1

12 3 1
                                        

Malam yang dingin, sunyi, dan hampa, itulah yang Irina rasakan sekarang. Seperti tak ada kehidupan diruangan kecil yang ia huni sekarang, yang menjadi tempat tinggal nya 3 tahun belakangan ini. Berbekal uang pas-pasan hasil dari kerja kerasnya selama ini irina hanya mampu menyewa kamar kost dipinggiran kota Jakarta. Dulu, hidupnya lebih dari berkecukupan. Tapi karena ia memilih untuk keluar dari kehidupan yang menurut nya amat sangat melelahkan, inilah resiko yang ia harus jalankan sekarang.

"Hiks... Papa, nana kangen"
dirundung kesedihan yang tak berkesudahan 3 tahun belakangan ini Irina hanya bisa menangis dalam diam setiap malam nya. Irina tahu menangis tak akan mengubah semuanya, tapi hanya dengan cara itu yang ia bisa lakukan ketika merindukan sang Papa. Dengan berbekal selimut tipis irina meringkuk dalam diam dengan kesedihan yang mendalam. Kepingan memori 3 tahun lalu yang sangat menyayat dihatinya tak pernah bisa ia lupakan. Randa, satu nama yang selalu terngiang dalam pikiran nya. Satu nama yang mengubah kehidupan nya 5 tahun belakangan ini. Satu nama mengapa ia melakukan semua ini. Hanya karena Randa.

*

Waktu menunjukan pukul 01.30 malam. Seorang pria berdiri dipinggir balkon apartmen sambil memegang segelas air putih, entah apa yang ada dipikiran nya sekarang. Ia hanya termangu sembari melihat gemerlap nya kota Jakarta dari atas gedung apartmen nya. Mata dengan iris coklat itu mulai meredup, mengingat sesuatu. Lebih tepatnya, mengingat satu perempuan yang selalu ada dihatinya, yang ia tinggalkan.

"Irinaa.."
"Irina, maafkan aku.." Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan, ia tahu dengan kata itu tak akan pernah bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Bahkan ketakutan masih mengiang dikepalanya, hatinya teriris ketika memori-memori itu kembali menggerayangi ingatan nya. Hanya dengan satu nama, pondasi pertahanan nya selama ini runtuh seketika.

Full of PainStories to obsess over. Discover now