Broken Pieces

23 1 2
                                        

Ini adalah kisah tentang dua orang yang sama-sama pernah bahagia. Dua orang yang terlanjur jatuh terlalu dalam pada suatu jenis ilusi menyenangkan yang disebut cinta. Dua orang yang pernah terlalu bahagia hingga lupa bahwa rasa sakit yang akan ditimbulkan kelak bisa sama besarnya. Dua orang yang jantungnya pernah jumpalitan oleh alasan sesederhana senyuman, dua orang itu juga yang merasa derita mendalam saat senyum itu menghilang dan membuat jantung mereka seakan dirobek paksa dari rongga dadanya.

Ini kisah tentang dua orang yang sama-sama pernah kehilangan.

*****

Adalah Gadis yang takut mencintai.

Gadis itu pernah sangat mencintai seseorang. Genggaman hangat orang itu pernah menjadi alasan gadis itu tersenyum, sentuhan halus dapat membuatnya bahagia. Berbicara dengan orang itu merupakan hal paling menyenangkan dan suara tawanya adalah hal yang paling disukai gadis itu. Setiap tempat yang mereka kunjungi akan menjadi tempat paling istimewa dan setiap hal sederhana yang dilakukan orang itu bisa terasa sangat berharga. Mengenang orang itu dapat dengan mudah menghadirkan senyuman. Gadis itu pernah sangat bahagia.

Gadis itu membiarkan dirinya mencintai dengan sangat dalam tanpa tau orang yang begitu dia cintai itu juga adalah orang yang dibiarkannya mempunyai akses penuh untuk menyakitinya.

Gadis yang tak pernah tau betapa rapuh dan mudahnya hati untuk disakiti, dengan sukarela memberi seluruh hatinya. Hingga suatu hari orang itu memutuskan telah menemukan arti dari kebahagiaannya yang sayangnya bukan gadis itu.

*****

Adalah pria yang enggan dicintai.

Pada suatu masa dalam hidupnya ia pernah terbuai dan merasa begitu dicintai seseorang. Tak sekalipun ia merasa kurang bahagia. Saat ada berbagai kesulitan menghimpitnya orang itu akan hadir dan memberinya alasan untuk bertahan. Untuk setiap kelemahannya, orang itu akan menawarkan segalanya yang dapat menjadi kekuatan bagi pria itu. Kehadiran sederhana orang itu dapat menjadi alasan utama untuknya tersenyum. Orang itu mencurahkan waktu dan perhatiannya hanya untuk pria itu.

Pria itu merasa tenggelam dalam perasaan menyenangkan itu dengan semua hal yang diterimanya. Dia terlalu terbiasa dengan kebahagiaan instan yang selalu ditawarkan orang itu dan berpikir perasaan nyaman yang dia miliki ini adalah hal paling wajar yang memang sudah seharusnya diterimanya. Tak disadarinya bahwa alasan kebahagiaannya juga butuh mengetahui hal itu.

Saat pria itu tetap diam dan hanya mau menerima, dia tak tau bahwa orang itu sudah lelah menunggu tanpa kepastian. Dan saat segala yang bisa dia berikan untuk pria itu telah habis, orang itu juga kehilangan alasannya untuk tinggal.

Kehilangan ternyata mampu membuat pria itu kacau. Kebahagiaan yang pernah dia rasakan seolah menguap pergi terbawa angin. Ketika yang tersisa hanya sakit tak tertahankan di dadanya, akhirnya pria itu sadar bahwa orang itu begitu berarti. Dan saat kesadaran itu datang, sayangnya sudah tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membuatnya kembali.

...

Dua orang penuh luka itu sebetulnya bertemu dengan cara yang sangat biasa. Gadis itu menumpahkan kopi di kemeja pria itu pada suatu sore yang murung di depan sebuah kedai kopi. Pria itu sedang terburu-buru untuk berteduh karena hujan yang mulai turun dan kebetulan gadis itu baru mau keluar dari kedai kopi yang sama.

Sore itu dimana matahari tak cukup berbaik hati menyingkirkan awan gelap, saat hujan turun tanpa malu-malu membasahi seluruh kota. Di depan sebuah kedai kopi, untuk pertama kalinya mata dua orang asing itu bersiborok. Saat itu terjadi kedua orang asing ini menemukan sorot mata yang anehnya begitu mereka kenal. Sorot mata sendu sarat derita yang biasa hanya mereka temukan saat sedang bercermin.

Broken SoulsWhere stories live. Discover now