Kenangan yang kejam

50 8 2
                                        

Aku menatap punggung tegap Kyu Hyun dari jarak yang cukup jauh. Sekedar untuk meringankan hatiku yang begitu merindukannya. Merindukan pria yang memaksaku untuk membenci dan melupakannya.
Tapi, aku tidak mampu melakukannya. Dia masih terus saja terkenang di dalam benakku.

"Waktu akan menghapus semuanya," begitulah yang mereka katakan padaku. Seolah-olah yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran.

Aku tersenyum getir, air mata bahkan sudah menggenang di pelupuk mataku.
Waktu telah berlalu, kebahagiaan yang dia berikan juga telah berlalu.
Aku juga ingin bisa melupakan semuanya, berharap semua rasa dan kenangan itu menghilang.
Namun disudut hatiku yang lain, aku masih begitu merindukannya, seperti saat ini.

"Kau masih merindukannya?" Suara itu menginterupsiku.
Aku memutar badanku kebelakang.
Dan Dong Hae tengah berdiri disana, dengan memasang senyum khas miliknya. "Sepertinya kenangan yang dia buat sangat sulit untuk di lupakan." Katanya.

Aku menunduk, menghindari tatapan mata Dong Hae.

"Kenangan itu tidak akan bisa kau rubah, meski kau berusaha keras untuk merubahnya, Ji."

Benar. Benar apa yang Dong Hae katakan. Semua kenangan itu tidak bisa ku buang, atau ku rubah. Dan itu benar-benar mempersulit hidupku.

"Kenangan bersamanya, kenangan yang dia berikan, aku ingin melupakannya, Hae.
Aku berfikir, kenangan itu tidak ada gunanya, karena hanya aku yang merasa tersiksa dengan kenangan itu.
Namun, setiap kali aku berusaha melupakan segalanya, dengan kejamnya kenangan bahagia bersamannya terus datang dan membayangi hidupku." Kataku.
Aku menyeka air mata yang tiba-tiba saja jatuh tanpa permisi.
"Tolong bantu aku melupakan kenangan yang begitu menyiksa ini, Hae." Aku masih terus menunduk, memainkan kuku ibu jari dan jari telunjukku.

"Hei. Dengarkan aku, Ji," Dong Hae mengulurkan tangannya, meraih wajahku dengan jemari besarnya, kemudian mengangkat daguku agar wajahku sejajar dengannya.
"Kau tidak membutuhkan aku untuk melupakannya, Ji. Karena di dalam hatimu, dia masih menjadi orang yang paling berharga. Kau masih sering merindukannya. Dan kenangan yang kau bilang menyiksa itu ada, karena Kyu Hyun memaksamu untuk melupakannya. Memaksamu untuk membencinya, padahal kau tidak ingin. Mungkin dia punya sebuah alasan kenapa dia melakukan ini padamu."

"Itu karena dia membenciku, Hae."

"Tapi kau tidak pernah membencinya, bukan?"

Aku menggeleng, "tidak pernah terfikir sama sekali untuk melakukan hal itu. Dan mungkin karena hal itu dia merasa muak padaku."

Dong Hae mendekat, mengikis jarak di antara kami. Menarikku masuk dalam dekapan hangatnya. Aku menyandarkan kepalaku, mencari posisi ternyaman pada dada bidang Dong Hae.
"Simpan kenangan itu baik-baik. Dan jika kau merasa merindukannya, kau boleh memperhatikan dia dari jauh seperti sekarang. Jangan pernah merasa tersiksa dengan apa yang dia tinggalkan untukmu."

"Tapi, semuanya benar-benar membuatku sulit. Aku merasa sebagian hatiku hilang saat terbangun dari tidur. Bahkan setiap aku melakukan sesuatu, bayangan ketika bersamanya selalu ada."

"Eum, oleh karena itu, simpan semuanya dalam hatimu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Jika memang dia tidak menginginkanmu, atau membencimu, maka ada takdir lain yang Tuhan siapkan untukmu.
Kau harus tersenyum, meskipun sulit."

Cruel MemoriesWhere stories live. Discover now