1. Prolog (Penglihatan Kedua)

89 13 14
                                        

Suasana di kelas begitu ramai, riuh tawa terdengar menggema. Aku tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Lebih tepatnya, aku tidak peduli.

Perlu diketahui, namaku Misha. Seorang siswi SMA, kelas 11. Aku duduk di bangku pojok depan, berhadapan persis dengan meja guru.

Aku menatap kaca pada jendela di sebelah ku yang menampakkan bayangan seisi kelasku.

Beberapa tikus berjalan kesana kemari mencari contekan, mungkin itulah satu-satunya usaha terbaik yang dapat dilakukan oleh para tikus itu.

Aku tidak dapat menyalahkan para tikus itu. Lagi pula, penjelasan materi dari gurunya begitu abstrak, hampir tidak ada yang mengerti.

Namun, ada beberapa dari kucing di kelas kami yang justru mampir di kantin untuk makan. Aku sangat paham, volume otak mereka terlalu kecil untuk paham dengan etika.

Jika kalian berfikir aku keterlaluan karena merendahkan mereka, maka kalian salah. Aku hanya mengungkapkan fakta.

Sebuah fakta yang tidak masuk akal dan tidak dapat di nalar dengan logika.

Karena, aku dapat melihat mereka dalam bentuk... seperti apa mereka di kehidupan sebelumnya, hanya dengan melalui sebuah pantulan.

Seperti yang aku sebutkan tadi, beberapa teman sekelas ku di kehidupan sebelumnya, mereka adalah seekor tikus dan kucing.

Hanya ada beberapa manusia yang kulihat di kelas ini dan hanya mereka lah yang memiliki etika selayaknya manusia.

Sejujurnya, aku tidak pernah nyaman dalam kegiatan bersekolah. Berinteraksi dengan para hewan itu membuatku sedikit stres.

Aku bukanlah seorang pecinta hewan yang akan langsung menerima keberadaan mereka.

Satu hal, aku tidak pernah menyukai hewan, namun bukan dalam arti aku membenci mereka. Hanya saja, aku merasa geli dengan hewan.

Mereka terlalu berbulu, membuatku bergidik setiap di dekatnya. Berbulu maupun tidak, aku tetap tidak menyukai hewan.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku men-jomblo. Membayangkan diriku sedang berpacaran dengan hewan saja mampu membuatku merinding.

Aku tidak pernah memiliki sahabat. Aku hanya memiliki beberapa teman yang akan berganti setiap tahunnya.

Banyak orang yang menilai aku ini bersifat individual dan aku tidak berniat menyangkal hal tersebut. Karena, pada kenyataannya aku memang tidak suka berinteraksi dengan orang.

Banyak orang berlalu lalang dalam hidupku. Namun, mereka hanya sekedar mampir sejenak lalu pergi.

Tidak ada hal yang menarik, semuanya masih sama, terasa hambar.

Tidak ada satu orang pun yang berniat bersamaku. Yah, kecuali keluargaku - tentu saja-.

Mereka mengetahui kemampuanku, karena sejak kecil aku sering mengatai orang sesuai dengan wujud dalam kehidupan sebelumnya. Awalnya mereka mengira aku ini anak kurang ajar dan semacamnya. Hingga akhirnya, mereka menyadarinya.

Namun, ternyata bukan hanya keluargaku saja yang sadar dengan kemampuanku.

Sekelompok orang tidak kukenal berusaha merekrut diriku untuk menjadi bagian dari mereka.

I SEEWaar verhalen tot leven komen. Ontdek het nu