Saffana Nasha

10.4K 253 22
                                        


Cerita ini aku publish juga di akun Sweek (Lattefairyhead) nama akunnya sama dengan nama akun aku di wattpad.

~

Saffana Nasha Arundaya

Artinya adalah Keindahan, kecantikan perempuan yang namanya wangi seperti saat terbitnya matahari. Tapi jika dicari artinya satu-satu adalah Mutiara, wewangian dan terbitnya matahari yang sebenarnya itu adalah nama belakang papanya..

Saffana namanya tapi ia lebih sering dipanggil Asha oleh orang-orang terdekatnya. Oleh papanya oleh mamahnya oleh kakek neneknya dan juga oleh kakak-kakaknya. Dan iapun juga senang dianggil Asha.

Jika ada yang memanggilnya dengan nama depannya ia akan marah, tentu dalam hal ini jika orang itu orang yang ia anggap dekat dan ia sayangi. Orang lain? Tak peduli, terserah mereka memanggil namanya bagaimana. Tapi ia akan sangat peduli jika orang yang ia harapkan memanggilnya dengan panggilan Asha, malah memanggilnya dengan nama selain Asha, ia akan marah.

Dan ketika seorang Saffana Nasha marah maka 3 kakaknya sudah siap memberi perhituangan pada seseorang yang membuat adik perempuan mereka satu-satunya marah.

Dan itu bukanlah suatu pemikiran yang bagus mengingat kakak-kakaknya itu akan menjadi trio tempur yang kompak dan tak terkalahkan jika menyangkut adik kesayangan mereka-dirinya.

Besok umurnya sudah menginjak 20 tahun tepat, itu artinya ia sudah dewasa jika melihat dari hal umur saja. Tapi pada nyatanya?

Ia masih merasa kurang, hatinya kosong. Bukan-bukan kosong yang seperti itu karena hatinya selalu penuh dengan-Nya. Kekosongan yang aneh.

Tapi kekosongan itu perlahan terisi ketika ia melihat seseorang itu pertama kalinya walaupun ya mereka bukan pertama kali bertemu. Sudah hampir 10 tahun ia tak melihat sosok itu.

"Ngelamun aja."

"Abang!" Pria ini selalu saja muncul tiba-tiba eh enggak juga sih soalnya dia juga yang ngelamun dan tak memerhatikan sekitar jadinya ya kedatangan pria itu tak ia sadari.

"Kakak-kakakmu belum pada datang?"

"Jangan membahas mereka, Asha kesal." Pria itu terkekeh dan ia bisa mendengarnya walaupun jarak duduk diantara mereka tidak dekat tapi juga tak bisa dibilang jauh.

"Bang Ghani sama bang Gafar gak bisa datang ya?"

Ugh kenapa pria ini mengingatkan akan kedua kakaknya yang berhalangan hadir diacara keluarga minggu ini. Membuat ia langsung bad mood walaupun pria itu ada disampingnya.

"Bang Ghibran juga telat sepertinya." Ini lagi satu, kakaknya yang paling ganteng itu bisa-bisanya telat karena urusan pekerjaannya kan dia kangen sama ka Zahra. Kangen curhat sama ka Zahra. Ka Zahra itu kakak ipar yang paling pengertian deh pokoknya.

"Mereka sudah berubah sejak menikah." Curhatnya walaupun sebenarnya ia juga tak menampik jika istri-istri dari kakak-kakaknya itu baik malah baik banget.

"Abang jadi ingat dulu, kakak-kakakmu itu seperti tameng yang siap melindungimu dari anak-anak nakal komplek." Mengenang masa lalu eh.

"Ba...bu..bu..bii."

"Iya Ita, bentar lagi ya kan bundanya lagi ke kamar mandi dulu." Balita yang baru menginjak usia dua tahun itu terus saja bersuara padahal tadi masih adem ayem. Talita, keponakannya pria itu hmm sebut saja Abrisam nama depan pria berumur 26 tahun.

Hmm 26 tahun adalah umur yang cukup matang untuk seseorang menikah terlebih jika sudah mapan. Baik mapan iman dan mapan harta. Pria disebelahnya ini? Jangan ditanya dia sudah memenuhi dua kriteria wajib itu. Ouh satu lagi sudah siap mental untuk memikul tanggung jawab besar dipundaknya.

JodohStories to obsess over. Discover now