Hay...
Ini adalah cerita pertama yang gua publikasikan. Semoga kalian suka ya... jangan lupa kritik dan saran serta votenya ya...
Lets enjoy it...
“mohon bersabar ini ujian” sahut salah satu dari lima gadis berseragam putih abu – abu yang sedari tadi dengan setianya mendengarkan segala curhatanku yang panjang x lebar x tinggi.
Kami berempat hanya menengok kearahnya sebentar dan kemudian kembali seperti semula. Aku tidak tahu kata – kata yang barusan di lontarkan itu merupakan respon serius atau respon candaan. Tapi yang pasti, jika itu respon candaan bagiku itu benar – benar tidak lucu. Menurut kami, Fara – temanku itu adalah satu – satunya orang di muka bumi ini yang benar – benar tidak bisa melawak. Selucu apapun kata – kata yang ia ucapkan, tetap akan jadi tidak lucu jika kata – kata itu terlontar dari bibir manisnya.
“hhhmm…” seru temanku yang lain. Dia tampak sangat serius.
“kal.. gua masih gak paham sama cerita lu” lanjutnya.
Respon yang benar – benar di luar dugaan ku. Aku kira kali ini Salma mengerti dengan apa yang ku ceritakan sebelumnya karena dialah yang paling serius mendengarkan ceritaku, tapi dia sama saja. Tidak ada perkembangan. Dia sangat telmi. Dan aku hanya bisa menarik nafas panjang dan kemudian meletakkan kepala ku di atas meja kantin ini.
“ehm… lu bisa ceritain ulang gak” pintanya tanpa rasa bersalah sedikipun.
“nih” selembar kertas berisi catatan menu makanan dan minuman disodorkan ke arahnya.
“lebih baik kalian berdua pesen makanan dulu. Dan habis istirahat nanti gua akan kasih tau kalian kesimpulan dari curhatan Kalea. Oke?” jelas Zika - orang yang tadi menyodorkan kertas ke arah salma.
“tapi kan gua mau denger langsung dari orangnya” sahut salma.
“Salma, itu percuma. Lu gak akan ngerti. Jadi daripada sahabat – sahabat lu ini kelaparan, lebih baik lu pesenin makanan untuk kita. Oke?” bujuk Zika yang kata – kata awalnya cukup pedas.
“nanti gua bagi hotspot buat nonton anime” lanjutnya. Dan kalimat itu berhasil membuat Salma bangkit dari duduknya dengan hati ‘ikhlas’
“oke, gua yang akan pesenin kalian makanan. Stay here beb” ucapnya. Dan langsung pergi bersama gadis yang sedikit tomboy, Fara.
“dua masalah selesai, dan lanjut ke masalah lu” ucap zika yang senang karena berhasil mengusir gadis tulalit dan gadis garing dari ‘rapat’ kami.
Kami bertiga terdiam sebentar. Lalu mereka kembali menatapku dengan serius.
"Kal, berdasarkan apa yang gua tangkep dari cerita lu, menurut gua itu cuman perasaan lu aja deh. Mungkin lu merasa kayak gini karena ketika lu sadar lu dalam keadaan amnesia. Jadi lu merasa semua yg terjadi di kehidupan lu terasa aneh." Lanjut zika dengan penuh ekspresi.
"Iya, dan tentang kakak lu, gua rasa lu gak perlu terlalu mikirin, deh. Karena memang dia gak cuman dingin ke lu aja, tapi ke semua orang dia dingin banget. Jadi gua rasa ya emang, sikap dia itu dingin." Sambung Aini.
Aku hanya mengangguk mendengar tanggapan kedua sahabat ku ini. Dan aku pikir, apa yang mereka katakan ini memang benar.
Selama ini, aku memang merasa selalu ada yang menjanggal dalam kehidupan yang aku jalani sejak aku tersadar dari koma ku.
Aku selalu merasa, meski aku sangat dekat dengan keluargaku, aku tetap merasa asing. Bagaimana menjelaskannya, aku sedikit bingung. Tapi yang pasti mereka memperlakukanku dengan sangat baik.
Dan kakak ku itu, dia memang orang yang sangat dingin. Dan aku juga merasa ada rahasia besar yang mereka sembunyikan dari diriku.
"Udahlah kal, dari pada lu mikirin sesuatu yang masih belum jelas. Lebih baik lu nikmatin hidup lu yang sekarang, dan lu harus bersyukur karena lu di kasih kesempatan untuk hidup lagi meski semua kenangan masa lalu lu harus hilang." Zika merangkulku.
Dan ya, kata-katanya sekali lagi benar. Aku harus mensyukuri hidupku yang sekarang.
"Dan lu juga harus bersyukur, karena kita ada disini buat mengisi kenangan lu dimasa nanti" sambung Aini yang entah sejak kapan ia pindah tempat duduk menjadi di sampingku.
Ya, aku senang. Meski harus mengalami kecelakaan besar dan juga kehilangan kenangan masa lalu ku.
Dengan adanya mereka, aku berharap agar bisa membuat kenangan penuh warna kedepannya.
YOU ARE READING
MEMORIES
Teen FictionLupa akan sesuatu memang sudah biasa. Baik itu lupa akan hal yang harus di lakukan di masa mendatang ataupun lupa akan hal yang pernah terjadi di masa lalu. Tapi bagaimana jadinya jika kalian harus melupakan segala kenangan kalian? Baik kenangan yan...
