Aku menarik lengan baju Gina berkali-kali dan memintanya untuk segera menghabiskan makanannya yang semenjak setengah jam tadi, sudah tersedia di hadapannya. "Ayolah, Gin. Gue pengen tiduran di kasur, nih." Rengekku pada Gina dan ia hanya mendelik kesal.
"Aduh, Gabs. Gini aja, deh, ya. Kalo lo masih kayak gitu mulai dari detik ini, gue makin lamain makan gue. Deal oke." jelasnya santai sambil mengaduk lemon tea dengan gula yang mengendap di dasar gelas tersebut. Aku memutuskan untuk bungkam dan mengerucutkan bibirku. Gina sialan. Aku ingin beristirahat di kasurku dengan nyaman, tapi ia malah menundanya dengan makan dan otomatis, aku pulang lebih lama. Well, kau perlu tahu bahwa Gina hari ini berperan sebagai supirku untuk pulang ke rumah, menggunakan mobilnya yang berwarna silver. Kami -Aku, Gina, Hanna, Sonya- akan mengadakan pesta piyama malam ini, malam minggu. Karena sebagian dari kami tidak merayakan Malam Minggu-eh, bukan sebagian, sih, tapi 3/4. Oke, aku dapat merasakan hawa Jomblo ngenes melewati leherku.
Hanna dan Sonya tidak langsung ke rumahku, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil perlengkapan mereka. Tadi kami sudah membuat kesepakatan bahwa pada jam 3 nanti, aku dan Gina akan menjemput mereka. Dan sekarang masih jam 12 siang.
Ponselku yang berada di atas meja berdering, menandakan ada telepon masuk. Aku menekan tombol hijau di ponselku, lalu mendekatkannya ke telinga kananku.
"Hallo?" Ucapku membuka percakapan.
"Dek, kamu dimana, sih?" Tanya suara di seberang sana. Aku mengernyit, lalu mengecek caller ID-nya. Aku sedikit memekik kegirangan lalu melirik Gina yang melihatku dengan tatapan aneh.
"Eh, Kak Rival!" ucapku menekankan pada kata 'Kak Rival'. Aku langsung mendengar Gina terbatuk dan ia lalu langsung menyambar lemon tea nya.
Terdengar dengusan di ujung telepon sana. "seneng banget, De."
"Pastilah! Kakak kan jarang nelpon! Tapi cewek yang ada di sebelah Gabs gak kalah senengnya nih!" Aku menjulurkan lidah pada Gina yang kembali terbatuk. Ia memberiku tatapan tajam dan menyingkirkan nasi goreng yang ada di depannya.
"Lagi sama Gina, ya?" Kak Rival bertanya sambil tertawa kecil. Akupun ikut tertawa, sambil sesekali melirik Gina yang sudah memasang wajah yang di tekuk. Gina memang menyukai Kak Rival sejak lama. Lebih tepatnya semenjak aku pertama kali membawanya ke rumahku.
Kebetulan, aku dan Kak Rival dulu satu SMA setelah pindah sekolah ini. Otomatis, Gina jadi lebih sering bertemu dengan Kak Rival. Tapi sekarang jadi lebih jarang. Dikarenakan perbedaan usia kami satu tahun, Kak Rival sekarang sudah kuliah dan tidak satu sekolah lagi denganku.
"Hehe, iya." ucapku lalu memberi jeda sebentar. "kakak kok tumben nelfon?"
"Kakak lagi di rumah."
"HAH?! BENERAN?" aku berkata setengah memekik, berhasil menarik perhatian sebahagian pengunjung cafe ini yang notabenenya adalah teman satu sekolahku.
Beruntung aku tidak populer.
"Iya. Eh udahan ya, kakak harus pergi." ucapnya terburu-buru, lalu sambunganpun terputus. Aku memasukkan ponselku ke saku, lalu menatap Gina yang sedang melihatku dengan tatapan ingin penjelasan. Aku hanya terkekeh dan duduk manis di sampingnya.
"Kasih tahu gue, ih." umpatnya sambil mengetok kepalaku dengan sendok. Aku meringis kesakitan, lalu memberikan lebih banyak jarak duduk di antara aku dan Gina. Aku diam di tempat sambil mengerucutkan bibirku.
"Ayolah, Gabs..." Pinta Gina. Aku menggeleng keras dan memilih untuk tetap bungkam. Gina membulatkan matanya geram, dan aku dapat mendengar ia menggumamkan kalimat ini, 'Gue harap gue punya kekuatan kayak Sonya.'
YOU ARE READING
Ability?
FantasyGabriella Yadhilka Aradinata, cewek cuek yang bukan siapa-siapa di sekolahnya. Punya tiga sahabat yang punya kelebihan--atau lebih tepatnya, kekuatan lebih. The Mind Reader, The Mood Changer, dan The Destroyer. Hidup mereka awalnya santai aja sebelu...
