Chapter 1

95 7 5
                                        

Suara tapak kaki yang merambat dalam heningnya malam seharusnya tidak dapat terdengar oleh siapapun. Tapi kata siapapun itu tidak berlaku bagi Pasukan Halley yang sedang bertugas kali ini.

"Sstt..." Seorang laki-laki yang memakai jaket bomber navy mencolek pada bahu orang di belakangnya. Matanya berkata bahwa mereka harus berpindah dari tempatnya bersembunyi saat ini.

Di sisi lain, satu-satunya anggota perempuan dari Pasukan Halley berjalan terus dengan cepat mengejar bayangan yang dia yakini sebagai si target.

"Wind, kau menemukan targetnya?" tanya seseorang dari jauh, mengontrol pergerakan Pasukan Halley menggunakan radar dan earphone wire-less.

"Iya. Aku—"

Ting!

"Diam atau peluru ini bersarang pada kepala kalian!" Sosok yang dipanggil Wind tadi menodongkan air gun nya pada arah jam sebelas. Setelah itu terdengar beberapa bunyi gerakan pistol Pasukan Halley yang lain.

"F*ck! Kita tidak bisa kabur!" gerutu salah satu dari target Pasukan Halley. "Jika saja kau tidak menjatuhkan paku itu—"

"Aku tidak akan menjatuhkannya kalau kau tidak berjalan terlalu dekat denganku!" bisik lawan bicaranya dengan penuh penekanan.

"Ku beri kesempatan bagi kalian untuk menyerahkan diri."

Dua orang itu saling menatap satu sama lain. Setelah berdiskusi melewati bahasa mata, mereka mengambil kuda-kuda untuk berlari.

"Satu, dua, tiga!"

DOR!

DOR!

- - -

"Kau mengenalnya?"

Joshua menatap teman perempuannya itu. Teman seperjuangannya dalam melakukan misi memberantas jaringan peredaran narkoba internasional yang tergabung dalam Pasukan Halley. Dia seorang perempuan yang cantik dan manis, jika saja seragam pasukan khusus dan pistol bukanlah teman hidupnya.

"Hwayong-ah, jawab aku."

Hwayong menatap lamat-lamat si pasien yang merupakan targetnya tadi. Pelurunya tadi menancap tepat pada betis kanan si pria berjaket biru, pria yang terbaring di hadapannya sekarang. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya yang berisi peluh.

"Ya," jawab Hwayong singkat.

"Siapa dia?"

Hwayong membalikkan badannya dan menatap Joshua yang memandangnya dengan ekspresi keingin tahuannya yang membuncah-buncah. "Aku akan mandi dulu. Nanti akan ku ceritakan padamu." Setelah berkata demikian, Hwayong berjalan keluar ruangan dan disusul oleh Joshua.

- - -

"Americano? Oh, ayolah aku tidak menyukai baunya!"

Joshua dan Jihoon terkekeh. Mereka sudah mengetahui apa reaksi Hwayong jika mereka meminum Ice Americano saat bersamanya.

"Kemarilah," panggil Joshua sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya yang kosong. Saat ini mereka sedang berada di balkon kamar hotel Hwayong. Menikmati setetes dari hasil kemenangan mereka hari ini.

Hwayong menggelengkan kepalanya. "Tidak, kalian berdua bau kopi."

"Baiklah kalau kau ingin berdiri saja, tidak apa-apa." Jihoon menaikkan salah satu kakinya ke atas bangku.

Dengan terpaksa Hwayong berjalan menuju bangku itu dan duduk disana bersama kedua temannya. "Cepat habiskan minuman itu," ujar Hwayong dengan ketus. Mendengar suara Hwayong yang seperti itu, Joshua dan Jihoon langsung menegak habis tanpa sisa minuman mereka dan melempar gelas sekali pakainya pada kaleng sampah di ujung balkon.

ZingWhere stories live. Discover now