Kerap kau katakan bahwa rinduku serupa sore yang cepat terbenam
tanpa tau bahwa untuk mengelabui gelap,
dibinar matamu aku menanam setangkai senja lengkap dengan ronanya yang jingga
kita rawat, dan kita besarkan dengan pertemuan yang semakin hari semakin sering kita tautkan
Kelak, ia akan mengakar di pipimu, menjadi penyerap rintik yang mengguyur dari matamu
Lalu berbunga di keningmu, dan mekar sebagai tempat aku mensujudkan kecupku
Sesekali ajak ia bermain d pelataran bibirmu
tempat kau melekukan senyum yang tak pernah bisa ku taklukkan.
Nanti, saat sore mulai bergulir di langit barat
dan kau sedang tidak sibuk menunggu kabar dari laki-laki lain yg pernah kau anggap dekat,
sempatkan mengintip senja yang mulai berkecambah di matamu
sesekali, ajak ia duduk berdua saja menikmati hujan di kursi beranda
katanya, ia suka suara rintik dan aroma tanah basah
sama seperti suara tawamu saat sedang menjelajah di linimasa
melihat potretmu sebagai tautan seorang laki-laki yang tidak kau anggap siapa-siapa
katanya, ia juga suka wangi buku yang kau baca saat penantian mulai membuatmu resah
sesekali melipat halaman dan mengintip layar handphonemu yang menyala
"Hanya lelaki bukan siapa-siapa", katamu dengan raut kecewa.
(Sorebahtera)
