Prolog

1.1K 81 0
                                        

"Abi masukin kamu sekolah formal ya? Katanya kamu mau masuk universitas itu, 'kan?" tanya sang Ayah kepada sang anak lelakinya, Zahid.

Sang anak mengangguk, lalu berucap, "Abi, kalo adek gimana? Sekolah formal juga kaya abang, 'kan?"

"Coba tanya adek dulu, mau apa enggak. Mumpung masih libur. Adek mana, bang?" tanya Hafidz, sang ayah.

"Adek lagi di kamar, mau abang bilangin?" tawar sang anak.

"Boleh." angguk Hafidz.

Zahid pun mengangguk kemudian ia berjalan ke lantai dua, bermaksud untuk menanyakan hal itu.

Ia pun mengetuk pintu dan memanggil adiknya, "Lul, buka pintunya, abang mau nanya."

"Buka aja bang, ga dikunci." jawab Alula sedang tiduran di kasur sambil memainkan handphonenya dengan rambut yang masih berantakan. Zahid berdecak sebal, kebiasaan buruk adiknya masih saja dibawa sampai ke rumah.

"Dek, kebiasaan deh kamu. Rapiin dulu. Cewek masa kaya gitu!" omel sang abang, kesal.

"Mager, hehehe. Kenapa, bang?" tanya Alula berusaha mengalihkan fokus abangnya.

"Rapihin dulu!" sentak abangnya lagi. Dengan sigap, Alula langsung merapihkan rambut dan tempat tidurnya. Seusainya, ia langsung terduduk di kasur.

Ih si abang mah mirip banget kaya Umi. batin Alula.

"Udah kan, udah?" ujar Alula sambil mendelik sebal. "Kenapa? Abang mau tanya apa?" tanya Alula lagi.

"Abang mau pindah ke sekolah formal. Kamu mau ikut, ga? Abi tadi nanyain." jelas Zahid.

"Mau, mau, mau! Tapi... kok abang mau pindah?" tanya Alula lagi.

"Abang mau masuk ke universitas yang abang incer." jawab Zahid sambil tersenyum ke adiknya itu.

"Oh.. Abang gamau masuk Al-Azhar? Bunda 'kan alumni sana." ujar Alula lalu menunduk sedih. Kenapa pada saat ini ia harus merindukan bundanya?

Dengan sigap, Zahid memeluk Alula. "Lul, Abang tau kamu kangen sama Bunda. Tapi Bunda bisa sedih kalo kamu terus-terusan kaya gini." ucap Zahid sembari mengelus pucuk kepala Alula yang basah sehabis keramas.

"Iya bang, makasih ya." ucap Alula lalu melepaskan pelukan. "Jadi, kita bakal belajar di sekolah formal? tanya Alula sambil menaikkan setengah alisnya.

"Iya. Tapi abang takut deh."

"Takut kenapa? Bukannya sekolah formal itu asyik, ya?"

"Kamu kata siapa?"

"Itu di TV, kayanya enak. Tapi abang takut kenapa?" tanya Alula penasaran.

Zahid menghela napas panjang, lalu menatap ke sembarang arah. "Abang takut kalo hapalan 30 juz yang abang punya buyar semua, na'uzubillah."

Alula menatap ke arah abangnya, mencoba mengerti ketakutan abangnya karena selama ini abangnya benar-benar pandai menjaga hapalan Qur'an. Berbeda dengan dirinya, ya walaupun hanya berbeda 5 juz saja.

"Abang pasti bisa kok ngejaga hapalan. Lula yakin abang pasti bisa. Yang penting... abang rajin muroja'ah." saran Alula sambil mengusap punggung abangnya, berusaha menghiburnya.

"Yaudah, abang bilang ke Abi, ya." ujar Zahid menuju lantai bawah, tak lupa ia kembali menutup pintu kamar adiknya. Selagi Zahid berjalan, sementara Alula memandangi langit-langit kamarnya seraya berucap,

"Emang rasanya jadi anak SMA, gimana sih? Ah ga sabar." gumamnya lalu ia kembali memainkan handphonenya.

Happy reading! Jangan lupa vommentnya. Aku punya new story yaitu "HOPE", dan cerita itu new version. Udah berapa kali rombak.

Tertanda,
K-ZA
❤❤❤

Imperfection (COMPLETED)Where stories live. Discover now