Setidaknya, terima kasih untuk tetap bertahan.
***
Karena hingga kini aku tak pernah mengerti bagaimana bisa kau memiliki hati sedingin es.
Ruangan dengan tembok bercat putih serta aroma obat-obatan yang menyengat itu mungkin adalah saksi bisu betapa kejam hidup sesungguhnya.
Ya setidaknya itu gambaran yang mungkin terasa tepat untuk menggambarkan bahwa ambang hidup dan kematian bisa terasa amat tipis.
Setidaknya untuk saat ini hanya itu yang bisa terpikirkan oleh pemuda dengan tinggi menjulang yang saat ini tengah berdiri dengan tubuh beku di ambang pintu masuk, sembari mencengkram erat bungkusan berisi makanan kesukaan seseorang yang saat ini memenuhi setiap sudut didalam otaknya.
Sahabatnya.
Atau mungkin, lebih dari itu.
Ada jeritan pilu yang tak tertangkap oleh pendengaran. Tak ada isakan atau pun tangisan namun jelas kedua onix hitam itu mulai berkabut. Langkah gontai dia tapaki tanpa menghiraukan beberapa seruan panik yang merambat ke gendang telinganya.
"Apa yang terjadi?" pertanyaan itu terlontar dengan nada pelan nyaris seperti bisikan.
Hening.
Tak satu pun dari 3 orang suster serta satu orang perempuan berjas dokter yang mau memberinya jawaban. Meski sesungguhnya, ia tak membutuhkan jawaban untuk mengerti keadaan yang saat ini terjadi.
"Katakan padaku apa yang terjadi!" Seharusnya itu terdengar seperti bentakan. Tapi dirinya sendiri paham dari pada bentakan, nada yang ia keluarkan lebih terdengah seperti rintihan putus asa.
Perlahan kaki itu melangkah mendekat, menyisakan sedikit jarak diantara ia dengan pemuda yang saat ini tengah terbaring dengan wajah dua kali lipat lebih pucat dari yang terakhir kali ia lihat.
"Yoona, katakan padaku apa yang terjadi. Bukankah..... bukankah kondisinya sudah jauh lebih membaik?"
Yoona berbalik hanya untuk mendapati pemuda tinggi dihadapannya tegah menatapnya dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diartikan. Namun siapa pun tau, ada binar ketakutan dibalik onix coklat miliknya. Ada gemetar yang berusaha ia sembunyikan.
"Changmin," Yoona hanya memandangnya sekilas sebelum kembali berbalik menghadap ranjang dimana seseorang terbaring dengan berbagai alat medis yang melekat pada tubuhnya.
"Katakan padaku!"
Lee Changmin, menatap lekat pada beberapa suster yang saat ini tengah menempelkan beberapa alat medis pada tubuh sahabatnya. Seakan tak cukup dengan beberapa alat medis yang sebelumnya sudah tertempel pada tubuh kurus itu.
Ada amarah yang terpercik dari balik tatapan rapuhya. Ada beban yang memenuhi setiap jengkal tubuhnya hanya dengan melihat betapa ringkih sahabatnya saat ini.
"Kondisinya memburuk."
Changmin memejamkan kedua matanya, merasa lelah dengan keadaan seperti ini. Ia jelas dapat menangkap getar dalam suara Yoona yang merupakan dokter yang menangani sahabatnya beberapa tahun belakangan ini.
"Aku mohon lakukan apa pun. Kau harus menyelamatkannya."
Aku pernah berharap bahwa akan ada waktu dimana kebahagiaan bukanlah hal yang akan sulit untuk kau temui.
Changmin membuka kedua onix hitamnya, ia mengalihkan tatapannya pada Yoona. Ada nada penuh permohonan dalam bisik parau suaranya. Ada ketakutan dan harapan yang besar dalam lontaran setiap katanya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Gwaenchana ; CKH [Private/Revisi]
Fanfic!! REVISI [Privated on some chapter] Copyright®2017 by yptripark_ Publish Started [17012017] Cover by Sun1396. Gwaenchana ; CKH : Because I Need You. Aku belajar banyak tentang sebuah kehilangan. Mencari jejak diantara beribu bayangan luka masa lalu...
![Gwaenchana ; CKH [Private/Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/96668580-64-k46459.jpg)