Ini adalah malam tergelap yang pernah Lea temui. Tak ada bintang atau bulan yang menemani. Gelap pekat memeluk dirinya yang sendiri di tempat yang tak ia kenali. Namun, kobaran api mewarnai kanvas hitam yang tercipta malam ini. Suara dentingan pedang mengalun bak melodi dari berbagai penjuru arah. Kikikan kuda mengiringi raungan makhluk hidup yang sarat akan rasa pedih dan amarah. Tubuh-tubuh tak berjiwa pun kini tumbang di tanah berlumuran darah.
Tempat ini ... seperti neraka.
Dada Lea seketika sesak. Ia tak sanggup melihat semua pemandangan mengerikan yang ada di sekitarnya. Tangan gadis itu pun bergerak menutupi lubang telinga, mencegah suara-suara mencekam ini masuk dalam indera pendengarannya.
Ini semua terlalu mengerikan baginya.
"Pergi dari sini."
Suara dingin nan menusuk itu membuat kepala Lea terangkat. Manik cokelatnya langsung tertuju pada seorang gadis tinggi berbalut gaun putih panjang dengan dasar berkilauan yang menutupi hingga jemari kakinya. Pandangan mata mereka bertemu dan Lea langsung menyadari bahwa apa yang ia lihat bukanlah sorot bersahabat. Matanya yang menatap tajam itu membuat Lea bergidik takut.
Tanpa pikir panjang, Lea mundur langkah per langkah. Menuruti perintah gadis yang tak ia kenali itu karena tak ingin celaka. Namun, gerakan itu terhenti bersama napas Lea yang tertahan kala gadis bergaun putih itu mengangkat tangannya, menciptakan percikan-percikan yang membentuk entah itu api atau listrik berwarna biru, Lea tak tahu dan tak mau tahu. Instingnya berkata ia harus pergi. Sekarang!
"PERGI!"
Kelopak mata Lea terbuka lebar. Kerongkongannya tercekat. Tarikan napasnya terasa begitu berat. Debaran jantungnya pun berpacu dengan cepat. Sinar dari monitor laptop yang masih menyala menyilaukan retina mata gadis itu. Ia melirik jarum jam yang menunjukkan pukul dua pagi lewat beberapa menit. Lea mendesah, lagi-lagi ia tertidur di meja belajarnya.
Tangan kurus gadis itu mengambil sebotol air mineral dan langsung meneguknya hingga tandas. Ia menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Lea menyeka peluh dingin yang ada di dahinya seraya memandangi langit-langit kamar temaram yang hanya diterangi oleh lampu belajar di mejanya.
Ia menghela napas pelan. Setidaknya sekarang degup jantungnya sudah lebih normal dibanding tadi, tapi tetap saja, bayang-bayang mimpi itu tak bisa lepas dari pikirannya.
"Lagi-lagi mimpi itu."
Pandangan gadis berponi itu beralih ke layar laptop yang menunjukkan dokumen Microsoft Word yang sempat ia ketik sebelum jatuh tertidur tadi. Ia membaca beberapa kalimat yang ia tulis sebelumnya, kemudian rasa resah membuncah.
"Kenapa lo selalu masuk dalam mimpi gue? Lo sekarang hanya tokoh fiksi yang gue ciptakan. Lo cuma imajinasi gue."
Apa kau berpikir aku benar-benar hanya imajinasimu?
Suara itu terdengar jelas, namun hanya dalam kepala Lea dan hanya ia yang bisa mendengarnya.
==========
A.N:
Holla!
Jadi ini adalah cerita pertama gue yang bergenre fantasi. Dan yang lebih spesialnya lagi karya ini gue lakukan secara kolaborasi dengan rekan jauh, nurislamiahs
I hope you enjoy it and don't forget to give voment💛
First published:
01-01-19
YOU ARE READING
LORITZ
FantasyNamanya Lea. Leana Kamarae. Seorang penulis yang mendapatkan imajinasi dari mimpi-mimpinya. Bagi Lea mimpi adalah perjalanan gratis yang ia dapatkan ketika tidur. Ia bisa berkelana kemana saja, bertemu siapa saja, dan melakukan apa saja. Hingga kemu...
