Hujan di awal Maret 2017 adalah hujan pertama bagi saya dengan rintikan rindu yang begitu deras menghujam ke bumi sampai menembus beberapa lapisannya. Rindu sekali dengan seseorang yang sedang bertukar pesan dan kabar dengan saya saat ini juga. Beliau adalah sosok yang selalu saya anggap teman baik terlepas dia entah menganggap saya sebagai apa. Benar sekali, dia laki-laki.
Saya tidak pernah serindu ini dengannya. Beliau adalah teman yang sejak awal kuliah dulu saya bertemu dengannya dengan penuh tekad menjadikannya seorang saingan. Entahlah, mungkin memang sudah karakter pribadi saya yang suka tantangan. Jika tidak ada tantangan maka saya yang akan membuat tantangan itu menjadi ada. Ya, semoga saya tidak dianggap sebagai orang yang suka merancang masalah.
Kenapa saingan? Beliau adalah sosok yang entah bagaimana dengan refleks saya anggap sebagai salah satu kompetitor dalam kehidupan. Maksudnya? Saya senang sekali berkompetisi dengan orang yang tepat. Dia tepat sekali orang yang di mata saya bisa dengan alami menemukan jati dirinya. Bagi saya, mereka yang menemukan jati diri adalah orang yang sangat bisa menggali dan memanfaatkan potensi diri.
Persaingan saya dan dia adalah suatu perlombaan yang saya rancang sepihak. Kebetulan kami berada dalam organisasi yang sama namun berbeda jurusan dan fakultas. Persaingan ini benar-benar hanya ada dalam benak saya. Salah satu bentuk persaingannya adalah kapabilitas. Misalnya dalam game, apabila dia sudah ada di level 3 maka saya juga harus ada di level 3, kemudian berlanjut dan berlanjut sampai sekarang bagi saya kompetisi ini belum juga menemukan garis finishnya.
Pernah satu hari saya kesal setengah mati karena saya tertinggal jauh dari dia tentunya dalam versi perlombaan rancangan benak saya. Saya marah-marah dan selalu BeTe kalau bertemu apalagi jika sedang ada urusan dengan dia. Tentu dia bertanya “Kamu kenapa?” Saya jawab apa? Akhirnya saya ungkapkan “Kamu itu saingan aku. Makanya aku kesel!”
Tentu dia bingung. Bingung sekali mungkin. “Saingan? Maksudnya?”
Saya tidak melanjutkan penjelasan tentang persaingan yang membingugkan dia itu sampai kemudian dia mengirimi saya sebuah kutipan dalam anime NARUTO, “Sungguh ironis kita memiliki beban yang sama. Sejujurnya, setiap kali aku melihatmu, aku ingin mendekat dan mulai berbicara. Aku akan mendapatkan semacam pusing karena aku merasa seperti kau mengerti aku. Tapi, aku berhenti. Alasannya, karena aku iri karena kau baik dalam segala hal. Jadi, aku menjadikanmu sebagai sainganku. Sejak saat itu, kau adalah tujuanku.” Itu adalah kalimat yang diucapkan Naruto untuk Sasuke.
Haha. Saya ingat saat itu saya tertawa terpingkal diwakili emotikon dalam ruang chat yang dengan itu pula saya menyangkalnya telak. Saya mencoba menjadikan ini benar-benar hanya ada dalam benak saya bahwa mungkin benar, saya menjadikannya sebagai saingan sekaligus tujuan. Saat itu saya benar-benar berharap dia tidak begitu mengambil perasaan apa lagi makna dari persaingan sepihak yang sudah terlanjur saya rancang dan jalan tersebut. Sampai sekarang sejujurnya saya masih berharap.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hujan ini entah bagaimana mengajak saya bernostalgia ke momen beberapa bulan yang lalu pasca lulus sarjana, kami berdua terlibat dalam project kerja yang sama. Penelitian ke suatu daerah di sudut propinsi Sumatera Utara. Entah bagaimana, beliau adalah sosok partner kerja yang bisa dengan sangat alami bersinergi dengan saya. Dia tidak banyak bicara, tidak banyak ngoceh, dan yang paling klop bagi saya adalah beliau dengan alaminya menempatkan saya dalam ruang pemandu di mana dia sebagai penasihatnya. Kala itu saya merasa kami serasi sekali.
Kenapa hujan yang membawa saya kembali mengingat masa seperti itu? Kalau saya ingat-ingat lagi, ketika kami beranjak pulang ke ibu kota menelusuri kota-kota kecil dan kabupaten di sana, hujan kerap kali turun meramaikan perjalanan. Perjalan belasan jam membuat sopir kami kelelahan di jalan. Bila bertemu dengan pom bensin, kondusif kami istirahat sejenak di sana. Saya ingat sekali, kala itu baru beberapa menit lewat tengah malam, rombongan kami berhenti di waktu gerimis. Ya, sebenarnya saya tidak tahu pasti apa itu benar gerimis atau rintikan embun menjelang pagi. Kala itu dingin sekali. Kami berhenti di kabupaten Tapanuli Utara yang terkenal dengan bukit dan cuaca dingin tentunya. Jangan harap beliau akan memberi perhatian layaknya peran-peran main male dalam drama korea apalagi telenovela. Dia hanya dengan sangat santai mengobrol dengan teman setim lainnya plus ama (bapak dalam bahasa Batak) yang jualan kopi panas di sana. Saya? Saya hanya seorang gadis yang mencoba mencari kesibukan sendiri dan menyimak obrolan hangat mereka. Kadang-kadang saya senyum, kadang-kadang dia melihat saya tersenyum.
Hujan ini mulai mereda. Rintikannya mulai halus-halus terdengar. Iramanya mulai merendah namun tetap memecah keheningan di sudut kamar saya. Rindu saya juga sepertinya mulai mereda. Mungkin nanti atau besok atau lusa akan kembali merindu dengan dia.
YOU ARE READING
Utara
Short StoryAysel Olivia adalah gadis ceria yang cenderung sulit ditebak kebanyakan orang. Aysel adalah seorang dokter gigi muda yang masih magang untuk benar-benar mendapatkan gelar dokter giginya. Aysel yang sulit ditebak itu menemukan seorang teman dalam or...
