Timbul, lahir, hidup, mati, dan pudar
itulah siklus hidup manusia
Kecuali pemimpin
Faedahnya kekal kata kakek tua itu
Tanya demi tanya
Datang tiba-tiba
Gelisah di kopi merasuk kintamani
Lalu aorta membawa ke jantung
Tanyaku: apa pemimpin itu?
Lalu kulihat pohon oak
Menentang angin
Menerpa tak tumbang
Apalagi berganti haluan
kulihat pohon teh
tumbuh tak kenal lelah
Sekalipun dipetik satu demi satu berulang
Kemudian kulihat bulan
Tenang dan terang di pekat malam
Beri harapan pada situasi kelam
Tanpa mengenal siapa dan mengapa
Tanyaku lagi: apa mereka jawabannya?
Celakanya, kadang tanya datang tak beriring jawab
Lalu kutemukan pemimpin di pagi buta
Kala nelayan dalam sepi dan takut
Berkata kepada anaknya
“Nak, cuaca sedang buruk
Namun bapak tetap harus melaut
Ini semua demi sekolahmu.”
Kutemukan pemimpin di tengah hutan
Kala seorang guru berjalan lima mil
Lalu dengan sampan ia menyeberangi Kapuas
Benah peradaban bangsa katanya
Kutemukan pemimpin di gorong-gorong
Kala pemuda membersihkan bantaran
Tanpa sedetikpun sempat mengeluh
Walau lusuh, kumuh dan keruh
Kutemukan pemimpin di beranda
Kala seorang bapak pulang kerja
Bawa sebuah boneka dan sekado rindu
Untuk anak dan istrinya yang menunggu
Kutemukan pemimpin di kedai sederhana
Kala veteran berujar kepada cucunya
“Cu, Pemimpin itu pengaruh yang koma
Tak mengenal akhir dan paripurna
Ikhlas, sentosa, dan sempurna.”.
Puisi Koma
Muhammad Roby Juliansyah
Tangerang Selatan, November 2016
YOU ARE READING
Puisi Koma
PoetrySebuah sajak yang terlahir dari rahim rakyat dan tumbuh dari air susu harapan dari pemimpin.
