Prolog

13.6K 130 5
                                        

Plakk... Genggaman tangan Eka mendarat tepat di bahu Gusti.

"Ngintip kau ya!" Ujar Eka menyaksikan Gusti yang sedang meletakkan bola matanya, di antara sela lubang kunci toilet wanita.

"sssttt..." Desis Gusti menatap Eka, memberi kode agar tidak bersuara, tidak segampang itu perguso, sontak Eka mendorong tubuh Gusti hingga terjatuh. Brruukk... "ihhh... lho jail ya, engak bisa liat orang senang aja" celetus Gusti rada kesel menatap Eka dari lantai yang telah merampas lubang kunci yang belum puas iya nikmat.

"ya gantian dong, guekan mau liat juga, ahhh naikkk...naaiikkk, uuhhhuu mulussss, montokssss" Desah Eka sambil menjulurkan lidahnya seperti ular yang siap memangsa.

"ya udah! gantian!" sahut gusti bangkit dari lantai sambil berusaha meraih dan menyingkirkan eka dari lubang kunci.

"ahhhhh... bentar" Balas Eka mesum. Terjadilah aksi tarik-menarik diantara mereka berdua sperti Medan maknetik yang berada di pusat lubang kunci toilet wanita.

"Dasar otak mesu!" Celetus Ruklin sembari berjalan memasuki toilet pria, aku hanya geleng-geleng kepala menyaksikan dua orang sahabatku tarik-tarikan rebutan lubang kunci. Lalu aku mengikuti Ruklin ke toilet untuk buang air kecil.

"Besar ya." Ujar Ruklin melirik kearahku yang sedang buang air kecil.

"Anjirr... dasar gay." Jawabku sambil mendorong pinggang lebih dalam ke tempat pembuangan air kecil.

"Bukan anu mu, dengar tuuu..."

Seeerrrrrttt....... Suara dari toilet sebelah yang sedang buang air kecil.
Seeerrrrrtt... Putt...puuttttttt...

"Apa tu?" Respon Ruklin terkejut mendengar keanehan dari suara tersebut.

"Hahahaha ada ujungnya." Sambarku sambil tertawa terbahak-bahak keluar dari toilet, aku baru tahu, ternyata wanita kalau lagi buang air kecil ada bonusnya, kayak supermarket lagi promo, beli dua gratis satu. Ruklin ikut tertawa lepas, bukan hanya karena suara aneh tersebut, ditambah lagi melihat Gusti yang sedang kejang-kejang seperti kecoak kebalik di lantai. Tawakupun semakin pecah. Tapi yang anehnya si Eka tidak sadar temannya udah kejang-kejang dilantai, noh dia masih asik menikmati lubang kunci. Untung aja tawa kami yang pecah menyadarkan si-Eka.

"Lho kenapa gus" sahut Eka cengengesan sambil memutar badan melirik keaharah Gusti. Bukannya panik, ehh si-Ekanya malah ikutan ketawa, kurang ajar ya kami, temen kejang-kejang malah di ketawain.

Kreekkk... Surat pintu toilet wanita berbunyi, sontak membuat kami lari terbirit-birit seperti dikejar hantu. Setibanya kami di koridor sekolah dengan sisa tawa dan nafas yang belum beraturan.

"Untung aja kita ngk ketahuan." Ucap Eka membuka pembicaraan sambil tertawa kecil menahan perutnya.

"Emgnya siapa tadi ka?" Tanyaku sambil mengatur kembali nafas yang ngos-ngosan.

"Ibuk Rika." Jawab Eka dengan santainya.

"Haaaa!" Sambar Ruklin terkejut panik. Gimana engak panik cobak? Buk Rika itu terkenal Guru paling kiler di sekolah ini setiap siswa yang bermasalah dengan dia, dipastikan nyawanya tidak akan lama lagi di sekolah ini. Makanya enggak ada seorang siswapun yang ingin berurusan dengannya. Meskipun dia termasuk Guru paling modus di-sekolah, bayangin aja, tubuhnya yang tinggi, bodynya yang seksi seperti gitar spanyol, kulitnya putih mulus seperti mihun rebus, ditambah lagi bibir merah tipis dan rambut ikal yang menambah kemolekan tubuhnya, mirip seperti artis india. Tapi tetap aja walaupun cantik MENAKUTKAN. "Gilaa kalian yaa, kalau ketahuan gimana!" Sambungnya lagi semakin panik.

"Santai aja engak bakalan ketahuan. Ibuk tu kan engak tau kalau Kita ngintip." Ujar Eka sambil menepuk lembut bahu Ruklin, membuat hati Ruklin yang sempat risau menjadi damai kembali.

5 menit kemudian....

