Pertemuan Kembali

491 43 10
                                        

EnJoy ...

Angin malam berhembus menggoyangkan rating-rating pohon disekitarnya, rintikan air hujan menjatuhi bumi, bulan dan bintangpun tak nampak. Gelapnya malam dan semua suasana yang terjadi saat ini tak menyurutkan niatnya malam ini, berbekal keberanian, harapan dan doa di tangan. Sungmin melangkah mulai membuka kenop pintu dihadapannya, gerakan tangannya untuk mendorong daun pintu itu terhenti ketika sang anak memanggilnya dengan panggilan yang tak pernah Sungmin duga sejak dulu, meski panggilan itu sudah mengalun indah dari sang anak sejak 5 tahun yang lalu.

"Mommy ...," panggil Sandeul -anak itu pelan dengan suara seraknya, bola mata indahnya memerah efek bangun tidur. Sepertinya Sandeul terganggu dengan derit pintu yang sungmin buka, pintu rumahnya memang sudah tua, bahkan engselnya pun sudah sangat tua, bergerak sedikit saja akan timbul derit suara dari pintu itu.

Sungmin menghela nafas sambil tersenyum manis, ditutupnya kembali daun pintu tua rumahnya itu perlahan meski tetap saja menimbulkan suara, lalu menghampiri Sandeul yang sedang duduk di atas pembaringannya, mulut kecil anak berusia 5 tahun itu menguap sementara tangan kanannya digunakan mengusa-usap matanya yang masih mengantuk.

"Iya sayang~ kenapa bangun?" Sungmin berjongkok menyamai tinggi pembaringan Sandeul, tangannya membantu mengusap-usap mata Sandeul.

"Mommy mau kemana?" tanya Sandeul mirip seperti bisikan namun dari jarak sedekat ini Sungmin dapat mendengarnya.

Sungmin tersenyum, masih dengan mengusap mata anaknya itu. "Mommy tidak kemana-mana sayang, tadi Mommy hanya menutup pintu," elak dan jawab Sungmin sekenanya.

Sandeul mengangguk tanpa bertanya macam-macam lagi, membaringkan tubuhnya kembali di atas pembaringannya, sedikit menggoyangkan kepalanya ke arah kiri dan kanan mencoba mencari kenyamanan di atas bantal tipisnya. Matanya masih sangat mengantuk, seharian bermain dengan Baro; teman barunya dari Seoul di sekolah membuat tubuhnya sedikit lelah, walau tak ia pungkiri teman barunya itu sangat menyenangkan.

Sungmin tersenyum seraya mengusap helaian rambut hitam anaknya dengan sayang. Sandeul kembali tertidur dengan pulasnya, perlahan Sungmin mengecup kening Sandeul lembut selama beberapa detik. Kecupan sayang itu terlepas, mata Sungmin memerah menahan rembesan air yang siap jatuh hanya dengan satu kali kedipan mata.

Sandeul, anaknya yang sangat disayanginya adalah alasan satu-satunya alasan dia bertahan hidup. Hidupnya sejak 6 tahun lalu yang sudah hancur. Tak pernah lagi dianggap sebagai anak oleh kedua orang tuanya sendiri hingga di usir dari tempat satu-satunya ia berteduh. Di jauhi teman-teman SMA-nya. Bahkan tak hanya itu, mereka memandang dengan jijik Sungmin hanya karena satu alasan, 'bagaimana pula seorang pria bisa hamil dan diperparah sebagai korban pemerkosaan seseorang tak bertanggung jawab' semenjak saat itu Sungmin menganggap hidupnya tak lagi berguna. Sempat niatan untuk bunuh diri terlintas dalam fikirannya. Namun, Karena anak yang ada dalam kandungannya, Sungmin buang jauh-jauhn niat buruknya itu. Mencari tempat tinggal baru jauh dari keramaian Kota, meskipun tempat tinggalnya yang sekarang bahkan tak dapat dikatakan layak untuk di tinggali. Meskipun begitu Sungmin mampu bertahan bahkan hingga saat anaknya itu terlahir dan tumbuh besar, mengisi hari-harinya dengan canda, tawa, cemas, takut, semua rasa dalam benaknya bercampur menjadi satu setiap kali memikirkan atau-satunya orang yang membuatnya bertahan hidup, mampu melupakan semua kenangan buruk nan pahitnya dulu.

oOoOoOoOoOo

Langkah kaki pelannya di jalan sepi itu yang mengisi keramaian dalam pendengarannya. Jaket tebal berwarna putih dengan bulu domba di bagian dalamnya melindunginya dari terpaan angin malam, payung ditangannya yang tersibak menutupi kepalanya sesekali hampir terdorong kebelakang akibat terpaan angin.

Prayer Accompanist SinWhere stories live. Discover now