Chapter One-Biru Lasmi.

27 4 11
                                        

Kenapa ya setiap kali ngeliatin muka Oppa Korea itu bawaanya baper? Kayak nggak mau lepas aja mata dari laptop kalau lagi nonton drama.

Hari minggu adalah waktu yang paling pas buat berleha-leha menikmati hidup sambil nyemil dan nonton, meskipun drama hasil download di blog gratisan, tapi itu enggak ngurangin rasa seru dari ceritanya kok. Apalagi pas ngeliatin cast-nya yang pada cantik sama ganteng, udah klop banget deh. Tanpa kekurangan. Mungkin aja, sutradara yang produksi drama Korea itu nambahin micin di dalam dramanya jadi penonton itu ketagihan terus. Gara-gara itu aku enggak pernah ngelepasin ritual nyelesain 1 judul drama dalam 1 hari.

"Tok...Tok..Tok."Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar dengan kuat. Kegiatanku menjadi terusik karena suara bising yang dibuat oleh bunyi tersebut.

"Iya, ada apa?" Tanyaku untuk segera menyelesaikan bunyi ketukan di pintu.

"Lasmi! Kamu cepat keluar sekarang!"Ibu memarahiku karena sudah sejak kemarin malam aku belum keluar dari kamar karena menonton drama terus menerus.

"Bentar lagi Bu, tanggung tinggal satu episode lagi." Aku berusaha untuk membujuk Ibu memberikan waktu lebih lama lagi.

"Ayo cepat keluar sebelum Ibu bakar laptop kamu itu!" Oh tidak, nada ancaman yang terdengar menyeramkan, aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ibu ketika melakukannya.

"Iya Bu, tunggu sebentar." Berberat hati aku segera mematikan laptop demi keselamatan benda itu sendiri. Selamat tinggal Oppa, aku berjanji tidak lama lagi tepatnya sehabis membantu Ibu kita akan bertemu. Lalu aku melayangkan ciuman di udara untuk mengucapkan selamat tinggal.

Di depan pintu kamar kulihat matahari sudah tampak tinggi dan terik menerangi seisi rumah, menyilaukan mata. Ibu menatapku dengan pandangan serius sambil melipat kedua tangannya di dada dan aku membalasnya dengan tersenyum menyengir.

"Sekarang kamu bantu Ibu anterin pesanan kue ini ke Bu Koni." Kata Ibu sambil memegangi kantung berisikan kue. Nah pas sekali, Bu Koni adalah Ibu dari Heni yang merupakan sahabat karibku, sekalian saja aku akan bercerita kelanjutan dari drama yang kutonton tadi. Walau Heni tidak begitu suka dengan hal-hal berbau Korea terutama dramanya karena menganggap itu merupakan hal konyol, fiktif dan berlebihan tetapi lihat saja, aku akan mempengaruhinya secara perlahan-lahan agar ia bisa merasakan seberapa bahagiannya perasaan setiap kali menonton drama.

"Okey Sip Ndoro." Aku memberikan hormat kepada Ibu seperti seorang prajurit kepada jendral.

Ku kayuh sepeda biru tua pemberian Ayah pada saat SMP dulu menelusuri jalan komplek, di sepanjang perjalanan aku menyanyikan lagu Spring Day milik BTS untuk menghibur diri.

"Bogo sipda ireohge... nananana....deo bogo...nanana... sajineul bogo isseodol." Nyanyiku sedikit mengacau karena tidak terlalu hafal liriknya.

Di depan teras rumah Heni, aku melihat Bu Koni sedang sibuk merapikan tatanan bunga koleksinya. Beliau memang suka memelihara berbagai macam jenis bunga, mulai dari mawar, anggrek, hingga melati, untung saja Bu Koni tidak menanam bunga bangkai juga.

"Halo Bu Koni cantik." Sapaku sambil tersenyum kearah Bu Koni, kusandarkan sepedaku ke tembok rumah dan mengambil kantung berisikan kue pesanannya.

"Eh Lasmi, nganterin pesanan kue ya?" Bu Koni membukakan gerbang untuk mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah.

"Iya, ini kue pesanan Ibu. Ngomong-ngomong Heni ada di rumah enggak?" Kepalaku celingak-celinguk melihat keberadaan Heni, berharap dia sedang ada di rumah.

"Ada kok, baru aja dia balik dari rapat kantornya. Cari aja di kamar Heni paling dia lagi tiduran sekarang." Lalu Bu Koni membuka bungkusan kue yang berisikan cheese cake buatan Ibu, bau harum menyerbak keluar dan bisa dibayangkan sendiri betapa nikmat kue tersebut.

BidulgiStories to obsess over. Discover now