Prolog

18 2 0
                                        

"Permisi... permisi.." Rachel berusaha untuk sampai di barisan paling depan. Dia benar-benar sumpek sekarang, bagaimana tidak? Dimas, pacar Rachel sejak 3 bulan yang lalu belum juga kembali. Padahal Dimas tadi bilangnya hanya sebentar.

Karena sudah sangat bosan Rachel memutuskan untuk menghampiri Dimas di sana, di penjual kembang gula. Tapi bukannya bertemu Dimas, Rachel malah berdesak-desakan disini, di lapak pedagang kembang gula. 

Rachel berfikir sejenak "mungkin karena ini makanya Dimas gak balik-balik" .

Rachel melupakan kegiatan menerobosnya sejenak karena kesibukannya melamun. Tiba-tiba "Bruk>_<" seseorang menabraknya, dan itu membuat Rachel mundur kebelakang. Untung saja ia tidak terjatuh.

"eh maaf. Gue gak sengaja" sahut orang itu, sambil membungkuk sedikit.

Rachel yang melihat itu hanya diam karena ia tidak tahu mau bilang apa.

"maaf yah maaf banget" kata cowok itu lagi sambil memegang tangan kanan Rachel.

Rachel jadi risih, tapi ia masih terus saja tersenyum. dengan sedikit pelan Rachel melepaskan tangannya dari cowok itu. "gak papa kok. Gue baik-baik aja" kata Rachel menjelaskan.

Tanpa mereka berdua sadari Dimas, sedang memperhatikan Rachel dengan intens. Ada sedikit kecemburuan di hati kecilnya. Bukan karena Dimas sangat mencintai Rachel, tapi karena cowok yang menabrak Rachel itu adalah teman baik Dimas.

Ponsel Rachel berdering, tanpa berfikir panjang ia langsung mengangkat ponselnya, dan berjalan sedikit menjauh dari kerumunan itu.

"Halo Dim. Kamu dimana?" Ternyata yang menelpon Rachel adalah Dimas.

"...."

"Yaudah aku kesana yah?" 

"..."

"Aku di lapak penjual Kembang Gula" seolah-olah mencari sesuatu Rachel mengedarkan pandangannya ke segela arah.

"...."

"Ketemu!" Sahut Rachel antusias.

Dimas yang sedari tadi sudah melihat Rachel bertingkah seolah-olah baru melihatnya, ia berjalan menghampiri Rachel yang juga berjalan kearahnya. 

Rachel tersenyum begitu pula Dimas, tapi belum sampai ke tujuannya mereka berdua dikagetkan dengan suara bergemuruh dari atas langit. Mereka berdua menatap langit dalam waktu yang bersamaan. 

Berbeda dengan Rachel yang sangat serius, Dimas malah biasa-biasa saja. Dimas berjalan kearah Rachel lagi. 

Tanpa Rachel sadari Dimas sudah ada di samping, sangat dekat dengannya. Mungkin jika Dimas menghadap ke kanan, wajahnya dan wajah Rachel akan bersentuhan.

"Pulang yuk!" ajak Dimas, yang berhasil membuat Rachel kaget dan memegang dadanya.

"kamu ini, buat aku kaget saja. Sejak kapan kamu ada di sini?" bukannya merespon , Rachel malah memberi pertanyaan.

Dimas tersenyum, senyum yang membuat hati siapa saja yang melihatnya menjadi tenang. Rachel bersyukur karena Dimas hanya tersenyum seperti itu kepadanya. Sikap Dimas ke Rachel sangat berbeda dengan sikap Dimas ke temannya.

"Pulang yuk!" Dimas hanya mengulang pertanyaannya.

Rachel merangkul lengan Dimas, dan berjalan ke area parkir tanpa mengatakan sesuatu.

Dimas kembali tersenyum "Jadi beneran kamu mau pulang?" tanya Dimas

Rachel mengangguk tanda mengiyakan.

...

Sesampainya di rumah Rachel terus saja tersenyum, sampai-sampai membuat papa dan mamanya kebingungan. Rachel memang anak yang tidak banyak bicara jika tidak ditanya. 

Secretly DatingStories to obsess over. Discover now