"Aku tidak menyesal. Aku tidak pernah mengatakannya bahwa aku menyesal. Bertemu denganmu dan dengannya, adalah hal terbaik yang pernah terjadi di dalam hidupku. Hanya saja mungkin memang takdir tidak berpihak pada kita. Tapi aku tidak pernah benar-benar menyesalinya"
***
Musim gugur. Kutatap sehelai daun yang jatuh di pangkuanku. Dingin, kedua lututku bergetar menahan hembusan angin malam. Kuremas kedua tanganku hingga merah. Entah sudah berapa lama aku duduk bersamanya di bangku taman ini. Kugigit bibir bawahku resah. Apa yang kutunggu? Bukankah diriku sendiri yang memulainya? Kutarik nafasku dalam dan kupejamkan kedua mataku menghitung hingga angka sepuluh di dalam hati sebelum akhirnya kutolehkan wajahku pada sosok jangkung yang kini tertunduk di sebelahku. Kutatap sisi wajahnya, hembusan angin bermain di antara helaian rambutnya membuat kedua sudut bibirku merenggang tipis. Aku ingin menghentikan waktu sekarang ini dan duduk menatap setiap sudut wajahnya. Aku ingin menahannya di sini, si sisiku sedikit lebih lama lagi. Hanya sedikit. Tapi, aku sadar dengan benar, aku tidak bisa melakukannya.
"Oppa"sahutku kemudian. Kedua matanya yang sedari tadi terpejam terbuka dan kedua manik matanya lurus menatapku. Jujur, hatiku seketika melemah. Aku ingin segera beranjak pergi dan berlari sejauh mungkin. Karena akan lebih sakit jika aku mendekapnya dan memeluknya seperti yang kuinginkan.
"Sebenarnya...". Kulihat tatapannya berubah sendu. Nyaliku sedikit menciut, keberanian yang kukumpulkan beberapa hari ini perlahan memudar. Tapi, aku tidak bisa mundur lagi.
"Tidak bisakah oppa kini memilih salah satu?"
Laki-laki itu menghela nafas panjang, membuat asap putih lembut keluar dari mulutnya. Ia mengalihkan wajahnya, menengadah menatap langit malam gelap. Kedua matanya kembali terpejam pelan. "Entahlah, aku..."ada keraguan dalam suaranya. "Aku tidak bisa..."ia menunduk dan menggeleng pelan.
"Begitu..."kupalingkan wajahku kembali menatap kedua lututku yang makin mengigil. Rasa sakit dan kecewa mulai menjalariku. Menusuk setiap sel dalam tubuhku, serasa diriku perlahan dikoyak dari dalam. Tapi aku harus menahannya. Tidak, aku tidak boleh menangis sekarang. Aku tau konsekuensi ini, dari awal seharusnya aku siap menerima semuanya.
"Kalau begitu... Bagaimana kalau aku..."kuhela nafasku panjang. Berat, rongga dadaku serasa mengempis. Ada beban berat yang sudah lama tersimpan di dalam hatiku sampai saat ini dan aku rasa ini saat yang tepat untuk melepasnya. Aku harus melepaskannya. Harus.
"Oppa..."ku tatap laki-laki itu lagi. "Bagaimana..."kurasakan mataku mulai terasa panas. Alisku mengerut pelan, menahan tirai basah yang menyelimuti kedua pupilku sekarang ini membuat bayangan laki-laki itu sedikit memudar.Kurasakan sudut mataku mulai bergenang, tapi tentu saja aku tidak boleh menangis. Tidak untuk saat ini! Tidak dihadapannya
"Oppa, bagaimana kalau aku mundur saja??"
ESTÁS LEYENDO
Entangled
FanfictionKetika takdir membawamu di antara dua pilihan. Ketika kebahagiaanmu tak lagi berarti. Kemana kau akan melangkahkan kakimu? Di saat semuanya akan membawa dirimu jatuh?
