PROLOG

130 18 5
                                        

Disuatu cafe, ada seorang wanita yang sedang berkutat dengan macbook nya. Wanita itu terlihat serius dengan jari jari lentik nya yang menari nari di atas keyboard. Sesekali ia meminum coffee nya yang diletakan diatas meja. Wanita itu memakai pakaian santai, yaa ala ala anak remaja.

Disisi lain, ada seorang pria yang sepertinya dari tadi mengamati wanita itu. Pria berkulit putih dengan switer biru muda yang duduk di kursi dengan jarak yang lumayan jauh dari wanita yang tengah di perhatikan nya. Pria ini sesekali menutup wajahnya dengan buku menu ketika wanita tersebut tak sengaja melihat sekitar. Hmm, sepertinya wanita itu merasa diperhatikan olehnya.

"Oh Rafa! Apa yang kamu lak--" seseorang mengejutkannya dan ucapannya terpotong.

"Ssstt.." pria yang dipanggil Rafa ini meletakan jari telunjuknya di bibir. Tanda supaya seseorang itu memelankan suara nya.

Orang itu mengerti dan memelankan suaranya "Apa yang kamu lakukan?kenapa wajahmu ditutup oleh buku menu ini?" katanya seraya melirik buku menu yang dipegang Rafa.

Rafa menggeleng "bukan apa apa. Aku hanya sedang ada urusan Jery." Rafa sesekali melirik wanita yang di perhatikan nya, untuk memastikan bahwa ia tidak pergi.

Jery mengangguk paham "baiklah, kalau begitu aku kembali bekerja ya?"

Rafa menahan Jery yang akan hendak pergi "Ah jery! Apa kamu mengenal wanita itu?" tanya Rafa sambil melirik wanita yang masih memainkan laptop nya. Jery ikut melirik wanita itu dan mengembangkan senyumnya.

"Aku kenal. Dia Indri Aruna. Setiap minggu, ia pasti selalu kesini. Dan memesan coffee kepadaku. Jadi, itu yang membuat aku lumayan dekat dengannya."

Rafa menyunggingkan senyum manisnya.
"Indri Aruna?" gumam nya.

Jery mengangguk "iya, oh aku tahu! Kamu naksir sama Indri ya? Tanya Jery dengan senyum jahil nya.

Semburat merah terlihat di pipi Rafa. "Enggak kok. Udah ah sana kamu kerja lagi. Eh, omong omong makasih ya atas info nya" ucap nya sambil mendorong pelan bahu Rafa.

Jery terkekeh geli melihat kelakuan sahabat nya ini. "Iya sama sama. Yaudah aku kerja lagi ya, bye!" Rafa mengangguk lalu ia bangkit dari duduk nya. Rafa memutuskan untuk menghampiri Indri, karena dipikir pikir mau sampai kapan Rafa memperhatikan Indri dari jauh. Mengajaknya berkenalan itu lebih baik bukan?

Rafa menghampiri Indri dan berdiri dihadapan Indri dengan senyuman lebarnya. Indri hanya mengerutkan dahinya lalu menaikan salah satu alisnya. Indri memasang tatapan..

Mau ngapain lo?

Atau..

Siapa lo?

Begitu lah arti tatapan Indri.

Nyali Rafa sedikit menciut saat ditatap seperti itu. Ia ragu ragu apakah ia berani mengajak Indri berkenalan?apa lebih baik Rafa kabur saja?

Oh tidak tidak! Jika Rafa kabur, itu lebih lebih lebih memalukan lagi. Ntar yang ada Rafa disangka orang gila.

"Emm.."Rafa menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal "boleh duduk disini?" Rafa menggigit bibir bawahnya, ia takut jika ditolak Indri.

Huft.. Rafa itu cupu sekali. Masa ngajak cewek kenalan aja gak berani? Bahkan dia takut jika ditolak duduk dihadapan Indri! Gimana kalo mau ngelamar si Indri ini mah. Udah mati berdiri kali si Rafa.

Indri melihat sekitar cafe. Perasaan meja kosong masih banyak. Halah! Ketauan banget modus nya. Tapi kasian juga kalo ditolak. Kayaknya berharap banget ini orang.

"Hmm. Duduk ya duduk aja." ucap Indri dengan nada yang datar. Indri kembali melanjutkan kegiatannya.

