"Senyum kamu bikin ribut"
Senin memang hari yang menyebalkan untuk semua orang khususnya siswa di SMA Merpati 01. Peraturan tetap peraturan yang harus dilaksanakan, setiap hari senin SMA Merpati 01 mengadakan pemeriksaan kelengkapan atribut sebelum upacara.
"Vero lagi Vero lagi. Capek mata saya liat kamu terus yang dihukum," Pak Ratno menggelengkan kepalanya.
Vero hanya terkekeh, "yah mau gimana lagi pak, kalo lupa ya saya bisa apa?"
"Alasan kamu itu lho, bikin saya kenyang. Setiap pemeriksaan, selalu saja kamu yang tidak lengkap. Apa kamu itu nggak punya topi?"
"Bapak ini gimana to, saya itu bukannya bikin alasan terus. Tapi keadaan yang memaksa saya," kata Vero dengan santai.
"Keadaan apa?" tanya Pak Ratno yang gelagatnya sudah mencium jawaban ngawur Vero.
"Keadaan lupa," tawa Vero hampir saja meledak melihat muka Pak Ratno yang benar-benar kesal.
"Saya itu heran sama kamu, bandelnya nggak ketulungan tapi otak encernya minta ampun," heran Pak Ratno.
"Itu berarti Tuhan adil pak. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan," Vero tersenyum manis. Siswi-siswi terpekik karena senyuman Vero.
"Sudah sudah kamu nggak usah senyum. Senyum kamu bikin ribut," kata Pak Ratno sambil mengibaskan tangannya didepan Vero.
"Padahal kata mama saya senyum itu ibadah," gumam Vero pelan.
Pak Ratno yang malas meladeni Vero pun akhirnya pergi sambil menarik tangan siswa terbandel di SMA ini.
"Loh loh Pak, saya mau dibawa kemana? Saya itu pengen ngerasain yang namanya upacara bendera," kata Vero.
"Makanya kalo mau ngerasain pake atribut yang lengkap!"
Disaat yang bersamaan Farah yang berlari dengan tergesa-gesa akhirnya menubruk Pak Ratno dan Vero. Sial, batinnya.
"Aduh duhhh. Farah kamu kalo jalan hati-hati," Pak Ratno jatuh terduduk disamping Vero.
"Ehh Farah, selamat pagi," kata Vero sambil menggosok-gosok kepala belakangnya yang terbentur lantai.
"Kamu kok masih bawa tas? Yang lain sudah kelapangan untuk upacara, kenapa kamu masih disini? Kamu telat ya?" tebak Pak Ratno.
"Hehe iya pak," Farah terkekeh. Vero hanya diam sambil memandang Farah dan Pak Ratno bergantian.
"Pak, Farah kan telat. Kok nggak dihukum?" tanya Vero dengan polos. Farah yang mendengar pertanyaan Vero pun membelalakan matanya dan segera memandang Vero. Namun yang dipandang hanya menatap polos.
"Apa?" tanya Vero dengan polos.
"Farah kamu ikut saya," Pak Ratno menarik tangan kedua anak itu ke ruang kelas baru.
"Sekarang kalian sapu dan pel ruangan ini. Meja-meja ini kalian atur sekalian," Pak Ratno meninggalkan mereka berdua yang tampak kesal.
"Lo bersihin sebelah sana gue bersihin sebelah sini," perintah Farah sambil menunjukan bagian mana yang harus dibersihkan Vero.
"Lah.. Harusnya lo dong. Lo kan cewek, pastinya lebih teliti daripada gue. Kalo gue nyapunya nggak bersih ntar lo marahin. Jadi sekalian lo aja yang nyapu," Vero berdecak pinggang sambil menatap Farah.
Sedangkan yang ditatap malah lebih menatap sengit. "Lalu, tugas lo apa?" tanya Farah dengan kesal.
"Laki-laki itu pemimpin, jadi gue berhak ngatur lo semau gue," jawab Vero dengan santai. Dia berjalan menuju meja dan segera duduk diatasnya.
"Lo lahir tahun berapa sih? Sekarang udah zamannya emansipasi wanita. Jadi lo nggak berhak ngatur-ngatur gue," "lagian lo siapa? Atasan bukan, orang penting bukan," emosi Farah tersulut.
Vero terkekeh karena berhasil memancing emosi Farah. "Kenapa lo tanya tahun gue lahir? Oh gue tau. Lo pasti mau bilang kalo gue masih imut walaupun udah berumur delapan belas tahun. Iya kan?" dia menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Farah.
"Dih ngapain gue harus bila..." perkataan Farah terpotong karena Vero yang tiba-tiba berlari dan membekap mulut Farah.
