Love First Sight

128 39 73
                                        

"Meow." Suara itu telah datang. Suara yang selalu membangunkanku setiap pagi dari tidurku.

"Hm ... iya-iya. Aku bangun," ucapku sambil menurunkan kucing kesayanganku yang berada di perutku.

Inilah kehidupanku. Hidup dalam keluarga yang serba berkecukupan membuatku muak, aku lebih memilih untuk tinggal di apartemen milik keluargaku daripada tinggal bersama orang tua.

"Vivi ... aku berangkat sekolah duluan ya! Tadi Cristian telfon, katanya mau ketemuan," ucap Febby seraya memakan roti dengan lahap.

Febby, teman satu apartemenku. Dia punya pacar yang bernama Cristian. Entah mengapa aku agak tidak suka dengan pacarnya. Cristian selalu marah jika Febby dekat dengan pria lain. Ya, memang cemburu itu tanda cinta. Tapi Cristian tidak segan untuk memukul pria lain sampai babak-belur hanya demi Febby.

"Iya, hati-hati di jalan! Aku masih mau mandi," ujarku sambil bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.

Di kamar mandi aku hanya melamun. Aku berpikir hari ini banyak yang aneh. Dari mulai Febby yang berangkat sekolah jam 05.20 sampai saat aku masuk ke dalam kamar mandi.

Tadi ... saat aku akan masuk kamar mandi. Aku melihat di pantulan cermin ada sesosok pria yang berdiri di ujung ruang tamu.

Hm ... ini aneh, atau aku hanya berhalusinasi ya? Sebaiknya aku nanti konsultasi sama Dr. Landra.

Ya ... Dr. Landra adalah orang kepercayaan keluargaku. Biasanya jika ada anggota keluarga yang sakit, Dr. Landra selalu datang bersama kotak yang penuh dengan perlengkapan dokter.

Argh! Sampai kapan aku melamun begini? Aku harus cepat! Mudah-mudahan aku tadi hanya berhalusinasi.

***
Sekarang aku sudah berada di sekolah. SMAN 2 Bakti Ibu. Nama itu terpajang indah di depan sekolah. Aku sudah sekolah di sini kurang lebih 1 tahun.

1 tahun ... waktu yang cukup lama, tapi masih banyak yang tidak aku tahu dari sekolah ini.

"Vivi ... kamu baru dateng ya?" tanya seorang laki-laki yang berusaha menyejajarkan langkahnya denganku.

"Eh, iya. Kak Angga berangkat sendiri? Biasanya sama Eva. Eva mana?" tanyaku penasaran.

"Iya, tadi katanya Eva mau berangkat sendiri, jadi aku gak ke rumahnya untuk jemput."

Kelas Kak Angga memang satu arah dengan kelasku. Jadi kami berjalan bersamaan ke kelas. Tapi, saat di lorong aku melihat dia lagi. Dia ... laki-laki yang aku lihat di pojok ruang tamu apartemenku tadi pagi.

Kenapa dia di sini? Dan ... kenapa aku baru sadar kalau dia juga memakai seragam yang sama denganku?

Laki-laki itu memandangku dengan datar. Mata coklat terangnya seakan membiusku untuk tidak memandang arah lain. Argh ... kenapa aku ini?

"Vivi ... jangan ngelamun, aku ke kelas duluan ya! Bye ..." kata Kak Angga meninggalkanku sendiri di lorong.

Aku ingin pergi dari lorong ini. Tapi tidak bisa, badanku seakan bergerak sendiri. Aku malah mendekati laki-laki itu.

Semakin dekat, aku bisa melihat nama yang terdapat di dada kanannya. "Alfonso Agustar", nama itu terpajang indah di seragamnya.

Kenapa dia hanya diam? Dan ... kenapa dia menatapku datar? Apa dia mengenalku?

Banyak pertanyaan yang muncul dalam otakku. Tapi kenapa seakan mulutku terkunci dengan sandi yang rumit? Aku tidak bisa bertanya satu kata pun pada laki-laki yang bernama Alfonso itu.

Aku masih terpana dengan keindahan mata milik laki-laki itu. Sampai akhirnya aku bisa keluar dalam hipnotis mata coklat itu ketika dia tersenyum tipis ke arahku.

Love First SightStories to obsess over. Discover now