Dengan ragu ragu Rafa duduk dikursi hadapan Indri. Lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya diatas meja. Rafa menatap Indri yang sedang sibuk dengan laptopnya. Kali kali senyuman manis terukir di bibir Rafa.

Indri terusik saat merasa diperhatikan oleh orang yang duduk di hadapannya ini. Dengan malas ia melihat Rafa "kenapa?"

"Boleh kenalan?"

Indri mengangguk malas

Rafa menjulurkan tangannya mengajak Indri berjabat tangan "aku Rafa Nathaniel." ucap Rafa tanpa melunturkan senyumannya.

Indri terdiam dan menatap tangan Rafa sebentar lalu membalas tangan Rafa. "Indri Aruna." setelah itu, dengan cepat Indri melepaskan tangannya yang bersentuhan dengan Rafa. Lalu Indri kembali melanjutkan aktivitas nya.

Rafa semakin mengembangkan senyumnya. "Ternyata begini rasanya ngajak kenalan sama cewek cantik" gumam Rafa sambil menopang dagu nya kembali dan menatap Indri.

Merasa mendengar sesuatu, Indri melirik Rafa "apa?" tanya Indri yang dibalas gelengan oleh Rafa.

Satu jam berlalu. Diantara mereka belum ada yang memulai percakapan. Dari tadi mereka hanya sibuk masing masing. Indri yang sibuk dengan laptopnya. Dan Rafa yang sibuk memperhatikan Indri. Walau Indri sedikit risih diperhatikan terus oleh Rafa, tapi ia tidak terlalu memperdulikannya.

Ya, sudah satu jam Rafa memperhatikan Indri dari jarak dekat. Rasanya, ia tidak pernah puas. Bahkan bila Rafa disuruh menggambar wajah Indri, ia pasti bisa menggambarnya dengan sempurna.

Oh iya, juga ada satu hal yang membuat Rafa terpesona. Saat memperhatikan Indri, ia tidak sengaja melihat Indri tersenyum kecil dan terlihat jelas di sebelah kedua sudut bibir Indri, ternyata ada lesung pipi. Ya Tuhan, Indri adalah wanita ter-manis cantik dan ter-manis yang pernah Rafa lihat! Setelah bundanya tentunya. Wanita tercantik pertama yaitu bunda nya. Dan wanita tercantik kedua yaitu Indri, wanita yang batu dikenalinya, wanita yang mengalihkan perhatiannya, dan wanita yang berada tepat di hadapannya.

"Indri, kamu manis ya?" Indri sedikit terkejut saat tiba tiba Rafa berbicara seperti itu.

"Lo suka sama gue?" tanya Indri sedikit ragu.

"Iyaa!" seru Rafa dengan senyuman lebarnya.

"Lo cinta sama gue?" tanya Indri tanpa ragu, karena Indri pikir Rafa itu hanya bercanda untuk menyairkan suasana. Jadi tanpa ragu Indri menanyakan hal bodoh itu.

Dan diluar dugaan Indri, Rafa mengangguk semangat. "iyaa. Kamu wanita tercantik kedua setelah bunda aku."

Indri tersentak saat mendengar pengakuan Rafa. Indi terdiam beberapa saat. Ntah kenapa Rafa terlihat gugup sekarang.

"Emm.. Kamu mau jadi pacar aku?" dengan ragu ragu dan tangan gemetaran Rafa menanyakan hal itu. Rafa menunduk, ia benar benar belum siap jika Indri menolaknya.

Kini Indri sangat terkejut mendengar ucapan Rafa. Indri terdiam, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Indri membuka suaranya "umur lo berapa?"

Rafa yang menunduk, mengangkat kepalanya untuk melihat Indri dan mengerjapkan matanya. "Emm.. 25"

Indri menarik nafas lalu menghembuskan nya. Ia sudah memikirkannya matang matang, bahwa di umurnya yang sudah mau menginjak kepala tiga ini tidak pantas untuk bermain main dalam hubungan, yaitu pacaran. Ia sudah matang untuk ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu pernikahan. Jadi, Indri memutuskan untuk...

"kita nikah aja."

...menikahi Rafa.

°°°

Halo 🙌

Ini cerita pertama aku. Jadi maaf kalo kata kata nya masih berantakan, jalurnya kurang jelas atau kecepetan :v

Kasih saran dan masukan ya. vote dan komentar nya juga.

Makasiih~

-flatqueens-

World Upside DownWhere stories live. Discover now