"Diem, lo denger sesuatu nggak sih?" tanya Vero dengan suara yang lirih. Farah yang ditanya pun hanya menggeleng karena dia memang tidak mendengar sesuatu. Tiba-tiba..
Kryyuukk... Farah membelalakan matanya dan mencoba melepas bekapan Vero. "Itu suara perut lo bego," Farah mendengkus dan melanjutkan menyapunya.
Vero terkekeh, "lo takut kan?" "Ngapain gue takut. Gue itu pemberani," kata Farah dengan angkuh.
"Eh Far, dibelakang lo ada... " raut Vero mulai berubah membuat Farah sedikit ketakutan. Perkataan Vero yang menggantung juga membuatnya menelan ludah.
"Ada apaan?" tanya Farah, tapi yang ditanya hanya diam dan memandang lurus kedepan. "Awas!!!" teriak Vero. Farah berlari lalu memeluk Vero. Dia merasa tubuh Vero bergetar, tak lama suara seseorang tertawa terdengar di telinganya.
"Lo bohongi gue ya?" Farah melepas pelukannya dan menatap tajam Vero yang masih tertawa. Dia kesal sekali, kenapa juga dia bisa tertipu sama cowok ngeselin ini.
"Gue ga bohongin lo kok, cuma nipu aja, " kata Vero disela-sela tawanya. Perutnya mulai kram karena kebanyakan tertawa. Semenit kemudian dia merasa ada yang menonjok pipi kirinya. Vero tersungkur, siapa yang berani menonjok pentolan SMA MERPATI 01? Kurang ajar sekali. Tak disangka ternyata dia...
Farah?
Vero tak habis pikir, badan sekecil semut tapi kekuatan segede gajah. Dia bangkit sambil menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.
"Bravo. Boleh juga kekuatan lo. Ok nih buat jadi pengawal gue," Vero tersenyum miring sambil menatap Farah yang dadanya naik turun karena emosi.
Tanpa pikir panjang, Farah pergi meninggalkan Vero yang masih sibuk menyeka lukanya di kelas kosong itu. Masa bodoh dengan omelan Pak Ratno, lagian omelan Pak Ratno nggak sepedes omelan Bu Tika guru bimbelnya.
***
Dengan langkah gontai Farah berjalan menuju kelasnya. Rasa kesal dan marahnya masih kental terasa. Ketika dia sampai di depan pintu, ia dikagetkan dengan suara teriakan Reina.
"Astaga Farah lo dari mana aja sih? Upacara nggak nongol, pelajaran jam pertama kedua nggak hadir, istirahat nggak keliatan,"
Farah tetap melanjutkan jalannya menuju bangku yang ditempatinya. Dia menelungkupkan kepala serta memejamkan matanya. Reina yang sedari tadi mencerocos pun akhirnya terdiam kesal karena tidak ditanggapi. Ia tau mengapa Farah jadi seperti ini, hanya satu biang keladinya siapa lagi kalau bukan Vero Rahardian.
"Diapain lagi lo sama Vero?" Farah yang ditanya seperti itu sontak mendongakkan kepalanya.
Reina sudah mempersiapkan diri untuk mendengarkan dongeng dari Farah.
"Lo tau nggak sih? Gue itu tadi pagi telat trus baru nyampe waktu pemeriksaan atribut. Buru-buru gue lari kelapangan buat upacara, eh gue nabrak Pak Ratno sama si Vero. Gue ketahuan telat deh, padahal gue udah berhasil kabur dari Bu Feni. Pak Ratno nyuruh gue sama Vero ngebersihin ruangan kelas yang kosong. Si Vero ga mau nyapu ya gue marah lah katanya dia itu laki-laki, dia pikir laki-laki itu pemimpin jadi dia bisa seenak jidatnya nyuruh gue. Ya gue nolak lah, trus dia bohongin gue. Langsung gue tonjok tuh pipinya, " jelas Farah.
Reina hanya menganggukan kepalanya, dia tak habis pikir bagaimana bisa Farah bercerita sepanjang itu tanpa jeda. Kelas yang awalnya berisik pun tiba-tiba hening seketika, karena teriakan seseorang.
"FARAHHH!!!!"
Farah yang merasa namanya terpanggil pun segera menoleh ke asal suara. Dia meneguk ludahnya. Gawat, batinnya.
---------
YOU ARE READING
Touch!
Teen Fiction" Ketika hati kembali tersentuh, diri tak bisa menampik getarannya " Biarkan aku menyentuh hatimu yang pernah terluka akan masa lalu. -Vero Rahardian Buktikan padaku jika kau benar-benar layak untukku. Layak untuk kucintai dan layak untuk kupertaha...
