Hanya butuh waktu untuk memahami semua perkataannya. Dan sayangnya aku tidak mempunyai waktu untuk melakukannya.
Aku menatap mata hazel wanita itu lekat-lekat, berharap menemukan kebohongan di dalamnya. Dia balas menatapku. Tatapan teduhnya itu. Ingin rasanya aku menjerit, agar dia menghentikan perbuatannya yang menyiksa itu.
Karena tatapan itu aku tak pernah bisa menebak isi pikirannya.
Dan karena tatapannya itu aku jatuh dalam pesonanya.
Di mata itu. Sayangnya yang kutemukan hanyalah sebuah keyakinan.
"Kurasa ini kesempatan terakhir yang kita punya"
Suara itu. Suara lembut itu membuyarkan lamunanku. Aku menundukkan kepalaku kembali, memegang Yuujinchou yang kini tergenggam erat di tangan kiriku. Aku hanya bisa berharap luka di pelipis kanannya hilang hingga aku bisa kembali menatap wajah cantiknya dengan lebih leluasa. Luka itu menggangguku. Sungguh.
"Haruskah?," ucapku lirih, bahkan hampir saja tak terdengar. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya kembali, "Haruskah kau melakukannya? Kau tau? Itu dapat membuatㅡ"
"Aku terbunuh?"
Kedua alisku terangkat, tanda aku tak memahami isi pikirannya. Gadis ini.
Aku tak percaya.
Dia. Si gadis misterius. Pemberani. Rela mengorbankan nyawanya hanya untuk sebuah tugas.
Bodoh.
Benar-benar gadis bodoh.
Dia tersenyum. Cantik.
"Tak apa. Sepertinya sekarang aku akan menepati janji terakhirku, benar begitu?,"
Dia mengulurkan tangan kanannya yang berlumuran cairan berwarna merah pekat. Matanya mengatakan bahwa dia sangat lelah. Tubuhnya ingin mengakhiri semuanya dengan cepat.
Tetapi sebenarnya perjalanan gadis itu baru saja dimulai. Dan cepat atau lambat dia akan lebih sering bermandikan darah.
Dan bodohnya aku menyambut uluran tangannya dan berkata, "Kuharap begitu"
***
YOU ARE READING
Ingenity Hunter
FantasyWhen the first snow fell, it was also bloodshed occurred. +lowercase intended Copyright 2017© by Sena Cover • [Nuhessho]
