Prolog : Dev,Pangerannya Nayra

840K 30.3K 3.2K
                                        

Anak laki-laki itu hanya diam memperhatikan Mamanya yang asik berceloteh

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.


Anak laki-laki itu hanya diam memperhatikan Mamanya yang asik berceloteh. Dan Papanya yang meski jarang menanggapi tapi memperhatikan kata demi kata yang keluar dari mulut istrinya yang tidak berhenti membicarakan tentang sahabat lama mereka yang akan mereka kunjungi.

"Iya paah anaknya tuh lucu banget,cantik, ya ga heran sih soalnya Si Rena kan juga masih keturunan jepang pasti nurun Mommy nya yaa hihihi" Sang Mama terkikik seperti remaja "eh tapi Alfredo ga kalah cakep sih,dulu aja Mama kalo gak cinta mati sama papa duluan pasti mau deh nerima Alfredo. Secara kan dia lebih baik,sabar,perhatian. Ga kaya papa yang dingin kaya es."

"Ma.. " sang suami memperingatkan. Matanya yang tadi bersinar lembut kini berkilat tajam.

"Eh iya yaa. Iya jadi gitu Nayra ini udah kelihatan banget cantiknya Pah walaupun masih 5 tahun. Anaknya yang pertama si Nauval juga ganteng tapi masih gantengan Devano sih,coba aja anak kita ga nurun kamu yang irit ngomong."

"Anak laki-laki gak perlu wajah rupawan Ma,kalau dia bisa punya otak pintar ,banyak uang dan kekuasaan." Sang Papa menimpali. Yang dihadiahi pukulan di lengannya oleh sang Mama.

Devano tidak menunjukkan ekspresi apapun atas perbincangan orangtuanya. Dia hanya diam dikursi belakang sambil mendengarkan.

Mereka memasuki gerbang rumah yang lumayan besar. Cukup asri dengan taman yang tertata rapi. Kediaman keluarga Hansen memang kalah mewah dengan keluarga Cromwell tapi rumah ini terasa hangat. Sepasang suami istri telah menyambut mereka di depan pintu. Kedua orang tua Devano turun. Dan Devano menolak tegas ketika Mamanya akan membantunya turun dari mobil. Dia merasa bukan anak kecil lagi dan merasa heran saat diusianya sudah 7 tahun mamanya selalu memperlakukannya layaknya anak 3 tahun.

Sepasang suami istri itu saling bersalaman dan berpelukan. Melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Dan disaat itulah Devano melihat seorang gadis kecil yang berlarian dari dalam rumah sambil sebelah tangannya menenteng lollypop besar.

"Mommy.." panggilnya pada sang Ibu. Mata polosnya mengawasi orang-orang asing yang datang kerumahnya.

"Nay sayang, Mommy bilang didalam saja. Diluar dingin sayang."

"Pi Nay ndak mau tinggal baleng kak Opal. Kak Opal nakal." adunya pada sang Mommy dengan bahasa cadel khas anak 5 tahun.

Disaat itulah anak laki-laki seumuran Devano berlari kencang dari dalam rumah dan menubruk sang adik. Lollypopnya jatuh kelantai dan hancur berkeping-keping.

"Yah jatuuh hehehe." Nauval berlari lagi kedalam dengan tawa jahil karena telah berhasil lagi mengusili adiknya yang cengeng.

"Daddyyyy..." jerit Nayra setengah mengadu. Pipi gembul nya telah bersimbah air mata melihat Lollypop pemberian Daddynya berantakan dilantai. Alfredo berusaha menenangkan putri kesayangannnya sambil membawa para tamu-tamunya masuk dan mempersilahkan mereka duduk.

Dan lagi. . Devano hanya menyaksikan semuanya dalam diam.

Tapi saat semua orang duduk dan Fania,mamanya lagi-lagi mencoba membantunya duduk di sofa Devano menolak. Dia tidak mau duduk.

Bocah laki-laki itu malah memutari meja dan menuju single sofa yang di duduki Alfredo. Semua orang menatap heran aksi anak itu.

Saat sampai didepan Alfredo,Devano mengulurkan sebelah tangannya. Gadis mungil yang sedari tadi duduk di pangkuan sang Ayah sambil menangis itupun terdiam lalu menoleh memandang bocah laki-laki didepannya. Air mata masih mengalir di kedua matanya,bibir merahnya masih mengeluarkan isakan kecil.

Devano menangkup pipi Nayra. Menghapus air mata yang tidak berhenti mengalir di kedua pipi gadis itu. Dan ucapan yang keluar dari mulut Devano membuat semua orang dewasa disana menganga,termasuk Fania. "Gaboleh nangis. Nanti Dev belikan lollypop."

"Benel? Yang banyak?" Tanya Nayra polos disertai isakan kecil yang diangguki oleh Devano dengan anggukan mantap. Gadis mungil itu turun dari pangkuan Daddynya. Mendongak memandang Devano yang lebih tinggi darinya.

Ia meneliti Devano yang terus memandangnya . Saat ia memutuskan akan mempercayai anak laki-laki di depannya,ia memeluk Devano dengan erat. "Ken. Pangelan belbie." Gadis kecil itu beteriak girang.

Devano mengurai tangan mungil itu. Melepaskan pelukan Nayra yang memandang heran padanya.

"Bukan Ken tapi Dev,pangerannya Nay."

Mulai saat itu Devano,anak yang masih berumur 7 tahun berjanji dalam hati tidak akan membuat malaikat cantik di depannya itu menangis. Malaikat yang telah membuatnya merakasan kepemikikan saat melihatnya pertama kali sambil menenteng sebuah lollypop. Nayra Venesia Hansen.

Darkladyhoo penulis yang selalu bermimpi menjadi putri dongeng.

DEVNAY (Telah Terbit)Donde viven las historias. Descúbrelo ahora