Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Chapter 1

7.6K 640 71
                                        

Hinata menghela napas berkali-kali mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Setibanya di rumah, ia segera berlari ke kamar dan masuk ke dalam kamar mandi. Hinata berdiri di depan westafel dengan kepala tertunduk, tangannya dengan cepat membuka keran air, membuat hening yang menyelimuti ruang kecil itu terpecah oleh bunyi bising air.

Hinata baru memuntahkan perasaannya lewat isakan dan air mata setelah yakin suara tangisnya akan tersamarkan. Menangis di depan cermin westafel di dalam kamar mandi memang bukan hal yang elit maupun bermartabat bagi seorang Hyuuga Hinata. Namun menurutnya ini lebih baik daripada harus menjadi tontonan umum di sepanjang jalan karena menangisi hal yang menggelikan.

Patah hati.

Putus cinta.

"Uchiha Sasuke bodoh! Tidak tahu diri! Tidak peka! Manusia hina penuh dosa!"

Semua cacian itu berterbangan keluar dari bibir Hinata dengan mulusnya. Seperti memang setiap kata itu memang cocok dilemparkan untuk menghina sang mantan kekasih yang baru saja diputuskannya beberapa jam yang lalu.

Hinata menghela nafas panjang, ia mematikan keran air yang sejak tadi menyala kemudian duduk di atas toilet tanpa melakukan apapun. Matanya yang sembab dan memerah terarah ke bawah menatap ujung jari kakinya. Di dalam otaknya, ia mencibir mati-matian dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia bertingkah sedramatis ini hanya gara-gara seorang lelaki? Seperti Sasuke itu segalanya.

Empat tahun lewat dirinya dan Sasuke berhubungan. Dan semua itu berlalu begitu saja karena tambahan orang ketiga.

Oh sial! Mengingatnya membuat Hinata menyadari satu hal.

Bahwa ia adalah korban selingkuhan.

Sial! Sial!

..

...

..

"Hari ini kau terlihat tidak semangat sekali, sih?"

"Memang sedang tidak bersemangat," balas Hinata enteng.

"Sakit hati parahnya berkali lipat ya daripada sakit gigi?"

"Hahaha..." Hinata tertawa hambar.

Ia tahu sosok cantik hadapannya itu memang sering menggodanya. Namun sekarang ia sedang tidak ingin diajak bercanda. Suasana hatinya masih sangat buruk sejak kemarin.

Yamanaka Ino mengangkat alisnya penuh tanya melihat sikap Hinata. Jelas ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi. Dan melihat Hinata yang kali ini cenderung diam merupakan pertanda buruk baginya. Pasalnya gadis bersurai indigo yang sudah dianggapnya sebagai adik itu benar-benar bukan tipe yang bisa diam. Hinata itu gadis yang akan berceloteh banyak dan tertawa tak jelas sebagai bentuk kewarasannya.

Dan dengan itu Ino memiliki satu kesimpulan. Hinata diam berarti gadis itu sedang tidak waras.

Ino menjatuhkan bokongnya di sofa depan televisi, tepat di samping Hinata. selama beberapa detik gadis pirang itu menatap sahabatnya yang terlihat seperti kehilangan gairah hidup.

"Habis menangis, ya?" tanya Ino.

"Tidak, kok."

"Eyy... mengaku sajalah." Ino mencibir.

"Jangan berisik atau kucekik kau!"

Ino terkikik kecil. Bukan takut, ia malah senang mendengar ancaman Hinata. Kata-kata kasar dari gadis yang lebih muda dua tahun darinya itu menandakan bahwa ia belum kehilangan Hinata sepenuhnya. Hinata baru separuh tidak waras.

"Ada apa?" Ino memutuskan untuk menanyakan intinya, nadanya melembut. Disaat-saat seperti ini memang seperti sudah otomatis bagi Ino untuk bertingkah seperti sahabat juga kakak untuk Hinata.

Moving OnHistórias para pegar e não largar. Descubra agora