Memori Hujan

60 10 1
                                        

Hujan masih turun. Aku tahu itu, tetapi aku tidak peduli. Ingin aku melupakannya tetapi, tidak bisa. Mana mungkin aku melupakan gadis yang kusayangi. Sambil menatap gedung yang dulunya merupakan sekolahku. Berdiri di pinggir Jalan Ir. H. Djuanda dan merupakan SMP favorit di Kota Hujan ini. SMPN 1 Bogor. Ditengah lapangan, aku berdiri menatap gedung itu. Persis 6 tahun yang lalu, aku melakukan kesalahan terbesarku. Aku menunduk, melihat refleksi diriku di genangan air. Andai saja aku bisa mengontrol diriku. Sesal memang selalu datang terlambat, dan aku menyesal kehilangan dirinya. Lalu terlintas lagi dibenakku kejadian 6 tahun yang lalu.

--

Payung hitam ditanganku, menutupi wajahku yang tertunduk. Pandanganku terus menatap pantulan diriku di genangan air. Aku masih belum bisa melupakannya, pemuda yang menjadi cinta pertamaku. Jembatan yang kulalui sekarang tetaplah ramai seperti biasanya. Jembatan Merah menjadi saksi bisu dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di kota ini. Buitenzorg, nama yang disandangnya saat pemerintahan Hindia Belanda dan tetap menjadi julukan dari kota ini selain Kota Hujan. Aku kembali mengarahkan pandanganku kedepan, teringat inilah jalan yang mengarahkanku kepada tempat itu. Jembatan ini, memang selalu menjadi saksi bisu setiap peristiwa yang terjadi di Jalan Kapten Muslihat, sekarang aku melihat kilas balik. Kilas balik dari peristiwa 6 tahun yang lalu.

--

Aku berdiri dilapangan. Langkahku terhenti karena mendengar suara yang memanggil namaku. Tetapi aku tidak bisa menemukan sosoknya dimanapun. Lalu aku merasa pusing, dan berikutnya aku tersadar kini aku sudah berdiri didepan tempat bimbingan belajarku yang terletak di Jalan Polisi 1. Aku tidak ingat bahwa aku berlari kesini. Tersadar bahwa bukan diriku yang melakukannya, aku pun tersenyum sinis. Diriku yang lain, telah mencegahku untuk menemukan seseorang yang memanggil namaku, sosok gadis mungil yang kusayangi. Gadis bernama Sera, eksistensi yang sangat kuharapkan untuk menyapaku walaupun sekedar basa-basi. Sosok yang kuharapkan menemani hari yang berarti bagiku, hari ulang tahunku yang ke 15. Entah mengapa egoku yang lain tidak menyukainya, padahal aku menyukainya. Mungkin ini hanya kebetulan, semoga saja hal ini tidak terjadi lagi.

Menyusuri koridor menuju kelas dan aku teringat hal yang membuatku terus gelisah sepanjang hari. Bagian dariku mengatakan badai akan datang. Firasat buruk menghantuiku akhir-akhir ini, aku takut sesuatu terjadi pada orang-orang terdekatku. Khawatir akan dirinya, aku terus berdoa semoga dirinya tidak mengalami hal yang buruk. Bel pun berbunyi menandakan waktu belajar tiba. Aku menuju kelas dan duduk di samping jendela, menatap jalanan dan kemudian larut dalam pikiranku sendiri. Belum 15 menit aku berada di kelas, seorang pembimbingku datang ke kelas dan memanggil namaku.

"Ares, ada yang mau bertemu denganmu. Dia ada di ruang depan."

"Oh iya," aku pun berdiri dan keluar kelas dengan malas.

Aku merasa seperti berjalan ditempat yang sangat asing. Detik kemudian aku tersadar, aku mendapatkan diriku sudah berada di ruang depan. Sekarang aku mencari sosok yang mencari diriku dan aku tidak menemukan seorang pun kecuali CS yang senantiasa berada di mejanya, tersenyum kepada setiap orang yang datang. Aku hampir saja membalikkan badan ketika aku merasa ada tangan yang menahan lenganku. Saat itu darahku mendesir melihat sosok mungil di depanku. Sera. Khawatir menyelubungi hatiku kembali. Kuperhatikan ekspresinya. Tenang cenderung datar. Jendela dunia yang terbingkai oleh kacamata dengan manik cokelat muda itu menatapku dengan tatapan polos.

"Ares."

"Y-ya? Ada apa?"

Disaat itu lidahku terasa kelu, bahkan aku sampai tergagap. Ada apa dengan diriku?

"Ini, ada hadiah. Selamat ulang tahun ya Ares."

Deg..

Apakah aku bermimpi? Dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku, ternyata harapanku terkabul. Kulihat dia mengulurkan tangannya, mengulurkan paperbag padaku.

Kumpulan Cerpen Kilas BalikStories to obsess over. Discover now