"Kilaa!"
Suara seorang cewek yang sedang teriak dari balik pintu kelas segera lari tergesa-gesa menghampiri Kila yang asik duduk sendirian di ruangan kelas.
Dan dia adalah Nessa, sahabat Kila dari SD.
"Lo bisa nggak sih, nggak usah pake acara teriak-teriak segala?!"
cetus Kila dengan nada sedikit tinggi.
"Yah abisnya lo pake acara galau mulu, emang lo lagi ada masalah apaan Kil?" tanya Nessa dengan penuh selidik.
"Engga, gue nggak kenapa-napa kok." jawab Kila asal dengan sedikit senyum dibibirnya.
"Yaudah kita ke kantin aja yuk?" ajak Nessa dengan penuh semangat sembari menarik-narik lengan Kila.
"Hem yaudah deh" Kila hanya menjawab dengan raut wajah datar.
Kila dan Nessa pun berjalan menelusuri beberapa kelas untuk menuju ke kantin. Tapi seketika itu juga langkah mereka terhenti saat Ari muncul didepan mereka.
Ari adalah sahabat baik David. Kemanapun itu mereka pasti selalu bersama. Seperti adik dan kakak hehe.
"Tumben lo sendiri Ri. Emangnya David sahabat lo itu kemana?" tanya Nessa pada Ari.
"Nggak tau tuh David main ninggal-ninggalin gue aja. Mungkin lagi ada urusan tuh sama guru BP." celetuk Ari panjang lebar.
Wajah Kila yang tadinya agak sedikit malas, sekarang berubah jadi khawatir saat mengetahui David berhadapan sama guru BP. Guru yang sangat galak dan nggak punya tandingan.
David adalah cowok yang super cuek. Dia paling nggak suka sama cewek yang kecentilan. Untung gue biasa aja hehe. Apalagi yang suka caper depan anak-anak sekolahan, duhh alergi pokoknya.
Tapi biar gimana pun Kila tetep suka sama spesies cowok kayak David. Eh. Karena menurut Kila walaupun David itu cuek tapi dia tetap kelihatan cool.
Kila termasuk cewek yang nggak punya nyali buat nyatain perasaan duluan ke cowok, jadi dia memilih untuk memendam perasaannya terhadap David.
"David ada masalah apa sampe masuk ruang BP segala Ri? tanya Kila dengan wajah cemas.
"Elah lo khawatir Kil?" Ari memasang wajah datar, namun suaranya terasa bergetar.
"E-enggak kok, gue biasa aja tuh." Kila menjawab dengan spontan sembari menetralkan wajahnya yang cemas agar terlihat datar kembali.
"Ooh, itu tadi pagi tuh anak telat dateng sekolah, terus ketahuan dia lagi lompat pagar." jelas Ari sambil terkekeh.
"Ooh gitu, yaudah deh kita duluan ya, Ri."
Kata Kila sambil melambaikan tangan ke arah Ari dan kemudian segera meninggalkannya.
Kila dan Nessa hanya berlari-lari kecil menuju kantin agar tetap membeli makanan, karena 10 menit lagi bel tanda selesai istirahat akan berdering.
Semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing untuk melakukan proses belajar mengajar seperti biasanya.
Setelah bel pulang sekolah, semua siswa segera bergegas menyimpan alat tulis mereka.
"Woi yang piket hari ini jangan pada kabur!" teriak Nessa pada seluruh siswa kelas IX-4.
"Sorry banget Ness, gue nggak bisa piket hari ini, soalnya gue harus nemenin nyokap gue belanja, biasalah." jawab Tina terkekeh sembari berlari ke arah pintu luar.
"Elah tiba piket gini aja, semuanya pada kabur. Dasar!" celetuk Nessa dengan nada sedikit kesal.
"Hem sini Ness gue bantu biar cepet, sebagai sahabat yang baik gue mah nggak mungkin biarin lo piket sendirian." Kila mengambil sapu dari tangan Nessa dengan wajah menahan tawa karena melihat sikap Nessa yang dari tadi memarahi seisi kelas nggak jelas.
Nessa berdehem "Atau lo ada maunya kali?" selidik Nessa kemudian terkekeh.
"Hem entar sore lo dateng ke rumah gue ya. Ada yang mau gue ceritain." suara Kila terdengar sangat pelan.
"Okee bos" jawab Nessa singkat.
15.25 WIB
"Kilaaa!" teriak Nessa didepan rumah Kila.
"Iya, bentar bentar." sahut Kila dengan nada sedikit tinggi dari dalam rumah. Kemudian berjalan ke depan dan membukakan pintu.
