
Selain siswa yang teladan, ia juga merupakan seorang pekerja keras. Demi biaya hidupbya, ia rela bekerja paruh waktu sebagai pengantar koran, dan menjadi pelayan cafe setelah pulang sekolah.
Sebenarnya ini melelahkan untuk dia, hidup yang tidak ada tujuan hidup. Hidup yang menyusahkan sekaligus menyebalkan. Tapi apa yang harus ia perbuat? Hanya terus berjuang hiduplah yang dapat ia lakukan. Ia takkan melanggar janjinya kepada ibunya walaupun itu sangat sulit sekali baginya.
Sehun mengenakan tas ranselnya yang sudah agak usang. Kemudian bergegas pergi ke tempat kerjanya sebagai pengantar koran yang jaraknya lumayan dekat dengan tempat tinggalnya.
"Pagi ahjumma." Sapanya pada ahjumma yang sedang berkutat dengan tumpukan korannya.
"Sehunnie, kau sudah makan?" Tanya ahjumma dengan senyum lembutnya.
"Ne. Sehun sudah sarapan ahjumma." Angguk Sehun walau ia hanya makan roti dan teh saja tapi itu sudah lebih dari cukup.
"Oh baguslah. Kau juga harus memakai baju hangat. Cuaca sekarang mulai terasa dingin." Ucap ahjumma dengan perhatiannya.
"Gomawo ahjumma atas perhatiannya."
"Tentu saja. Kau kan sudah ku anggap anak sendiri. Oh ya, sehunnie ini segera kau antar ke temlat biasa ya? Nanti kau keburu telat pula."
"Nde ahjumma."
Setelah ia mengambil koran tersebut, Sehun bersepeda sesekali memandang jam tangannya, rumah yang ia tempatinya berada tidak jauh dari komplek perumahan mewah.
Sehun menghampiri tiap rumah, lalu menyelipkan koran pada gagang pintu pagar.
Entah kenapa setiap kali Sehun mengantar koran, ia selalu berhenti di salah satu rumah untuk sesaat. Ia tidak mengatahui pasti siapa yang menempati rumah tersebut.
Penah suatu ketika ia bertanya pada satpan disitu. Satpam tersebut hanya menjawab bahwa rumah ini merupakan tempat kediaman pengusaha terkenal bernama Wu Yifan.
'Aku tak mengerti apa yang kurasakan tiap kali memandang rumah ini. Aneh... padahal aku sama sekali tidak pernah mengenal siapa penghuni rumah ini. Tapi setiap kali kemari, aku selalu memandang rumah ini.' Batinnya.
"Apa sih yang kupikirkan? Lebih baik aku segera ke sekolah." Gumamnya.
Kemudian Sehun berbalik dan bergegas menuju ke sekolahnya.
Sesampainya disekolah, Sehun meletakkan sepedanya di tempat khusus untuk sepedanya. Memang sekolahnya merupakan sekolah yang tergolong elite. Sehun beruntung masuk kesini karena suatu beasiswa.
Ketika melewati koridor sekolah, selalu saja cemoohan yang didengarnya saat ia lewat. Seolah ia adalah makluk hina dan ada saja siswa yang selalu saja membullynya. Padahal ia tak pernah mencari gara-gara dengan mereka.
"Dasar namja aneh, kutu buku, culun, albino, miskin, menyebalkan, anak yatim piatu, kau tau sekolah ini tak pantas untuk kau huni." Kata kata kasar itu terus mengiang ditelinganya.
Ia hanya diam dan menundukkan kepalanya sambil berjalan menuju ke kelasnya.
Bersabar adalah hal yang selalu ia lakukan. Bukannya ia tak berani melawan mereka, namun ia tak punya kuasa akan itu sehingga ia hanya diam saja.
Seuun tidak memiliki teman yang benar-benar teman disekolahnya. Hanya segelintir orang saja yang mau berteman saja namun itu pun dikarenakan atas dasar pelajaran.
Oleh karena itu, ketika jam istirahat yang ia lakukan hanya pergi ke perpustakaan. Ia ingin berhemat uang untuk biaya rumah sewaannya yang belum dibayar, lagipula makanan disini memiliki harga yang berkualitas sehingga ia sering kali membawa bekal dari rumah. Namun hari ini dia tidak sempat membuat makan siang. Alhasil ia terdampar di perpustakaan sekarang
Setelah bel berbunyi, ia bergegas untuk pergi kerja paruh waktu di suatu cafe. Namun, sepertinya ia akan terlambat. Ban sepedanya dikempeskan oleh orang-orang yang tidak ada kerjaan, yang hanya akan selalu membullynya. Akhirnya dengan berat hati, ia pergi berjalan dengan membawa sepedanya menuju tempat kerjanya.
Pria bertubuh tegap membuka kacamata hitamnya. Ditatapnya lingkungan yang dia rindukan selama ini. Sudah 16 tahun lamanya. Dia benar-benar asing dengan tempat ini. Banyak hal yang berubah disini
Beberapa orang lain tampak menatapnya kagum dan terpesona. Bagaimana tidak pesonanya yang walaupun seudah berkepala 3 mampu membuat semua mata mengagumi dia. Namun ia hanya mengacuhkannya begitu saja, dengan segera menarik kopernya menuju pintu keluar. Pria tersebut bernama Wu Yifan atau yang sering disebut Kris
Namun, pria itu harus menghela nafasnya saat beberapa pria dengan setelan jas hitam mendekatinya dan mengambil kopernya.
Ia berjalan mendahului para bodyguardnya menuju ke arah mobil yang kinj terparkir paling mencolok dibanding mobil-mobil lainnya.
Dirinya ingin lekas masuk karena risih dengan tatapan kerumunan orang yang kini memotretnya. Tetapi seseorang dengan setelan jas mahalnya keluar dari mobil. Saai itu juga, ia tersenyum tipis.
"Chanyeol." Pekik Kris kaget. Kedua pria tampan itu saling berpelukan dan menepuk pundak masing-masing.
"Kau terlihat dewasa dan tinggi sekali." Ucap Chanyeol dengan seulas senyum tipis dibibirnya. Kris terkekeh pelan.
"Aku sempat putus asa akan mati kebosonan karena berada diantara orang yang tak kukenal. Tapi kau datang, aku jadi sedikit senang." Jawab kris renyah. Chanyeol pun mendelik.
"Sedikit senang? Lalu apa? Apa yang membuatnu sangat senang? Bertahun-tahun selalu menjadi orang depresi dan menyedihkan." Celetuk Chanyeol.
Kris tertegun. Pikirannya menuju pada kejadian dulu. Suatu perasaan yang menyiksanya.
Menyadari perubahan ekspresi sepupunya Chanyeol menepuk pundaknya. Menariknya untuk masuk mobil. Mobil pun melaju.
Kris menerawang keluar jendela mobil. Masih dengan ekspresinya yang sama . Kris berguman.
"Chanyeol-ah, kejadian 16 tahun yang lalu, bukankah membuatku menjadi pecundang"
TBC
YOU ARE READING
Sorry
Fanfictionseorang remaja lelaki yang begitu membenci sang ayah sendiri tanpa mau mendengarkan alasan sang ayah. Hingga bahaya-bahaya pun datang ke arahnya. apa yang harus ia perbuat? apakah ia akan tetap membenci ayahnya? apakah pengorbanan sang ayah yang dil...
