Perempuan yang Sering Kita Bicarakan

114 6 6
                                        

Seseorang telah mencuri hatinya. Hati yang sangat ia lindungi selama ini. Malam itu aku sedang menyelesaikan sebuah projek video yang kugarap beberapa hari belakangan ini. Jujur saja, aku senang dia datang menemuiku.

Andro namanya, dan dia sedang jatuh cinta.

Berulang kali dia bicara tentang perempuan si pencuri hati itu, beberapa kali ia mengumpat, "sialan, aku jatuh cinta, padahal aku sudah susah payah agar tidak jatuh cinta padanya!"

Aku masih dengan komputerku, sesekali menanggapinya dengan tertawa kecil, menganggap lucu tingkah konyolnya itu.

"Cinta itu lucu, padahal ia dicuri, tapi malah direlakan begitu saja," katanya lagi. Aku semakin merasa lucu karena dia begitu bodoh menanggapi cinta dengan begitu.

Tapi bila dipikir-pikir, masuk akal juga perkataannya itu.

Aku menyelesaikan bagian terakhir dari video itu. Lalu kututup semua window pada layar komputer, dan mematikannya.

"Siapa sih yang lagi kamu omongin? Aku?" kataku dengan nada bercanda.

Seketika Andro diam seolah menelan semua ucapannya. Aku merasa sedikit bersalah dengan pertanyaan atau pernyataanku barusan, walaupun aku perempuan, aku tidak merasa selalu benar.

"Hahaha... aku bercanda, Andro." Aku menyenggol bahunya dengan siku kananku. Ia tersenyum, dan kembali bicara.

"Perempuan itu, bukan orang yang sering kita bicarakan."

"Oh ya?" Aku terkejut karena, sungguh, sejak tiga tahun terakhir dia selalu melindungi hatinya dari perempuan lain.

Dia pernah bilang kepadaku kalau keseriusan cintanya bisa dibuktikan dengan menunggu, bahkan perempuan yang sering kami bicarakan itu mampu membuatnya betah berlama-lama dengan kesendirian. Konyol!

Meskipun aku salah satu perempuan yang mengaguminya, tapi karena hal itu aku menjadi malas dengannya. Bagiku, percuma saja mengharapkannya, sama seperti, percuma saja bertamu ke rumah yang ditinggal kabur pemiliknya.

"Sejak kapan pencuri itu datang?" kataku.

Andro diam, dahinya berkerut, ia berpikir, mungkin ia mencari-cari waktu kapan pertama kali ia bertemu dengan perempuan itu.

"Sepuluh tahun lalu," jawabnya singkat.

Aku tidak percaya begitu saja, setahuku ia bukan orang yang mudah mengubah perasaannya. Jadi aku mencurigai bahwa ia sengaja mencari-cari waktu yang lama agar tidak terlihat murahan. Sangat konyol.

"Kami pernah dekat," ia melanjutkan, "jadi dia tidak pernah datang, dia hanya kembali."

"Lalu bagaimana?"

"Aku rasa, aku benar-benar tidak bisa mengambil hatiku lagi."

"Ya sudah, kalau begitu, berikan."

"Kau menganggapku murahan, kan?"

Jujur saja iya, pikirku. Aku tidak berani mengatakannya langsung. Sebab pasti dia tidak akan terima dan mengungkit-ungkit seberapa menderitanya dia selama menunggu perempuan yang sering kami bicarakan itu, padahal itu kan pilihannya sendiri. Dasar bodoh.

"Ooh, tidak, tidak," kataku.

"Lalu bagaimana?"

"Soal perempuan yang sering kita bicarakan?"

"Iya," dia mengangguk.

"Hmmm... menurutku, menunggu adalah hal yang baik. Tapi jika ada hasilnya."

Andro mengangguk, lalu berkata dengan ragu, "aku tidak ingin menghianati komitmen yang selama ini kupegang teguh."

Aku diam sebentar, mencerna maksud dari perkataannya yang sedikit agak membuat kepalaku berputar, ingin sekali aku berbisik di telinganya menggunakan pengeras suara, "kalau kamu jatuh cinta, ya bilang saja. Jangan bodoh dengan merasa bersalah karena jatuh cinta!"

Perempuan Yang Sering Kita BicarakanStories to obsess over. Discover now