Note : Trailer 2098 di mulmed
27 Mei 2098
"Ini sudah saatnya, kita tidak bisa mengamatinya hanya dengan duduk diam disini dan menerka hasil yang penuh dengan ketidakpastian"
Mereka berjalan melalui lorong lebar bercat putih, dengan cahaya lampu yang membuat siapapun bisa melihat dengan jelas siapa kedua orang itu, lorong itu sepi seolah memang sengaja diasingkan.
Mereka berbelok melewati beberapa ruangan yang ditutupi dengan kaca transparan, tampak beberapa orang sedang sibuk dengan pekerjaaanya masing masing.
Wanita itu menatap laki laki disampingnya yang sedang sibuk membaca beberapa dokumen di tangannya. "Bagaimana jika..."
"Kau seharusnya menghitung sudah berapa kali dalam sehari kau mengatakan kalimat itu..." Laki-laki itu menjawab tanpa menatapnya, dia membalik lembaran dokumen lain yang berada ditangannya.
"Kau juga seharusnya menghitung sudah berapa kali dalam sehari kau memotong kalimatku" Kata wanita itu sinis.
Laki-laki itu berhenti,keningnya berkerut menatap wanita yang terus berjalan tanpa memperdulikannya, menyadari bahwa laki-laki itu sudah tidak ada disampingnya, wanita itu menoleh dan menatap laki laki itu heran.
"Ayolah Andri, bukannya kau sangat ingin bertemu dengannya?" Wanita itu menatap laki-laki yang berusia awal 50 tahun sambil tersenyum.
Selamat pagi Profesor Andri...Selamat pagi dokter Lona
Suara robot wanita berbentuk persis seperti manusia asli, dengan tonjolan berbentuk seperti bola berwarna biru berada dikepalanya yang sedang membersihkan lantai di lorong itu membuat laki laki itu menyingkir dan berjalan menyusul dokter Lona.
Mereka berjalan menelurusuri lorong itu tanpa sepatah katapun, di ujung lorong terlihat sebuah pintu berbentuk lingkaran dengan diameter 2 meter, terbuat dari beton yang dilapisi dengan timbal dan aluminium berwarna silver. Pintu itu terbuka, terlihat sebuah benda berwarna hitam mengganjal pintu tepat dibagian tengahnya membuat kedua orang itu saling tatap, mereka mempercepat langkahnya dan berhenti tepat didepan pintu.
Terlihat sebuah kepala terjepit dibagian tengah pintu, dengan cepat profesor Andri menuju sebuah sensor pendeteksi wajah yang berada tepat disamping pintu. Alat itu mengeluarkan sinar hijau bergerak vertikal dari ujung rambut ke ujung dagu profoser Andri, alat itu berhenti setelah menampilkan wajah profesor Andri di monitor sensor, suara bip menunjukan bahwa pintu itu terbuka.
Dokter Lona membantu memindahkan seorang penjaga kebagian samping, diujung tembok di dekat pintu.
Mereka berjalan dan berbelok menuju sebuah kamar yang tidak memiliki pintu. Kamar bercat putih tanpa jendela dan ventilasi udara itu berbentuk kubus dengan luas 10 x 10 x 10 m lengkap dengan kamar mandi yang berada disudut ruangan dan lemari kecil disamping tempat tidur.
Dokter Lona memperhatikan seorang laki laki berusia 18 tahun sedang berbaring di tempat tidurnya, mengotak atik rubik yang berada digenggamannya.
Dokter Lona tampak lega melihat bahwa laki-laki itu masih berada disana.
"Hei, bocah! Apa yang telah kau lakukan!" Kata profesor Andri sedikit berteriak.
Anak laki laki itu tidak bergeming, masih sibuk dengan rubiknya.
"Hei bocah!" Profesor Andri berteriak marah.
"Diamlah atau akan aku buat kau seperti mereka" Kata anak itu tenang, seolah tidak ada hal buruk yang terjadi.
Dokter Lona menatap profesor Andri dan menyuruhnya untuk diam. Dokter Lona berjalan menuju ketempat tidur dan duduk disamping laki laki itu.
"Ada masalah apa Ray? Kenapa kau melakukan hal seperti itu?"
"Kau cukup pintar menyuruh penjaga tolol untuk menjagaku" Anak laki laki bernama Ray itu menjawabnya malas-malasan.
"Tapi kenapa kau sampai membunuh mereka?"
Ray menghentikan permainan rubik nya lalu menatap dokter Lona dengan ekpresi yang menunjukan betapa bodohnya manusia yang berada didepannya sekarang. "Itu yang kau pikirkan?" Tanyanya kemudian.
"Memangnya apa yang akan kami pikirkan setelah kau membunuh para penjagamu diluar sana?" Kali ini profesor Andri melangkah maju menatap Ray dengan tatapan tidak suka.
"Hai bodoh kemarilah, biarkan aku melihat wajahmu" Ray bersikap acuh tak acuh
"Bernainya kau mengataiku seperti itu bocah tidak tahu sopan santun!" Profesor Andri menatapnya dengan wajah kemerahan menunjukan bahwa dia sangat marah.
"Kemarilah, mendekatlah kalian berdua"
Dengan kesal sekaligus marah profesor Andri melangkah dan berdiri disamping dokter Lona.
"Sekarang berikan penjelasanmu" Seru dokter Lona
Ray menatap secara bergantian kedua manusia yang berada didepannnya, dokter Lona menatapnya dengan dahi berkerut sedangkan profesor Andri beberapa kali memalingkan wajahnya saat Ray menatapnya. "Apa kalian sudah memeriksa nadi para penjaga tolol itu?"
Dokter Lona dan profesor Andri saling tatap lalu menggeleng.
Ray mendesah pelan, lalu menatap kedua orang itu dengan ekspresi seolah olah dia sedang menatap dua orang paling bodoh sedunia. "Sudah kuduga kalian memang sama tololnya dengan penjaga itu". Ray merebahkan diri dikasurnya lalu kembali sibuk dengan rubiknya. "Aku tidak bodoh seperti kalian yang akan melarikan diri tanpa uang sepeser pun" Katanya tenang.
"Raymond..." Dokter Lona mencoba menyentuhnya.
"Cukup untuk hari ini, aku tidak ingin diganggu lagi oleh orang bodoh seperti kalian, kecuali kalau kalian memang benar benar ingin ku bunuh"
"Sudahlah, ayo..." Dokter Lona menggamit lengan profesor Andri lalu membawanya keluar dari kamar Ray.
"Dasar anak kurang ajar" Seru profesor Andri sambil berjalan menjauhi Raymond.
"Aku masih bisa mendengarmu botak"
Profesor Andri menoleh, dan hampir membalas kalimat Ray kalau saja dokter Lona tidak segera menariknya keluar.
--2098--
____________
11 Mei 2017
ŞİMDİ OKUDUĞUN
2098
Bilim KurguGenre : Sci-Fi, Romance, Drama, Adventure, War Dunia selalu diciptakan dengan seimbang baik atau buruk segalanya memilki pasangan dan saling berdampingan. Tapi ketika salah satu mendominasi maka kesimbangan itu akan beralih ke arah kehancuran tidak...
