ARGA - COL 01

12.3K 439 13
                                        

Hola ... what's up guys, ada yang kangen sama si Arga? cerita ini sering aku publish-unpublish ... kesel kan kalian hahaha... sorry... sorry ... enggak gue ulang lagi, jujur beberapa akhir ini, aku sering banget ngerasa males buat update cerita. termasuk cerita satu ini, karena kesibukan di real life yang bejibun hahaha... 

but, insyaallah, mulai sekarang, cerita si Arga ini akan aku update terus, entah waktunnya berapa kali dalam sebulan, yang jelas akan aku lanjutin, enggak enak juga sih lama-lama enggak nulis. 

so, enjoy my story and happy reading ... 

don't forget to vote and comment, okay!

***

Suasana koridor menuju kantin begitu ramai setiap kali bel istirahat telah dibunyikan. Langkah kaki pemuda berusia hampir delapan belas tahun tersebut terus menyusuri koridor sambil sesekali memberikan senyum dan membalas sapaan siswa siswi yang ia lewati. Arga Satria Hutomo, putra kedua dari Kenan dan Lusi yang memiliki wajah 95 persen mirip dengan kakak kembarnya—Arka—cukup populer di lingkungan sekolahnya, tak sedikit perempuan di sekolah itu yang mengidolakan Arga.

Sesampainya Arga di kantin, dia mengedarkan pandangannya mencari di mana teman-temannya berada. Di tempat biasa mereka duduklah Arga menemukan teman-temannya bersama dengan seorang perempuan mengenakan pakaian kasual sedang bercakap ramah bahkan sesekali tertawa bersama. Arga sedikit mempercepat langkahnya menuju teman-temannya.

"Halo, Bumil cantik," sapa Arga pada perempuan berpakaian kasual.

Perempuan itu menoleh ke arah Arga lalu tersenyum menanggapi sapaan Arga. "Ketinggalan terus, Ga," kata perempuan itu.

Arga duduk di sebelah perempuan tersebut. "Abis ngeladenin badut Ancol yang nyasar," jawab Arga malas. Dia mengambil gelas jus milik saudara kembarnya yang lain—Aria—lalu meminumnya hingga tandas.

"Itu, punya gue, Ga!" protes Aria.

Arga seolah menulikan telinga akan protesan adik kembarnya.

"Arka nggak ikut ke sini, Ra?" tanya Arga pada perempuan hamil tersebut.

Mora menggeleng, "Nanti dia nyusul," jawabnya.

"Tumben dia biarin lu pergi ke sekolah sendirian, biasanya juga nempel kayak perangko."

Mora tersenyum tipis pada Arga, saudara kembar suaminya. "Tadi dia ada rapat di kantor terus sekalian nanti ke sini sekalian jemput Anta di sekolahnya."

Kantin yang ramai seketika makin ricuh saat seorang lelaki memakai setelan formal masuk ke kantin sambil menggendong seorang bocah berusia tujuh tahun yang mengenakan seragam merah putihnya.

Perhatian penghuni meja Arga ikut menoleh ke arah sumber kericuhan. Di sana Arka sambil menggendong Anta berjalan santai ke arah meja Arga dan kawan-kawannya. Bocah yang ada dalam gendongan Arka meronta minta untuk diturunkan dari gendongan sang papa.

Kedatangan Arka dan Anta mengundang banyak perhatian siswi di sana, pasalnya sejak Arka masih menyandang status sebagai murid di SMA Nusa Pratama dia menduduki jajaran most wanted boy di sekolahnya. Jadi tak usah kaget jika suasana kantin tiba-tiba ricuh setelah melihat Arka berada di sana.

Arka yang sedang menggandeng Anta tiba-tiba berhenti karena sesuatu melingkar di lengannya yang lain dan bergelayut di sana. Arga yang melihat pemandangan itu reflek menoleh ke arah Mora yang sedang duduk di sebelahnya. Kakak iparnya itu diam memperhatikan suaminya dan perempuan tak tahu malu yang tiba-tiba saja bergelayut di tangan suaminya dengan tangan yang menggenggam gelas jeruk hangat erat-erat.

Covenant Of LoveDes histoires addictives. Découvrez maintenant