Teaser Pertama

22 0 0
                                        


Velis

Kubangunkan tubuhku untuk memasak telur mata sapi di dapur. Kuliah masuk sekitar jam 9-an. Hanya mataku yang masih terlihat sedikit terbuka untuk melihat ruangan. Dengan hati-hati tidak ada kendala apa-apa yang selalu menyerangku. Kesandung oleh benda-benda atau menabrak sesuatu yang tak kulihat dari pandangan. Telur mata sapi memang salah satu makanan kesukaanku, di Indonesia Ibuku yang memasak namun garing. Di London, orang memasak telur pun berbagai macam variasi. Tante Vera, yang mengajarkanku memasak telur yang begitu halus, terlihat putih telurnya yang begitu cerah dan tak ada garing dipinggirannya. Tante Vera belum ada tanda keluar dari kamarnya, kulihat dia masih memeluk guling, rambut depannya yang menutupi sebelah matanya. Aku tahu, kemarin Tante Vera pulang hingga larut malam, hingga jalanan terlihat sepi. Jika kulihat London tengah sepi, katanya kriminalitas sedang beraksi. Begitu kata temanku di London, Lucky.

Berkali-kali Ibuku pernah bilang di telepon yang sudah satu tahunnya aku disini. Belum ada rencana untuk pulang, karena aku benar-benar menikmati kota di negeri asing ini. Sampai kah bahwa aku melupakan negaraku sendiri? Kubuang pikiran itu jauh-jauh, kalau suatu saat ada waktu, aku ingin pulang. Melihat hujan lalu embun yang menempel di setiap kaca dalam kamarku. Aku sudah lama tidak melihatnya, embun yang selalu aku coret dengan tangan-tangan yang menggoresi setiap ukiran tanganku. Kadang gambar payung, atau tulisan dialog percakapan yang aku lihat di skrip film The Falt In Our Star. Film dari karya lewat adaptasi buku John Green yang sempat ku tonton lewat laptop milikku. Sendirian berada di kamar yang gelap.

"Vel. Masak?" Tante Vera mengagetkanku dari belakang.

Aku memutar-mutar telur mata sapi itu, "Iya, Tan. Gak tau kenapa lagi laper pagi-pagi."

"You can make hot tea, I want to cook now." Tante Vera mengambil alih spatula hitam dari tangan kananku. Aku melepaskannya dalam genggaman. "Hot tea will you make a good today." Tante Vera semakin menggebu untuk memasak air panas dan membuatkan teh hangat. Teh yang berbeda merek dari Indonesia. Sedikit rasa berbeda, juga ada macam rasa yang penuh di rak yang menempel di sudut dapur. Stok setiap bulan dari Tante Vera. Aku suka sekali jika melihat Tante Vera yang memakai Piyama tidur berwarna corak campuran. Kadang, aku sungguh ingin sekali punya Piyama seperti itu. Tak ada waktu untuk membeli karena jam kuliahku yang padat. Bahkan waktu main pun kadang jarang.

Teaser diambil dari Cerpen yang berjudul: Behind Window.

Cuaca Sama IITahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon