Aku mengagumimu, apakah itu salah? (Part a)

158 11 8
                                        

"Apakah aku harus mempersalahkan hatiku yang tiap kali berontak saat bertemu kamu, bahkan hatiku tak mampu lagi memaknai apa yang kurasakan saat senyum itu hadir dihadapanku__Lalu jika aku mengagumimu, apakah itu salah?"

Ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah libur semester selama satu bulan. Kegiatanku sebagai ketua mading membuatku sedikit sibuk di awal-awal masuk sekolah, terutama saat masa orientasi siswa baru. Entah kenapa hari ini untuk pertama kalinya aku sedikit terlambat menuju sekolah menggunakan ninja hijau yang selama dua tahun telah setia menemaniku dalam suka dan duka. Aku tiba di sekolah tepat lima menit sebelum bel berbunyi. Aku mulai mencari tempat parkir, seperti biasanya pojok kanan adalah tempat parkir yg selalu kutempati. Kemudian ku berlari menuju kelas yang berada tidak jauh dari tempat parkir itu.

Brukkk...!!!

Dari arah yang berlawanan wanita berambut hitam dan sedikit bergelombang menabrakku, secara spontan buku-buku yang ada di tangannya berjatuhan.

"Sorry... aku gak sengaja", ucapku memberi senyum yang hangat.

"i..iya. Gak apa-apa", sahutnya sedikit gugup dengan tatapan teduh terhampar di wajahnya.
Segera aku meninggalkannya dan menuju kelas karena takut telat, sebentar lagi upacara bendera akan segera di mulai. Maklumlah sebagai siswa yang punya reputasi bagus di sekolah favorit yang ada di kota Bandung, tentunya aku akan memberikan teladan yang baik di sekolah ini.

Perlahan langkahku meninggalkan wanita yang memiliki tatapan hangat itu. Secara tersembunyi, aku melemparkan pandanganku kembali menoleh ke belakang melihatnya yang masih mengambil bukunya yang berserakan.

"Wanita yang sederhana, polos dan cupu banget, tapi dia cantik, senyummu seakan membuatku bergetar, itu sebabnya aku segera pergi tanpa memperdulikanmu", ucapku dalam hati sembari menaruh tas ranselku di atas meja. Lalu siapa dia? kenapa aku baru melihatnya, apa dia siswa baru atau siswa pindahan. Aku menggerutu dalam hati seiring langkahku mulai menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera untuk pertama kali setelah liburan panjang.

***

Setelah upacara bendera selesai, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut sekolah mencari sosok yang ku temui pagi tadi. Hatiku masih bertanya siapa wanita itu yang memiliki tatapan hangat itu, setelah beberapa detik ku menoleh ke kiri dan ke kanan, terlihat dia ada di depan ruang kepala sekolah, sepertinya sedang menunggu seseorang. Pikiranku menerka dengan cepat, dia adalah siswa pindahan. Terlihat Ibu Melinda menemuinya dan mengantarkannya ke kelas XII Ipa 3, namun pikiranku selalu saja bertanya, siapa dia? lalu kenapa dia harus pindah di tahun terakhir, apa dia punya masalah dengan sekolahnya yang dulu? Tapi aku rasa tidak, wanita sepolos dia punya reputasi buruk sebelumnya, karena sekolah ini tidak mungkin menerima siswa yang punya masalah. Kenapa aku sangat percaya sama dia, aku belum mengenalnya, apa aku mengaguminya terlalu cepat hanya karena sebuah tatapan yang aku suka. Gerutuku yang sangat panjang tiba-tiba di buyarkan oleh Molen, sahabat terbaikku dari SD hingga sekolah menengah atas. Wajahnya manis, berkulit putih, tinggi yang proporsional dan sangat hobi bermain basket. Reputasinya di sekolah ini sebagai cowok populer tidak diragukan lagi, tapi kelemahannya cowok ganteng ples populer itu tetap saja tidak jauh dari sifat playboy. Sedikit sih, gak banyak. Dia hanya terlalu baik kepada setiap wanita yang menawarkan cinta kepadanya. Hingga pada ujungnya dia harus memutuskan satu per satu wanita itu karena alasan tidak cocok. Buat aku, dia adalah sahabat terbaik aku sampai kapanpun.

"Yaelah, ngeliat apa Al? sampai gak kedip-kedip tu mata? kayak liatin bidadari aja", ucap Molen mengagetkanku.

"Tepat banget Mol, aku emang lagi merhatiin bidadari paling cantik di sekolah ini", jawabku polos dengan garis senyum melengkung di wajahku.

Wait Me After RainDove le storie prendono vita. Scoprilo ora