Langit mendung kala itu. Awan berkumpul di langit, bergerombol dengan warna keabuan yang hampir serupa dengan warna langit malam, menyembunyikan kerlip bintang yang biasanya berhamburan di angkasa. Bulan tergantung tinggi di langit, sinar peraknya tersaingi lampu-lampu yang juga menyorotkan cahaya di bumi, tanda alam mulai timbul tenggelam di balik peradaban.
Genangan air di sudut-sudut jalanan aspal memercikkan air kotor ketika kakiku tak sengaja menginjaknya. Cipratan kecoklatan membasahi gulungan celana denimku yang semata kaki. Gerimis masih membasahi bumi, tetes-tetesnya menumbuk permukaan tanah dengan suara pelan yang tersamarkan oleh para pedagang yang sahut-menyahut menjajakan dagangan mereka di sepanjang trotoar, oleh riuh percakapan di setiap gerumulan manusia, oleh hela napas yang tertahan bersama embusan udara sejuk bersuhu rendah.
Suasana asing membentang di sekelilingku, menjadi santapan pandangan mataku yang awalnya hanya bisa mendapatkannya dalam lamunan kala terlelap. Aku lagi-lagi menggulung ujung celana yang mulai turun ke bawah mata kaki, kemudian kembali berjalan sambil merasakan hangat genggaman ibu di tanganku.
...
Bukankah ombak, serta desiran angin yang menyapa butiran pasir pantai selalu ada di sana?
Tidak pernah pergi, dan akan selalu ada ketika kau membutuhkan mereka.
...
Kami berjalan tanpa mengetahui arah, hanya mengandalkan intuisi kuat yang sudah terpaku pada tujuan. Aku berjalan di depan ibu ketika langkah kami menjejak sebuah jembatan kecil yang terbuat dari papan kayu yang cukup kuat untuk menahan kami berdua sekaligus, tapi tidak cukup lebar untuk menampung kami berjalan bersisian.
"Masih jauh?" tanyaku pelan, dipenuhi euforia tertahan yang sudah mengendap dari jauh hari.
"Sebentar lagi."
Aku tanpa sadar menahan napas. Jawaban ibu membuatku semakin menajamkan kelima indraku. Didorong oleh rasa penasaran, aku mulai mendengar suara deburan ombak, dan mencium aroma asin khas laut. Mataku memicing dalam gelap, berusaha melihat laut di kejauhan yang terhalangi kios-kios pedagang.
Entah itu hanya imajinasi atau kenyataan yang terlalu meragukan untuk menjadi nyata, tapi selang beberapa langkah kemudian, aku merasakan embusan angin semakin terasa dingin, dan mendengar gemuruh ombak, yang bergulung menghantam butiran pasir, semakin terasa memekakkan telinga, juga menyukai bagaimana laut terlihat seperti berliter-liter cat hitam yang tak sengaja tumpah oleh tangan tak kasat mata.
...
Bukankah hangat?
Ketika kau bisa merasakan mereka selalu ada di sana,
bahkan ketika kau berada di titik terendah sekalipun.
...
Indah, aku membisikkan kata itu dalam hati, berharap agar angin membawanya pergi ke suatu tempat di mana rasa syukur yang kucurahkan dalam satu kata itu bisa terdengar oleh-Nya. Aku bersyukur bisa merasakan hela napas yang kuhirup di setiap detik kehidupanku. Angin dingin menerpaku, tapi rasanya hangat ketika aku menyadari bahwa ombak hitam yang menari-nari di depan mataku adalah sebuah hal indah yang amat berharga. Begitupula kehidupan yang sudah kulalui, kehidupan yang sedang kulalui, dan kehidupan yang akan kulalui. Untuk segalanya.
...
Ombak itu perjuangan.
Gemuruhnya selalu terdengar ketika ia memecah karang.
Saat ia berusaha meraih daratan walau ketidakmungkinan terbentang jelas di hadapannya.
...
Aku mendongakkan kepala, tepat ketika setetes air membasahi puncak hidungku. Tanpa dinyana, gerimis menderas menjadi hujan. Ibu, setengah menyeretku, berjalan ke arah warung-warung kecil yang berjejer di sepanjang garis pantai. Aku mengikuti, mengumpat pelan karena sebenarnya masih ingin menikmati pemandangan laut dari jarak yang amat dekat. Kami menghampiri bapak yang sedang berbincang dengan temannya. Mereka memang terlebih dahulu tiba di sana.
Aku termenung menatap mereka yang sibuk berbincang untuk menghabiskan waktu di tengah dekap hujan. Aku menghela napas, bosan, merasakan mie cup yang kupegang masih terlalu panas untuk kumakan isinya.
Bapak melihat gurat kebosanan yang mungkin tertulis besar-besar di wajahku. Ia mulai bercerita, tentang pantai itu, tentang lautnya, tentang para nelayan, tentang perjuangan mereka, tentang hidup. Dan aku mulai merasakan kehangatan yang familier itu lagi.
Ketika hujan telah berhenti, aku buru-buru menghabiskan makananku. Bapak mengakhiri kisahnya, mengepulkan asap rokoknya yang terakhir, dan mulai beranjak. Di sela langkahku menuju penginapan, berulangkali aku menengok ke belakang, berharap dapat melihat deburan ombak yang sama untuk kedua kalinya di suatu masa yang akan datang.
...
Hangat itu akan selalu mendekap,
menyelimuti, ketika irama ombak mulai berdentum di dada.
Saat perjuangan hadir di setiap hela napas.
...
Malam itu akhirnya berakhir, tak peduli sekeras apa pun aku memohon agar sang bulan tak kembali menghilang dan digantikan oleh sinar mentari yang teriknya memberi hidup untuk bumi. Ibu di sampingku, terbangun dari tidur di ranjang yang sama denganku, sedangkan bapak di ranjang lain kamar penginapan, terlelap tak sepenuhnya pulas. Ada hangat yang sama, yang lagi-lagi terasa, bersama tenggelamnya malam dan terbitnya semburat surya yang mulai melayang di angkasa. Langit biru tak lama lagi muncul, dan kuharap kehangatan itu akan terus hadir di setiap kesempatan.
...
Karena hangat itu akan selalu ada di setiap kehadiran keluarga.
***
Telah diperbaiki. Terima kasih untuk Pewe_kive 😄
