prolog

41 10 3
                                        

PROLOG

"lo harus janji ama gue ya na? ".kata sang lelaki dengan yang duduk di bangku dalam kelas,tempat les nya dengan memasang mimik wajah yang terlihat setengah bercanda.

"paan seh do?".jawab sang perempuan.

"lulus SMP nanti,pokoknya jadian!titik!gak trima penolakan!".sang lelaki kembali berkata.

"idihh,maksa nya najisin!"ledek perempuan itu.

"yee,biarin yang penting lo itu milik gue,tapi nanti ! makanya noh blajar biar cepet lulus trus nikah deh eh maksud gue tuh jadian"kata lelaki itu kembali.

"trus gue harus nunggu lo gitu?"kata perempuan itu sangat pelan,bahkan hampir tidak terdengar oleh sang lelaki.

"apaan tadi?"tanya lelaki itu dengan bingung.

"gak penting!udah ah!"kata perempuan itu dengan wajah kesalnya.memang,lelaki itu sulit untuk peka.lelaki yg menatapnya aneh itu,mengeluarkan tawa lepas.

Baper?seorang Deana baper?hahahhhh....Mungkin iya,mungkin juga enggak.namun siapa sangka? ia sudah terlanjur memegang perkataan Elwardo di pihak nya sendiri.

Keduanya memang sudah dekat sejak lama.saling melakukan canda tawa,saling melemparkan senyum dan sapa,bahkan mereka terlihat lebih dari " sekedar teman"

Namun semenjak deana mendengar ungkapan elwardo yang terkesan main-main itu,ia memutuskan untuk tidak berharap lebih pada janji itu. Atau bisa di sebut dengan kata penenang itu.ia juga memutuskan untuk menjagah jarak antara keduanya,agar tidak terkesan bahwa deana kegatelan pada elwardo.perasaan apakah yang deana alami saat itu sehingga ia bersikeras harus menjahui elwardo?entahlah...deana juga tak mengerti apa perasaan itu.

getting deeperTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang