"Sial!!!"
Pekikan kecil dari gadis berambut panjang yang dikucir kuda tanpa poni untuk menutupi jidat lebarnya tengah setengah berlari saat mendapati pintu gerbang sekolahnya telah ditutup . Langkahnya semakin lebar, sesekali melirik jam tangan mungil yang melingkar ditangan kanannya.
Saat langkahnya tepat didepan gerbang sekolah dan mulutnya siap memangil pak satpam yang tengah asyik mengobrol ringan dengan guru piket hari ini terhenti . Sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya .
"Ssssttt. Diem, ikut gue !" Ucapnya sembari menarik gadis berkucir kuda itu.
Sesaat Sila. Gadis itu .Melirik seorang yang tengah menariknya itu. Seperti menyadari Sila akan mengatakan sesuatu cowo tersebut lebih dulu berbicara.
"Lo telat kan? Ikut gue aja " ucapnya tanpa menoleh pada lawan bicara dan terus melangkah. Tak mengindahkan pemberontakann Sila . Mata Sila berkeliaran liar menatap sosok cowo yang menyeretnya kearah samping sekolah. Penampilan cowo tersebut seperti anak 'nakal' . Rambutnya yang ia biarkan acak-acakan, baju seragam yang tak dimasukan kedalam celana dan semua kancing seragamnya yang ia biarkan tak terkancing itu, dan menampakan kaos putih yang ia pakai.
"Kamu mau bawa saya kemana ? Jangan macam-macam ya. Jangan culik saya"ucap Sila sembari meronta ronta ingin dilepaskan genggaman dari cowo itu yang lumayan erat.
Bukannya menjawab pertanyaan Sila. Cowo itu malah menyuruh Sila lompat melewati selokan samping sekolah.
"Ayo cepet lompat"Ucap cowo itu lalu menatap Sila yang nampak akan menjawab perintahnya.
"Lo takut? Kita lompat sama-sama"ucap cowo itu yang lagi-lagi memotong ucapan yang akan diucapkan Sila .
"Saya gak mau. Urusan bakal lebih panjang. Lagian apa urusan kamu nolongin saya. Yang ada kamu malah mencelakai saya pake ajak-ajak saya manjat pager samping sekolah."
Cowo itu berdecak lidah dan menyunggingkan senyum miringnya "Gue itung sampe tiga ya. Hitungan ketiga kita lompat"
Genggaman cowo itu semakin erat pada Sila sampai-sampai Sila meringis pelan.
"Mulai ya ! Satu..." Tangan kanan yang tak ia pakai untuk menggengam tangan sila ia letakan diudara . Sila pun melalukan hal yang sama.
"Dua..."Kedua kakinya ia tekuk setengah kebawah . Sedangkan Sila melakukan hal yang berbeda . Kaki kanannya didepan dan kaki kirinya dibelakang .
"Tiga...."Bersamaan suara lantang cowo itu. Suara ringisan keras dari Sila membuat cowo itu berbalik kebelakang. Genggaman mereka sudah terlepas. Cowo tersebut berhasil mendarat tanpa jatuh. Lain hal dengan Sila yang sebelah kakinya tepat pada kaki kirinya berada diselokan.
"Dasar payah . Siniin tangan lo"Ucap cowo itu sembari mengulurkan tangan kanannya. Namun Sila tak menghampiri tangan cowo itu .
"Gak usah sok bisa sendiri" Lalu cowo itu menghampiri Sila dan menarik lengan kanan gadis itu hingga semua tubuhnya berada dipinggir atas selokan .
"Udah ayo buru keburu nanti ada guru piket yang liat"
Saat sila akan bangkit dari duduknya kaki kirinya terasa sangat ngilu jika ditapakkan. Membuatnya meringis kesakitan. Dan ringisan itu lagi-lagi membuat cowo itu berbalik lagi .
"Kenapa ?"
"Gak tau kayaknya saya keseleo deh"
"Terus ? Gimana lo mau manjat?"
"Manjat?" Sesaat mata Sila membulat. Dugannya benar, bahwa cowo itu akan mengajakna naik tembok samping sekolah. Acara seperti itu tak ada dikamus hidup Sila, bahkan tak pernah terpikirkan dihidup Sila untuk melanggar aturan.
"Iya lah, lo takut?"
Sila pun menggelengkan kepala lalu menatap tajam cowo dibelakangnya. "Terus lo gimana?" Ucap cowo itu maju satu langkah.