"Wihh bawa apaan lo? Asikk kayaknya ada harum-harum martabak. Lo tau aja gue paling doyan nih makanan." Kila bergegas mengambil bungkusan martabak dari tangan Nessa. Kemudian mereka berjalan menuju ruang tamu.
Di rumah ini, Kila hanya sendirian karena orang tuanya sedang bekerja.
"Ness sebenarnya ada yang mau gue omongin."
Kila menunduk karena ragu ingin mengatakannya kepada orang lain.
"Yaelah omongin aja kali Kil, lo kayak nggak tau gue aja. Tenang rahasia lo gue jaga." sikap Nessa sangat bersemangat untuk mendengarkan sahabatnya berbicara.
"Se-sebenarnya gue suka sama David Ness. Tapi lo tau sendiri kan dia orangnya gimana. Jangankan jadi teman, hampir tiga tahun di sekolah yang sama aja nggak pernah bertegur sapa. Gue cuma berani mandangin dia dari jauh doang. Lihat dia seneng sama temennya aja gue udah bersyukur. Tapi setelah gue perhatiin, akhir-akhir ini dia lagi deket sama Niki. Kayaknya nggak ada harapan sedikit pun buat gue Ness." jelas Kila mengutarakan isi hatinya.
"Gue ngerti Kil, tapi lo tau sendiri Niki itu gimana. Cantik, pintar, jago main gitar, rambut pirang, famous. Siapa sih yang nggak suka sama dia? Menurut gue sih wajar aja David bisa tertarik sama dia. Tapi lo harus tetep semangat Kil, lo nggak boleh putus asa gitu aja. Lo harus berjuang." ucap Nessa tersenyum manis sembari menepuk bahu Kila.
- - -
"Anak-anak sekarang kita latihan futsal, cepat ganti baju dan turun ke lapangan bawah. Saya tunggu." ujar Pak Arso guru olahraga yang sedikit galak.
"Siap, iya pak" seluruh siswa kelas IX-4. menjawab dengan nada serentak.
Setelah semua siswa berada di lapangan, ketua kelas langsung mengambil alih barisan. Dan kemudian mulai melakukan pemanasan.
"Baiklah semua siswa lari keliling lapangan sebanyak 5 kali." ucap Pak Arso.
Seluruh siswa akhirnya lari mengelilingi lapangan.
"Eh Kil, tuh ada si David" bisik Nessa sambil melempar pandangan ke arah David dan Ari.
Jantung Kila berdetak sangat cepat, dia terlihat sangat gugup ketika Ari dan David menghampirinya.
"Hai Kila, kok lo nggak ikutan lari?" tanya Ari kepada Kila, tetapi Kila tak sedikitpun menggubris pertanyaan Ari.
Sesekali Kila melirik ke arah David yang tengah berdiri di samping Ari. Mampus kepergok nih. Ternyata David juga sedang melirik ke arah Kila, namun David hanya diam dengan pandangan seperti sedang bingung.
"Woi" suara Ari menyadarkan Kila dari tatapannya.
"Eh iya, i-ini juga gue mau lari kok." Kila gelagapan menjawab pertanyaan Ari.
"Oh yaudah, kita ke kelas dulu ya Kil, bye. Cabut Dav." Ari hanya tersenyum kemudian menepuk bahu David dan kemudian berjalan meninggalkan Kila. Lagi-lagi Kila hanya bisa menatap kepergian David. Hufft.
Bel istirahat berdering.
"Ke kantin yuk Kil." ajak Nessa
"Yaudah, gue juga belom makan nih. Laper. Hehe." Kila terkekeh.
Akhirnya mereka berjalan menuju kantin dan dengan cepat memesan makanannya.
Tiba-tiba David dan gerombolan anak IX-6 datang dan duduk di meja pojok kantin.
Kila terus menatap wajahnya dan sesekali ikut tertawa kecil.
"Udah, jangan diliatin terus Kil, entar kesambet baru tau rasa lo." celetuk Nessa sembari menjitak jidat sahabatnya itu. Terkadang Nessa jadi gemas sendiri melihat tingkah Kila yang mulai curi-curi pandang. Ckck.
VOUS LISEZ
The Reason
Roman pour AdolescentsKila adalah seorang perempuan yang memendam perasaan suka selama bertahun-tahun terhadap David. David yang selama ini Ia kagumi, yang selama ini terus Ia perhatikan. Tetapi malah membuat Kila merasa terpuruk dengan sikap David yang sangat dingin kep...