Suara toa sekolah terdengar nyaring-mendenging memanggil nama kami bertiga. "Sultan Andre, Eka Putra Hutama, Ruklin Zega" di panggil menghadap ke ruangan majelis Guru sekarang!"  Tapi kami tidak menghiraukan panggil tersebut, maklum nama kami sudah biasa menjerit-jerit di toa sekolah. Sampai berulang kali toa sekolah berbunyi memanggil nama kami bertiga membuat hati Ruklin kembali gelisah, "gimana ni woy?" ujar Ruklin gelisah, gimana enggak gelisah cobak yang awalnya nada toa terdengar merdu seketika berubah menjadi cempreng seperti kenalpot preng. Aku jadi ikutan gelisah seperti Ruklin, tapi si-Eka masih tetap aja santai, seperti tidak melakukan kesalahan apapun, 'yang berbuat orang lain tapi kok kenapa malah kami yang panik ya?'.

"santai aja, jangan tegang gitu dong, Yang ngintip gue kok malah kalian yang tegang" Sahut Eka yang masih sempat-sempatnya becanda di situasi seperti ini. "udah ayok, kayak ngk biasa aja kalianpun" sambungnya lagi santai sambil meraih pundak kami mengawali langkah kami menuju majelis Guru. "atssssss... tunggu dulu" sahutku menghentikan langkah kami. "Gusti mana?" sambungku melihat ada yang kurang diantara kami. Biasanya kalau kami menghadap selalu ber-empat, tumben-tumbennya kami cuma bertiga.

"udah ayok, kan yang panggil cuma kita" sambungnya lagi sabari merangkul bahu kami berdua, lalu kami melanjutkan langkah menuju majelis Guru.

Setibanya kami di majelis Guru. Kami sempat terkejut melihat buk Rika membesarkan bola matanya-menatap kami di saat langkah terakhir kami memasuki ruangan majelis guru.

"Apakan ku bilang." Ucap Ruklin sambil merapatkan giginya melihat Gusti yang sudah duduk manis di sebelah buk Rika.

"Ehhhhhh... Mau kemana?" Ujar buk Rika bangkit dari tempat duduknya menghampiri kami yang ingin memutar badan melarikan diri. "Sini-sini... dekat ibuk, ketawa lagi kuy, jangan malu-malu."

"Hehehehe Ibuk bisa aja." Sahut Eka cengengesan.

"Ketawain apa sih tadi Samapi kejang-kejang gitu. Kelihatannya seru deh!" pertanyaan horor buk Rika sambil mengelilingi kami satu persatu.

"Eng-gak ada buk." Jawabku sedikit menggigil ketika jari lentik buk Rika mendarak lembut di daun telinga kananku.

"Engak ada kok samapi keringat dingin sih." Bisik halus buk Rika sambil mengusap butiran air keringat di keningku. Aku hanya terdiam kaku tanpa sepatah kata apapun. Untung buk Rika tidak lama berada disebelahku, melainkan sekarang dia sudah berpindah kesebelah Ruklin, akhirnya hatiku sedikit lega.

"kok kamu keringatan juga sih Ruklin? Panas ya?" Ujar buk Rika menghampiri Ruklin yang ada disebelahku, namun Ruklin ikut terdiam kaku sepertiku. "Tadi ibuk dengar ketawa kamu yang paling besar" Sambarnya lagi sambil mebelai lembut bahu Ruklin, Sontak membuat badan Ruklin bergetar hebat, sehingga seisi ruangan ikut tergoncan seperti layaknya sedang dilanda Gempa Bumi. Meskipun seperti itu, Ruklin tetap diam dan membisu. Sampai akhirnya buk Rikapun berpindah kesasaran terakhirnya.

"Mata kamu cantik ya Eka" Sindir buk Rika membuat Eka yang awalnya Santai menjadi kiku, aku tidak tau jelas apa yang dirasakan Eka, tapi aku bisa memastikan dari raut wajahnya seperti orang yang hampir kecelakaan maut Shock.

"Kalian berempat Ibuk skors satu Minggu!" Ucapnya tegas-membuat kami terkejut. Gimana enggak terkejut coba, baru hari pertama di kelas XII udah kenak skors.

"Serius ni Buk kami di skors?" Tanya Gusti memastikan perkataan yang di lontarkan Buk Rika.

"Apa! Mau di tambah lagi hukumnya?"

Horee libur... Spontan kami berteriak bersamaan membuat Buk Rika terpelonggo melihat kami riang gembira menerima hukuman.

"Makasih ya buk." Ujar Gusti sambil menggapai tangan buk Rika menyalamnya. Kamipun mengikutinya satu-persatu. Lalu meninggalkan ruangan majelis Guru.

"Foursome" Teriak buk Rika beberapa langkah kami meninggalkan majelis Guru.

To be continued


See you too morrow😘

FoursomeWhere stories live. Discover now