Prolog = Makna yang Tersela

13 1 1
                                        


Chessa melajukan langkahnya perlahan.

Beberapa kawannya tampak membuntuti pemandu darmawisata, sedangkan dirinya masih berjingkat-jingkat menjenguk lahan kecil berbunga cerah di pojok kebun. Sebuah kebun bunga besar yang menjadi tempat darmawisatanya kali ini memang memikat dengan ribuan jenis bunga lokal yang biasa dilihatnya justru menumbuhkan jemu bagi Chessa. Akan tetapi, tidak bagi lahan kecil yang kini terhampar di hadapannya.

"Bagus banget!" dia berjongkok, memainkan batang bunga kuning tersebut menggunakan telunjuk kanannya. "Aku enggak pernah lihat bunga ini di taman dekat rumah! Ini bunga apa, ya?" Chessa mengetuk dagu mungilnya. Bibir bawahnya mulai menyembul lebih kuat.

"Lho, Dik? Teman-temannya sudah menuju kebun tanaman hijau, lho. Kamu dari SD Bintang Asa, kan?"

Sebuah timbre halus mengusik telinga Chessa, membuat gadis kecil itu menolehkan kepalanya. "Oh, iya." Dia beranjak, menepuk-nepuk rok selututnya. "Maaf, Bu, ini namanya bunga apa, ya?"

Ibu bersurai kecokelatan memicingkan matanya. "Ini krisan kuning, Dik. Memang agak mirip bunga matahari, tapi menurut saya jauh lebih bagus karena warna kuningnya mencuat lebih kuat." Pengambilan napas sang ibu menjadi jeda sejenak sembari membenarkan posisi topi capingnya. "Bunga krisan ini juga mempunyai makna yang indah, lho. Kamu boleh memetiknya." 

Chessa mulai antusias, lantas memetik sebatang bunga krisan itu. "Maknanya apa, Bu?"

Ibu tersebut mengacungkan telunjuknya seraya tersenyum. "Yaitu–"

"CHESSA! Kamu ngapain di sana? Apa kamu tersasar?"

Merasa namanya disahut seseorang yang tidak asing baginya, Chessa menengadah. Lelaki sebayanya terlihat tengah berlari ke arahnya, diiringi napas yang tersengal. Lelaki yang tanpa sadar telah menyela perkataan sang ibu. "Sebentar, Ya! Aku masih ngomong sama ibu ini!"

"Ya ampun, Ches. Kamu ini udah ketinggalan. Bu Guru sampai kebingungan nyari kamu." Lawan bicaranya berkacak pinggang. "Maaf, ya, Bu, sudah mengganggu. Apakah anak ini merepotkan Anda? Saya sebagai temannya minta maaf. Permisi." Ditariknya pergelangan tangan Chessa, menjauh dari lahan pojok itu.

"Ta, tapi, Ya ...! Aku masih bicara sama ibu itu!"

"Sudah, jangan banyak omong. Apa kamu tahu, aku sangat khawatir kehilanganmu."

Deg ....

Chessa merengut. "Omonganmu sudah seperti orang dewasa saja." dengusnya agak tersipu, sedangkan jemarinya masih asyik memutar-mutar batang bunga krisan yang sempat dipetiknya. "Arya, ngomong-ngomong ... bunga ini bagus, ya. Aku suka."

"Hm?" Arya melirik bunga yang kini digenggam Chessa. "Iya, cantik. Aku terpukau, lho."

Tentu saja Chessa mengerlingkan matanya. "Tanggapanmu tidak serius, Arya."

"Aku serius, kok, Ches." Cubitan pelan dari Arya di pipi Chessa berhasil memuntahkan ringisan perempuan kecil itu. "Entah mengapa, perasaanku menjadi tenang saat melihatnya ... dan kurasa, aku akan lebih menikmati hidup jika bisa menatap lekat-lekat bunga itu di setiap waktu."


==========


Please vote and comment. My wish, you add it in your reading list.

Thank you. rifhaf_



You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 23, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ChrysantWhere stories live. Discover now