Dedicated to OrangeWriter
I found a love for me
Darling just dive right in and follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet
Oh, I never knew you were the someone waiting for me
Dengan nyanyian indah itu, tubuhku menggiringnya dalam ayunan lembut dansa. Di tengah ruangan ini. Di tengah pusat perhatian semua orang. Di tengah malam yang kan kukenang sepanjang masa. Kamilah sang raja dan ratu di puncak singgasana cinta.
Di dalam pesona indah iris mata hitam itu, bibirku tak berhenti tersenyum. Bola mata yang selalu menghipnotis sejak hari pertama kami bertemu. Mungkin kami masih terlalu muda untuk menyadari. Tapi di hari pertama aku menatap iris hitam itu, aku telah jatuh cinta.
***
9 Tahun Lalu.
“Lukisan yang bagus.”
“Kau bahkan belum melihatnya.”
Aku tertawa malu akan kalimat sarkastiknya. Yha, aku bahkan tak tahu lukisan apa yang kupuji itu. Ku sejajarkan tubuhku di sampingnya dan lukisan itu terpampang besar. Sebuah lukisan dimana terlihat dua objek berukuran kecil di tengah kanvas dengan pohon sakura mengitarinya.
“People fall in love in mysterious ways,” ucap gadis itu.
Alisku terangkat, “Ed Sheeran, eh?”
“Thinking Out Loud,” kulihat dia tersenyum dan berlalu meninggalkanku.
Kami bahkan belum sempat berkenalan, tapi satu fakta yang kutahu tentangnya. Dia mendengarkan lagu Ed Sheeran sebagaimana aku sangat menyukai penyanyi hebat itu.
***
‘Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
Mata itu berkedip. Cahaya lampu lantai dansa yang terpantul darinya berkelap-kelip. Seperti lampu-lampu perkotaan di malam hari
***
Kukejar gadis itu yang terus berlari. Kaki kecilnya membawa kami ke sebuah atap gedung. Lampu-lampu kota yang berkilau dalam gelapnya malam membuatku terhenti, kagum.
“Citylights,” suara itu menyadarkanku, dia sudah duduk di tepi atap. Aku mengikutinya.
Kulihat dia tengah asyik memakan Cuoppo Napoletano, makanan khas Milan yang dibelinya tadi. Lucu jika mengingat bagaimana dia bisa mendapatkan Euro untuk sebuah makanan. Dengan meminjam gitar seorang pengamen di dekat air mancur, ia menyuruhku untuk bernyanyi dan dia mencari penonton. Dia menjadikanku pengamen dadakan. Cukup gila, tapi cara itu berhasil untuk menyelamatkan perut lapar kami malam ini.
***
Kelopak mata itu menutup. Terbesit rasa takut dihatiku. Kurekatkan tubuh kami. Protektif.
I will not give you up this time
***
Sayup-sayup suara musik terdengar. Tepat di bawah gedung tua yang tak terlalu tinggi ini, terlihat pengamen tadi sedang berjalan sembari memainkan gitarnya dengan melodi yang lembut. Senyumku tertarik, “Perfecty sweet.”
“But darling just kiss me slow,” kualihkan pandanganku padanya. “You’re heart is all I own.. And in your eyes you’re holding mine,” dia bernyanyi.
Semilir angin seakan memperlambat suasana ini. Suasana paling tenang di hidupku. Dimana aku tak menyadari bahwa cinta telah tumbuh. Pada gadis asing ini. Di atas gedung asing ini. Di negara asing ini.
“Apa? Aku hanya menyanyikan lagu tanpa lirik yang dimainkan pria itu,” dia tampak tersinggung karena tatapanku. Aku hanya tersenyum gugup, dan kemudian menggaruk tengkukku.
“Apa suaraku sejelek itu?” dia menggurutu. “I’m such a mess.”
“When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath,” aku menatapnya dalam. “But you heard it, darling, you look perfect tonight.”
YOU ARE READING
Perfect - S.M (Ed Sheeran songfict)
Short Story"'Cause we were just kids when we fell in love Not knowing what it was." Ed Sheeran - Perfect.