"Saya pulang aja"
"Lo nekad kalo mau pulang . Jam segini biasanya banyak mata-mata suruhan sekolah kita buat mata-matain murid SMA Nusantara yang bolos . Apa lagi lo pake bed yang lengkap banget kaya gitu" jelasnya panjang lebar dan menghampiri tubuh Sila .
Saat tangannya terulur akan membopong tubuh cewe itu . Sila malah berteriak kencang . Membuat cowo itu membekap mulutnya .
"Diem elahh"
"Kamu mau ngapain ?"
"Ya gendong kamu lah, lagian pake acara jatoh segala"katanya dan bersiap menjunjung tubuh mungil Sila . Namun dengan gerakan cepat Sila bangkit sendiri dan melupakan rasa sakit dikakinya sejenak.
Langkahnya tertatih-tatih menahan sakit. Lalu berbalik dan menatap cowo itu yang kini tengah melangkahkan kakinya menuju tempatnya berdiri. "Kita seriusan bakal manjat?" Ucap Sila kemudian dan melirik sekilas tembok samping sekolah lumayan tinggi itu.
Anggukan dikepala cowo itu seolah menjawab petanyaanya tadi. Sesaat sila meneguk air ludahnya. Apakah ini memang keputusan yang tepat? Lalu bagaimana jika ia ketahuan ? Hukuman apa yang akan ia dapatkan ? Dikeluarkan ? Atau berdiri dari jam pelajaran pertama sampai pulang sekolah ditengah-tengah lapangan ?
"Udah cepet. Lo duluan yang manjat, baru nanti gue nyusul"ucap cowo itu dan meletakan anak tangga ditembok samping sekolah yang cukup tinggi itu.
Gelengan dikepala Sila membuat cowo itu menggeram dengan suara kecil. "Gak usah banyak mikir deh,Si...La"ucap cowo itu dan membaca name-tag yang terpasang dibaju seragamnya.
Dengan langkah ragu, Sila melangkahkan kakinya menuju anak tangga itu. Senyum yang terlihat samar-samar mengihasi wajah tampan cowo tersebut saat menyadari kaki Sila menapaki anak tangga. Sampai pada dianak tangga terakhir diatas sana, Sila menundukan kepalanya kebawah menatap cowo dibawah sana. Cowo itu yang mengerti akan maksud tatapan Sila, menganggukan kepalanya.
Dengan langkah ragu Sila pun terjun bebas dan mendarat dengan cukup keras. Membuatnya meringis kesakitan, karna yang mendarat terlebih dahulu bokongnya. Nyeri dikakinya belum sembuh, ditambah lagi tadi bokongnya yang mendarat lebih dulu.
Suara kedebug disamping kirinya pun membuat Sila menoleh. Rupanya cowo tadi. "Gue tebak pasti lo salah mendarat lagi kan?" Ucap cowo itu kemudian dan mengulurkan tangannya, bermaksud untuk membantunya berdiri .
Sila pun menerima uluran tangan cowo itu dan berdiri sembari membersihkan kotoran yang menempel pada rok belakangnya. "Thanks"
"Oke sama-sama, eh ngomong- ngomong lo anak jurusan apa?"ucap cowo itu kemudian dan melangkah, dibelakangnya Sila mengikuti.
"IPA 3, kalo kamu?"
"Serius IPA 3? Kok gue gak pernah liat? Gue ju-----"
"SILA, DERBY !! IKUT SAYA KE RUANG BK!!!"
Bentakan tadi refleks membuat dua insan tersebut menghentukan langkahnya. Itu suara Bu Indri, guru piket yang berjaga juga hari ini dan guru BK.
"Mampus, ini gara-gara kamu. Gimana kalo kita dihukum?"ucap Sila setengah berbisik pada cowo tersebut. Namun respon cowo tersebut hanya menggidikan bahunya, membuat Sila menghentakan kakinya kuat-kuat.
Hari ini dia benar-benar menyesal telah bertemu cowo sinting macam dia.
Bersambung....
Haloo ini cerita pertama saya .
Gimana ? Ya aku tau ini maenstream :' .
Enjoy aja yaa
Salam dari gadis berkucir kuda 💞
YOU ARE READING
About You
Teen FictionDari perasaan asing yang selalu mereka tepis ~~~~~ Kisah tentang Sila dan Derby^^^
